JAKARTA (IndoTelko) Arah nilai tukar rupiah hingga akhir 2026 diperkirakan masih menghadapi tekanan dari kebijakan suku bunga Amerika Serikat (AS), kenaikan harga minyak dunia, dan arus keluar modal asing. EBC Financial Group menilai ketiga faktor tersebut berpotensi lebih menentukan pergerakan rupiah dibandingkan keputusan Federal Reserve (The Fed) pada Oktober.
Dalam rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada 2728 Oktober 2026, The Fed mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,75%4,00%. Namun, keputusan tersebut tidak bulat karena dua pejabatnya memilih kenaikan sebesar 0,25 poin persentase.
Tekanan terhadap rupiah terlihat dari nilai tukar yang ditutup pada Rp18.183 per dolar AS pada 28 Oktober, berdasarkan data yang dikutip EBC. Kondisi tersebut menempatkan rupiah pada level penutupan terlemah sepanjang sejarah.
Analis Pasar Keuangan EBC Financial Group, Sana Ur Rehman, mengatakan kenaikan harga minyak dapat memperbesar kebutuhan dolar AS untuk impor bahan bakar Indonesia. Di sisi lain, harga energi yang tinggi berpotensi memperkuat tekanan inflasi AS dan meningkatkan kemungkinan pengetatan kebijakan moneter The Fed.
Berdasarkan data kontrak berjangka suku bunga AS pada 27 Oktober, pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Desember mencapai 83%, meningkat dari sekitar 71% pada 23 Oktober. Meski demikian, keputusan tersebut belum pasti dan masih bergantung pada perkembangan inflasi serta kondisi perekonomian AS.
Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) menghadapi tantangan menjaga stabilitas rupiah tanpa menekan aktivitas ekonomi secara berlebihan. Dalam rapat 2021 Oktober, BI menaikkan suku bunga Deposit Facility menjadi 5%, sementara BI-Rate dipertahankan pada 5,75%.
Kebijakan tersebut menjadi salah satu upaya menjaga daya tarik aset rupiah. Namun, jika The Fed kembali menaikkan suku bunga, tekanan terhadap BI untuk memperkuat kebijakan moneternya dapat meningkat.
Faktor lain yang membayangi rupiah adalah arus keluar modal asing dari pasar saham domestik. Bursa Efek Indonesia mencatat investor asing membukukan jual bersih saham sebesar Rp94,87 triliun sepanjang Januari hingga 23 Oktober 2026. Penjualan saham tersebut berpotensi meningkatkan permintaan dolar AS ketika investor mengonversi dana hasil penjualan.
Sentimen pasar juga dipengaruhi usulan MSCI pada 15 Oktober untuk memindahkan Indonesia dari kategori Emerging Market menjadi Standalone Market. Usulan tersebut masih dalam proses dan membuka periode penyampaian masukan hingga 30 April 2027. Jika diterapkan, perubahan klasifikasi ini berpotensi memengaruhi alokasi dana investor global yang mengikuti indeks MSCI.
Sementara itu, harga minyak Brent sempat ditutup di sekitar US$114 per barel pada 27 Oktober. Kenaikan harga energi menjadi perhatian karena dapat meningkatkan biaya impor Indonesia sekaligus mempersulit upaya pengendalian inflasi di AS.
EBC menilai perkembangan inflasi AS, termasuk data indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi atau Personal Consumption Expenditures (PCE), akan menjadi indikator penting menjelang rapat FOMC pada 89 Desember. Bank Indonesia juga dijadwalkan menggelar rapat kebijakan pada 1718 November dan 1516 Desember.
Menurut Sana, apabila harga minyak bertahan tinggi dan inflasi AS belum mereda, peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Desember dapat menguat sehingga tekanan terhadap rupiah berpotensi berlanjut. Sebaliknya, penurunan harga energi dan meredanya inflasi dapat membuka ruang bagi stabilisasi nilai tukar menjelang akhir tahun. (mas)