JAKARTA (IndoTelko) - Di tengah tingginya volatilitas pasar global, Obligasi Negara Ritel (ORI030) dinilai menjadi salah satu instrumen investasi yang layak dipertimbangkan untuk menjaga stabilitas portofolio. Instrumen Surat Berharga Negara (SBN) ritel tersebut menawarkan imbal hasil tetap, dijamin pemerintah, serta memiliki fleksibilitas untuk diperdagangkan di pasar sekunder.
Hal itu mengemuka dalam kegiatan UOB Media Literacy bertajuk Navigating Market Volatility: Building Portfolio Resilience with ORI030 yang digelar di Jakarta. Forum tersebut menghadirkan perwakilan Kementerian Keuangan, ekonom UOB, serta praktisi pengelolaan kekayaan untuk membahas prospek investasi di tengah dinamika ekonomi global.
Consumer Banking Director UOB Indonesia, Bea Teh Tan, mengatakan ketidakpastian global akibat perubahan kebijakan moneter, tensi geopolitik, hingga fluktuasi pasar membuat investor perlu lebih cermat dalam menyusun strategi investasi.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi momentum untuk meningkatkan literasi keuangan sehingga masyarakat dapat mengambil keputusan investasi berdasarkan profil risiko dan tujuan keuangan jangka panjang, bukan semata mengejar imbal hasil tinggi.
ASEAN Economist UOB, Enrico Tanuwidjaja, menilai perekonomian Indonesia mulai memasuki fase new normal pada semester II-2026. Stabilnya harga minyak dunia, mulai pulihnya nilai tukar, serta meningkatnya optimisme masyarakat dinilai menjadi sinyal membaiknya aktivitas konsumsi dan investasi.
Ia juga melihat minat investor asing terhadap pasar keuangan Indonesia mulai meningkat, terutama pada instrumen obligasi yang menawarkan imbal hasil di atas 6 persen dengan jaminan pemerintah. Menurutnya, potensi kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia hingga akhir tahun justru dapat memperkuat daya tarik instrumen pendapatan tetap.
Sementara itu, Analis Keuangan Negara Ahli Madya sekaligus Ketua Tim Pengembangan dan Pendalaman Pasar Surat Utang Negara Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, Chandra A.S. Wibowo, mengatakan fundamental ekonomi Indonesia masih terjaga dengan baik.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 mencapai 5,61 persen, sementara inflasi tetap terkendali di kisaran 3,34 persen secara tahunan pada Juni 2026. Di sisi lain, lembaga pemeringkat S&P juga mempertahankan peringkat kredit Indonesia pada level BBB dengan prospek stabil.
Menurut Chandra, kondisi tersebut membuat ORI030 menjadi instrumen investasi yang menarik karena menawarkan kepastian imbal hasil tetap, risiko rendah, serta pajak yang lebih kompetitif dibandingkan sejumlah instrumen investasi lainnya.
Ia mengungkapkan hingga 16 Juli 2026 pukul 16.00 WIB, realisasi penjualan ORI030 telah mencapai Rp21,9 triliun dari target Rp25 triliun. Penawaran ORI030 masih berlangsung hingga 30 Juli 2026, dengan mayoritas investor SBN ritel berasal dari kalangan milenial.
Selain memberikan keuntungan finansial, Chandra menambahkan investasi pada ORI030 juga memberikan manfaat sosial karena dana yang dihimpun digunakan untuk mendukung pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Khusus seri ORI030 tenor enam tahun (ORI030T6), pemerintah juga memberikan label SDGs Bond Ritel sebagai bagian dari pembiayaan program pembangunan berkelanjutan.
Head of Deposit & Wealth Management UOB Indonesia, Emillya Soesanto, menilai kondisi pasar saat ini memberikan peluang bagi investor untuk memperkuat portofolio melalui instrumen pendapatan tetap. Menurutnya, koordinasi kebijakan antara pemerintah dan Bank Indonesia telah mampu menjaga stabilitas pasar sehingga menjadi sentimen positif bagi investasi obligasi.
Ia menyebut ORI030 tenor enam tahun dengan imbal hasil sekitar 7 persen menjadi salah satu pilihan menarik, khususnya bagi investor dengan profil risiko konservatif yang mengutamakan keamanan sekaligus pendapatan tetap.
Emillya juga mengingatkan pentingnya menerapkan pendekatan risk-first dalam berinvestasi melalui tiga prinsip utama, yakni selalu siap menghadapi perubahan pasar, membangun portofolio yang terdiversifikasi, serta menyusun strategi investasi sesuai tujuan keuangan. Dengan pendekatan tersebut, investor dinilai tidak perlu menunggu kondisi pasar ideal untuk mulai berinvestasi.
Melalui kegiatan literasi ini, UOB Indonesia berharap masyarakat semakin memahami pentingnya membangun portofolio investasi yang seimbang dengan mempertimbangkan kondisi ekonomi, profil risiko, dan tujuan investasi jangka panjang. (mas)