telkomsel halo

CFP dan Amartha bagikan lima tips investasi bijak di tengah pasar dinamis

05:49:00 | 14 Jul 2026
CFP dan Amartha bagikan lima tips investasi bijak di tengah pasar dinamis
JAKARTA (IndoTelko) - Minat masyarakat terhadap investasi terus meningkat seiring kemudahan akses melalui platform digital. Namun, di tengah dinamika pasar yang masih berlangsung, investor diimbau tetap mengedepankan pengelolaan keuangan yang sehat serta memilih instrumen investasi sesuai tujuan dan profil risiko.

Certified Financial Planner (CFP) Lolita Setyawati mengatakan, pola pikir investor saat ini mulai bergeser. Jika sebelumnya banyak investor mengejar keuntungan jangka pendek, kini semakin banyak yang mempertimbangkan transparansi pengelolaan dana, tingkat risiko, serta kesesuaian investasi dengan tujuan keuangan mereka.

Selain mengejar potensi imbal hasil, sebagian investor juga mulai memperhatikan bagaimana dana yang mereka investasikan disalurkan. Salah satu pilihan yang mulai dilirik adalah investasi yang terhubung dengan sektor riil, termasuk pembiayaan produktif bagi pelaku UMKM.

Menjawab kebutuhan tersebut, Amartha menghadirkan Amartha Prosper melalui produk Grassroots Growth Series (GGS). Platform ini memungkinkan masyarakat berinvestasi sekaligus mendukung pembiayaan produktif bagi UMKM perempuan yang tersebar di lebih dari 50.000 desa di Indonesia.

Chief Funding Officer Amartha Julie Fauzie mengatakan, kondisi pasar yang dinamis membuat masyarakat perlu semakin selektif dalam memilih instrumen investasi.

“Melalui Amartha Prosper, masyarakat dapat berinvestasi sekaligus mendukung pembiayaan sektor riil, khususnya UMKM perempuan di perdesaan. Selain berpotensi memperoleh imbal hasil, investasi ini juga memberikan dampak ekonomi yang lebih luas dan inklusif,” ujarnya.

Bersama Lolita Setyawati, Amartha membagikan lima prinsip yang perlu diperhatikan sebelum mulai berinvestasi.

Langkah pertama adalah memastikan kondisi keuangan pribadi telah sehat. Investor disarankan memiliki arus kas yang baik, cicilan yang terkendali, serta dana darurat sebelum mengalokasikan dana untuk investasi.

Menurut Lolita, investasi sebaiknya menggunakan “uang dingin”, yakni dana yang tidak akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan pokok dalam waktu dekat.

Selanjutnya, investor perlu memahami tujuan investasi dan profil risiko masing-masing. Setiap orang memiliki kebutuhan yang berbeda, mulai dari dana pendidikan, pensiun, hingga menjaga nilai aset dari inflasi. Karena itu, keputusan investasi tidak seharusnya didasarkan pada tren atau kekhawatiran tertinggal dari orang lain.

Hal lain yang tidak kalah penting adalah memilih produk investasi yang legal dan memiliki mekanisme pengelolaan yang jelas.

Lolita menekankan prinsip “legal dan logis” sebagai dasar memilih instrumen investasi. Investor perlu memastikan produk berada di bawah pengawasan regulator sekaligus memahami bagaimana dana dikelola serta sumber potensi imbal hasilnya.

Dalam Amartha Prosper, tersedia beberapa pilihan profil investasi, yakni Balanced-Flex, Balanced, Progressive, dan Dynamic yang dapat disesuaikan dengan karakteristik serta preferensi risiko investor.

Ia juga mengingatkan bahwa investasi tidak harus dimulai dengan modal besar. Yang lebih penting adalah membangun kebiasaan berinvestasi secara konsisten sesuai kemampuan finansial.

Selain mempertimbangkan potensi keuntungan, investor kini juga mulai memperhatikan dampak sosial dari penempatan dana mereka. Investasi yang mendukung pembiayaan produktif UMKM dinilai mampu memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas selama investor memahami mekanisme, risiko, serta legalitas produk yang dipilih.

Julie menambahkan bahwa modal yang disalurkan kepada UMKM dapat membantu pelaku usaha mengembangkan bisnis, meningkatkan pendapatan keluarga, hingga membuka lapangan pekerjaan baru.

Selama lebih dari 16 tahun, Amartha telah menyalurkan pembiayaan kepada lebih dari 4 juta UMKM perempuan di wilayah perdesaan dengan total penyaluran modal melampaui Rp47 triliun.

Sejak diluncurkan pada Januari 2026, Amartha Prosper mendapat respons positif dari investor ritel sebagai alternatif diversifikasi investasi di luar instrumen konvensional.

Menurut Julie, pembiayaan produktif UMKM merupakan pilihan investasi jangka menengah hingga panjang yang sejalan dengan kebutuhan pengembangan usaha masyarakat.

GCG BUMN
Data Amartha juga menunjukkan bahwa sepanjang 2025, UMKM binaannya berkontribusi menciptakan sekitar 90.000 lapangan kerja baru melalui perekrutan karyawan pertama, dengan sekitar 86 persen di antaranya merupakan perempuan. Capaian tersebut memperlihatkan bahwa investasi berbasis pembiayaan produktif tidak hanya menawarkan potensi imbal hasil bagi investor, tetapi juga mendorong pemberdayaan ekonomi masyarakat secara berkelanjutan. (mas)

Artikel Terkait
Rekomendasi
Berita Pilihan
More Stories