JAKARTA (IndoTelko) - Ketersediaan metode pembayaran menjadi faktor penting dalam transaksi ecommerce di Indonesia. Laporan terbaru Xendit bersama Cube mengungkapkan, 51% konsumen Indonesia membatalkan pembelian online dalam tiga bulan terakhir karena metode pembayaran yang mereka inginkan tidak tersedia.
Persentase tersebut merupakan yang tertinggi di antara enam negara Asia Tenggara yang disurvei. Temuan ini menunjukkan bahwa pelaku usaha berisiko kehilangan penjualan jika tidak menyediakan pilihan pembayaran sesuai preferensi pelanggan.
Temuan tersebut dipublikasikan melalui Xendit Ecommerce Payments Momentum Report 2026, yang menggabungkan data transaksi Xendit dengan survei terhadap 6.000 konsumen di enam negara, termasuk 1.000 responden di Indonesia.
Presiden Xendit, Nazim Ali, mengatakan perubahan perilaku konsumen menuntut pelaku usaha menyesuaikan layanan pembayaran dengan kebutuhan pasar.
Menurutnya, pelaku usaha tidak cukup hanya menyediakan beragam metode pembayaran, tetapi juga perlu memahami tren penggunaannya serta peluang bisnis yang muncul dari perubahan tersebut.
QRIS dan Dompet Digital Makin Diminati
Laporan tersebut mencatat transaksi QRIS di platform Xendit tumbuh 142% antara Januari 2025 dan April 2026. Pertumbuhan ini melampaui transaksi kartu kredit yang meningkat 83% pada periode yang sama.
Transfer bank juga masih menjadi salah satu pilihan utama. Berdasarkan survei, metode tersebut diperkirakan digunakan dalam 52% dari total pembelian yang dilakukan responden.
Sementara itu, dompet digital menjadi metode pembayaran yang paling banyak digunakan konsumen Indonesia, dengan porsi sekitar 60% dari pembelian responden. Sebanyak 70% responden mengaku menggunakan dompet digital untuk sedikitnya separuh transaksi pembelian mereka.
Pasar dompet digital Indonesia diisi sejumlah pemain utama, antara lain GoPay, OVO, DANA, dan ShopeePay, tanpa satu merek yang mendominasi seluruh pasar menurut laporan tersebut.
Preferensi pembayaran juga berbeda menurut wilayah. Megatix, platform penjualan tiket yang menjadi mitra Xendit, menyebut konsumen di Jakarta lebih banyak menggunakan virtual account, sedangkan transaksi di Bali lebih didominasi kartu pembayaran internasional.
Xendit, yang memiliki lisensi sebagai penyedia layanan akuisisi QRIS, menyatakan pelaku usaha dapat menerima pembayaran QRIS melalui platformnya tanpa harus menunjuk bank lain sebagai penyedia layanan akuisisi.
Laporan itu juga menyoroti manfaat integrasi langsung dengan jaringan pemrosesan pembayaran (direct-to-rail), termasuk visibilitas transaksi yang lebih baik, rekonsiliasi dan pengembalian dana yang lebih sederhana, serta dukungan untuk mengelola risiko penipuan.
Di tingkat regional, QRIS telah mendukung pembayaran lintas negara melalui integrasi dengan PromptPay di Thailand dan DuitNow di Malaysia. Xendit memperkirakan sistem pembayaran real-time di Asia Tenggara akan semakin terhubung dalam jaringan regional pada 2027.
Penggunaan COD Menurun, tetapi Masih Signifikan
Perubahan perilaku pembayaran juga terlihat pada metode tunai saat barang diterima atau cash on delivery (COD).
Sebanyak 40% responden Indonesia menyatakan kini jauh lebih jarang menggunakan COD dibandingkan setahun sebelumnya. Angka ini menjadi yang tertinggi kedua di Asia Tenggara setelah Thailand sebesar 45%.
Meski frekuensi penggunaannya menurun, COD masih digunakan dalam sekitar 40% dari total pembelian responden. Namun, kontribusinya terhadap keseluruhan nilai transaksi ecommerce relatif lebih rendah.
Laporan tersebut juga menemukan bahwa diskon dan cashback menjadi alasan utama konsumen di enam negara yang disurvei untuk beralih ke metode pembayaran lain. Faktor promosi ini dinilai lebih berpengaruh dibandingkan kecepatan pengembalian dana maupun keamanan pembayaran.
Ecommerce dan Pencarian Produk Berbasis AI Tumbuh
Dari sisi perdagangan digital, penjualan di Shopee, Lazada, dan TikTok Shop—tiga platform ecommerce terbesar di Asia Tenggara—meningkat sekitar 33% pada kuartal I 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan tersebut terjadi setelah laju peningkatan penjualan melambat pada 2024.
Perubahan juga berlangsung dalam cara konsumen menemukan produk. Di Asia Tenggara, 53% konsumen menggunakan AI generatif untuk menemukan produk, sedangkan 78% memanfaatkannya untuk mencari informasi dan membandingkan produk sebelum membeli.
Angka penggunaan AI generatif untuk riset produk tersebut melampaui mesin pencari yang digunakan 74% konsumen serta situs ulasan produk sebesar 72%.
Xendit menilai perkembangan tersebut membuat pengalaman belanja digital semakin terhubung dengan teknologi, mulai dari pencarian produk hingga penyelesaian pembayaran.
Bagi pelaku usaha, tantangannya bukan hanya menarik konsumen melalui kanal digital, tetapi juga memastikan proses transaksi berjalan sesuai preferensi pelanggan. Penyediaan metode pembayaran yang beragam, mulai dari QRIS, dompet digital, transfer bank, hingga kartu pembayaran, menjadi salah satu langkah untuk mengurangi risiko pembatalan transaksi dan menjaga peluang penjualan. (mas)