JAKARTA (IndoTelko) AdaKami mendukung penguatan kolaborasi lintas sektor dalam pencegahan fraud dan penipuan digital melalui forum yang digelar ADIGSI.
Langkah ini dilakukan seiring meningkatnya kasus penipuan digital. Data Indonesia Anti-Scam Centremencatat lebih dari 432 ribu laporan sejak akhir 2024 hingga awal 2026, dengan total kerugian mencapai sekitar Rp9,1 triliun.
Forum tersebut turut melibatkan sejumlah pemangku kepentingan, termasuk Otoritas Jasa Keuangan, Badan Siber dan Sandi Negara, AFPI, serta AFTECH, guna memperkuat koordinasi dalam menghadapi ancaman siber.
Ketua Umum ADIGSI, Firlie Ganinduto, menilai perkembangan teknologi seperti AI menjadi tantangan sekaligus peluang, sehingga membutuhkan kolaborasi erat antara regulator dan industri untuk meningkatkan keamanan serta edukasi pengguna.
Dalam diskusi panel, perwakilan regulator menekankan bahwa fraud digital telah berkembang menjadi ancaman yang bersifat sistemik dan membutuhkan pendekatan terpadu. Pemerintah bersama industri terus mendorong penguatan perlindungan konsumen dan pencegahan berbasis kolaborasi.
Dari sisi keamanan, BSSN mencatat miliaran anomali trafik siber, dengan mayoritas berupa malware yang berpotensi berkembang menjadi ransomware. Kondisi ini menunjukkan tingginya risiko serangan siber terhadap ekosistem digital nasional.
Chief of Public Affairs AdaKami, Karissa Sjawaldy, menyatakan bahwa penanganan fraud merupakan tanggung jawab bersama seluruh pelaku industri. Perusahaan terus memperkuat sistem keamanan berbasis teknologi serta mendorong edukasi pengguna.
Dalam operasionalnya, AdaKami mengimplementasikan teknologi seperti AI dan big data untuk deteksi aktivitas mencurigakan, serta menerapkan verifikasi identitas berbasis electronic Know Your Customer(e-KYC).
Selain itu, perusahaan juga aktif meningkatkan literasi masyarakat melalui kampanye edukasi guna mendorong pengguna lebih waspada dalam menjaga data pribadi dan mengenali modus penipuan.
Melalui kolaborasi ini, diharapkan upaya pencegahan fraud digital dapat semakin efektif sekaligus memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap layanan keuangan digital. (mas)