telkomsel halo

Biosolusi berpotensi sumbang ekonomi RI US$2,23 miliar di 2035

05:57:00 | 05 Nov 2026
Biosolusi berpotensi sumbang ekonomi RI US$2,23 miliar di 2035
JAKARTA (IndoTelko) Biosolusi dinilai berpeluang menjadi salah satu penggerak pertumbuhan ekonomi Indonesia menuju visi Indonesia Emas 2045. Berdasarkan laporan The Value of Biosolutions: Growth and Prosperity Indonesia Edition, sektor ini berpotensi menghasilkan nilai ekonomi US$2,23 miliar pada 2035.

Laporan yang diluncurkan di Jakarta pada 28 Oktober 2026 itu menyoroti pemanfaatan sumber daya hayati untuk mendorong pertumbuhan industri, menciptakan lapangan kerja, serta memperkuat ketahanan pangan dan energi nasional.

Dari sisi penyerapan tenaga kerja, studi tersebut memperkirakan jumlah lapangan kerja di sektor biosolusi dapat meningkat hampir tiga kali lipat hingga 2035. Setiap pekerjaan baru di sektor ini juga berpotensi mendukung terciptanya 3,8 pekerjaan tambahan di sektor ekonomi lainnya, terutama pertanian dan sistem pangan. Angka tersebut hampir 60% lebih tinggi dibandingkan rata-rata global.

Potensi itu dinilai sejalan dengan agenda pembangunan jangka panjang Indonesia serta penyusunan peta jalan bioekonomi nasional oleh Kementerian PPN/Bappenas. Biosolusi juga berpeluang mendukung diversifikasi energi, transformasi industri, peningkatan investasi, dan penerapan ekonomi sirkular.

Deputi Bidang Pangan, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan Hidup Kementerian PPN/Bappenas Leonardo A.A. Teguh Sambodo mengatakan, pemanfaatan sumber daya hayati dapat membantu Indonesia mencapai kemakmuran ekonomi sekaligus menjaga lingkungan dan memperkuat ketahanan nasional.

Menurut Leonardo, kolaborasi pemerintah, industri, akademisi, dan mitra pembangunan menjadi faktor penting untuk mengoptimalkan potensi bioekonomi Indonesia.

Dari kalangan industri, Country Manager Indonesia Novonesis Yonny Setiady menambahkan bahwa biosolusi dapat meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber daya, memperkuat ketahanan pangan dan energi, serta mengurangi emisi. Dengan dukungan kebijakan yang tepat, sektor ini berpotensi mempercepat pertumbuhan ekonomi dan menciptakan lapangan kerja berkualitas.

Selain peran pemerintah dan industri, laporan tersebut menekankan pentingnya kerja sama internasional. Duta Besar Denmark untuk Indonesia, Timor-Leste, Papua Nugini, dan ASEAN Sten Frimodt Nielsen menyebut pengalaman Denmark dalam pengembangan teknologi enzim, fermentasi, dan bioteknologi dapat menjadi referensi bagi Indonesia dalam membangun industri berbasis hayati.

GCG BUMN
Laporan tersebut diluncurkan melalui kegiatan yang mempertemukan pembuat kebijakan, pelaku industri, peneliti, dan mitra pembangunan. Acara itu diselenggarakan bersama oleh Kementerian PPN/Bappenas, Novonesis, dan Kedutaan Besar Denmark di Indonesia. (mas)

Artikel Terkait
Rekomendasi
Berita Pilihan
More Stories