JAKARTA (IndoTelko) Amartha Financial memperkuat pembiayaan produktif bagi perempuan pelaku usaha di perdesaan untuk mendorong pertumbuhan UMKM dan membuka lapangan kerja. Selain akses modal, perusahaan mengandalkan pendampingan usaha dan perluasan akses pasar guna meningkatkan pendapatan keluarga serta memperkuat ekonomi komunitas.
Langkah tersebut menyasar perempuan yang berperan dalam rantai pangan, mulai dari produksi hingga distribusi. Data Food and Agriculture Organization (FAO) Perserikatan Bangsa-Bangsa menunjukkan perempuan menyumbang sekitar 41% tenaga kerja pertanian global. Sementara itu, di Indonesia, sekitar 14,8 juta perempuan bekerja di sektor pertanian hingga Februari 2025, mencakup tanaman pangan, hortikultura, dan perkebunan.
Meski memiliki kontribusi besar, perempuan pelaku usaha di sektor tersebut masih menghadapi keterbatasan akses permodalan, literasi digital, serta risiko perubahan iklim yang dapat memengaruhi produktivitas dan pendapatan.
Founder dan CEO Amartha Financial, Andi Taufan, mengatakan perusahaan berupaya memperkuat ekosistem UMKM melalui pembiayaan, pendampingan, dan dukungan untuk memperluas akses pasar bagi perempuan di perdesaan.
Menurutnya, dukungan tersebut telah membantu hampir 99.000 mitra di perdesaan membuka lapangan kerja baru. Sebanyak 97% dari total lapangan kerja baru itu diisi oleh perempuan.
Sepanjang 2025, hampir 30% mitra Amartha bergerak di sektor pertanian dan peternakan. Perusahaan menilai dukungan terhadap kelompok usaha tersebut dapat membantu meningkatkan produktivitas sekaligus memperkuat ekonomi rumah tangga.
Salah satu mitra Amartha adalah Sumarni, petani palawija asal Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. Selama lebih dari tujuh tahun, ia menekuni usaha pertanian untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan membiayai pendidikan anaknya.
Sebelum beralih ke palawija, Sumarni pernah membudidayakan melon. Namun, keterbatasan modal menghambat pengembangan usahanya. Setelah bergabung sebagai mitra Amartha sekitar lima tahun lalu, ia memperoleh pembiayaan untuk melanjutkan dan mengembangkan usaha palawija.
“Berkat modal dari Amartha, saya bisa lebih leluasa mengembangkan usaha palawija ini. Kebanyakan pembeli tinggal di sekitar rumah, jadi mereka bisa langsung membeli hasil panen. Saya bisa mendapat penghasilan hingga Rp500.000 setiap dua hari, terutama saat harga sedang bagus,” ujar Sumarni.
Meski pekerjaan pertanian, mulai dari mencangkul, memupuk, hingga meratakan tanah, membutuhkan tenaga besar, hasil panen membantu Sumarni memenuhi kebutuhan sehari-hari dan biaya pendidikan anaknya. Ia berharap usahanya terus berkembang agar dapat memberikan masa depan yang lebih baik bagi keluarga, sekaligus mewujudkan impiannya menunaikan ibadah umrah.
Dampak pembiayaan juga dirasakan Mariani, petani rumput laut dari Kota Bau-Bau, Sulawesi Tenggara. Ia memulai usaha empat tahun lalu dengan menjemur rumput laut di belakang rumah. Saat itu, pendapatannya belum stabil karena dipengaruhi cuaca, pasang surut, dan kondisi laut.
Setelah menjadi mitra Amartha, Mariani memperoleh pembiayaan dan pendampingan untuk memperluas area budidaya. Dukungan tersebut membantu meningkatkan produksi dan pendapatan usahanya.
“Usaha rumput laut ini membantu saya menyekolahkan anak-anak, bekal masa depan mereka. Pembiayaan dan pendampingan dari Amartha membuat produksi usaha saya bisa terus berkembang dan pendapatan meningkat,” kata Mariani.
Pengembangan usaha tersebut juga membuka peluang ekonomi bagi warga sekitar. Mariani kini melibatkan sejumlah tetangga, yang sebagian besar merupakan ibu rumah tangga, dalam proses panen dan penjemuran rumput laut. Kegiatan ini memberikan kesempatan bagi mereka untuk memperoleh penghasilan tambahan.
Di luar pembiayaan usaha, Amartha memperluas kegiatan sosial melalui Amartha Empower, portal penggalangan donasi dan zakat di bawah Amartha.org. Inisiatif ini diarahkan untuk mendukung pemulihan ekonomi dan membangun dampak berkelanjutan bagi masyarakat daerah.
Salah satu programnya menyasar masyarakat terdampak banjir bandang di Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Program pemulihan ketahanan pangan tersebut mencakup perbaikan saluran irigasi yang mengairi lahan pertanian bagi lebih dari 900 kepala keluarga atau hampir 3.000 jiwa. Dukungan juga diberikan melalui penyediaan sapi untuk membantu produksi kompos.
“Dengan pulihnya irigasi, lahan pertanian mulai kembali produktif. Kami berharap upaya ini dapat memulihkan perekonomian sekaligus meningkatkan kepercayaan diri masyarakat untuk bangkit kembali,” ujar Andi Taufan.
Program pemulihan tersebut turut mencakup pelatihan tata kelola organisasi, manajemen keuangan, produksi, dan pemasaran bagi kelompok tani serta UMKM penyintas bencana. Pelatihan ini diharapkan membantu masyarakat kembali produktif, memperkuat ketahanan pangan, dan menjaga keberlanjutan ekonomi lokal.
Andi Taufan menegaskan pemberdayaan perempuan perdesaan tidak cukup dilakukan melalui pemberian akses modal, tetapi juga membutuhkan ekosistem usaha yang mendukung keberlanjutan bisnis.
Melalui layanan keuangan digital, pendampingan, dan penguatan kapasitas komunitas, Amartha menyatakan akan terus mendukung perempuan perdesaan agar mampu mengembangkan usaha, meningkatkan kemandirian ekonomi, dan menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat di sekitarnya. (mas)