telkomsel halo

Telkom siapkan fondasi AI lewat pusat data, konektivitas, dan ModelHub

06:41:00 | 30 Okt 2026
Telkom siapkan fondasi AI lewat pusat data, konektivitas, dan ModelHub
JAKARTA (IndoTelko) PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) menilai infrastruktur digital dan keamanan menjadi fondasi penting dalam membangun industri kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang berkelanjutan. Penguatan konektivitas, pusat data, serta ekosistem AI dinilai menjadi kunci bagi Indonesia untuk menangkap peluang industri global.

Hal tersebut disampaikan Direktur Utama Telkom Nanang Hendarno dalam sesi pleno bertajuk The Next Industrial Wave: Which Technologies Will Create New Global Industries? pada hari kedua Danantara Indonesia Technology and Innovation Forum (DTIIF) 2026 di Jakarta, Selasa (27/10).

Dalam diskusi bersama Teddy Liu, CEO JINGDONG Coinlink Technology Hong Kong Limited, dan Sara Supaamornkul, Senior Director of International Business Development AtkinsRéalis, Nanang menekankan bahwa peluang bisnis AI tidak hanya berasal dari penjualan teknologi, tetapi juga dari infrastruktur yang menopang penggunaannya.

Menurutnya, sejak 2022 biaya per kueri AI telah turun sekitar 280 kali, sementara penggunaan AI di Google meningkat tujuh kali lipat dalam setahun. Penurunan biaya tersebut membuka peluang peningkatan konsumsi sekaligus memperbesar kebutuhan komputasi dan infrastruktur pendukung.

“Peluang terbesar bukan sekadar menjual AI per unit, melainkan membangun infrastruktur yang menopang penggunaannya secara luas. Ketika biaya penggunaan semakin rendah, konsumsi dapat tumbuh lebih cepat,” ujar Nanang.

Meski adopsi AI meningkat, penciptaan nilai bisnis masih menjadi tantangan. Nanang mengungkapkan, 95% proyek percontohan AI generatif belum memberikan dampak terhadap laba-rugi perusahaan, sementara hanya 25% perusahaan mencapai tingkat pengembalian investasi sesuai harapan. Selain itu, baru 21% perusahaan yang mendesain ulang proses kerja untuk mengoptimalkan pemanfaatan AI.

Karena itu, pengembangan industri AI membutuhkan biaya yang terjangkau, permintaan pasar, penyesuaian alur kerja, ekosistem mitra dan pengembang, serta kepastian standar dan regulasi.

Tiga Fondasi Strategis Telkom

Nanang mengidentifikasi lima kandidat industri global masa depan, yakni konektivitas terintegrasi darat, laut, dan udara yang didukung edge AI; pusat data AI berskala besar; infrastruktur kepercayaan digital; ekonomi berbasis agen AI (agentic economy); serta layanan otonom berbasis AI untuk sektor industri dan pemerintahan.

Telkom telah memiliki kapabilitas inti pada konektivitas dan pusat data, sekaligus menjajaki peluang pengembangan di bidang lainnya.

Di sektor konektivitas, Telkom memiliki kapasitas satelit 42,2 Gbps, jaringan serat optik dan kabel laut sepanjang lebih dari 211 ribu kilometer, serta 58 titik kehadiran internasional (international Points of Presence/PoPs).

Sementara itu, NeutraDC mengoperasikan kapasitas pusat data sebesar 48,4 MW pada kuartal III 2026 di Indonesia dan Asia Tenggara, dengan aspirasi ekspansi hingga 1 gigawatt. Pengembangan tersebut membutuhkan dukungan energi dan sistem pendinginan yang andal untuk memenuhi kebutuhan komputasi AI.

Telkom juga mengembangkan Model Hub yang menyediakan akses dan tata kelola berbagai model AI, termasuk model global, berdaulat, dan yang dirancang untuk kebutuhan industri tertentu.

Penguatan ekosistem ini sejalan dengan peluncuran inisiatif Sovereign Digital Technology TelkomGroup dalam rangkaian DTIIF 2026. Inisiatif tersebut mencakup empat kapabilitas, yaitu AI Ready Data Center, AI ModelHub, National IoT Platform, dan PaDiSera, yang mendukung kebutuhan komputasi, pengembangan AI, konektivitas perangkat, serta akses pasar bagi UMKM.

Nanang menegaskan, pembangunan industri AI membutuhkan kolaborasi pemerintah, perusahaan infrastruktur digital, pengembang teknologi, startup, dan talenta AI. Pemerintah berperan memastikan kepastian regulasi, termasuk terkait kedaulatan data dan identitas agen AI, sedangkan pelaku industri perlu menghadirkan solusi yang sesuai kebutuhan pasar.

Ia juga menyoroti pentingnya investasi jangka panjang atau patient capital untuk membangun infrastruktur sebelum permintaan pasar terbentuk. Dukungan energi, kepastian perizinan, regulasi, dan penciptaan permintaan awal menjadi faktor penting bagi pengembangan industri tersebut.

GCG BUMN
“Industri global berikutnya tidak hanya dibangun oleh pihak yang paling cepat mengadopsi teknologi, tetapi juga oleh mereka yang bersedia membangun fondasinya sebelum permintaan pasar terbentuk,” pungkasnya. (mas)

Artikel Terkait
Rekomendasi
Berita Pilihan
More Stories