JAKARTA (IndoTelko) Edisi kedua Asia Economic Summit (AES) resmi digelar di Jakarta dengan mempertemukan para pembuat kebijakan, investor, pelaku usaha, dan pemimpin industri teknologi dari berbagai negara Asia Tenggara. Forum yang diselenggarakan Tech in Asia, bagian dari SPH Media Singapura, tersebut menegaskan posisi Indonesia sebagai salah satu pusat pertumbuhan ekonomi digital di kawasan ASEAN.
Mengusung tema “Where Southeast Asia’s Economic Decisions Take Shape”, AES 2026 menjadi wadah diskusi mengenai berbagai isu strategis yang memengaruhi masa depan kawasan, mulai dari ketahanan ekonomi, pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan (AI), arus investasi, hingga penguatan kolaborasi antara sektor publik dan swasta.
Acara dibuka oleh Menteri Komunikasi dan Digital Republik Indonesia, Meutya Hafid, bersama Josephine Teo. Keduanya menyoroti pentingnya integrasi digital lintas negara, pengembangan tata kelola AI, serta peningkatan kerja sama regional untuk memperkuat daya saing Asia Tenggara di tengah dinamika global.
Forum yang dihadiri sekitar 250 peserta ini dirancang sebagai ajang dialog strategis antara pemerintah, investor, perusahaan teknologi, dan pelaku industri guna mendorong lahirnya kolaborasi baru di kawasan.
Overall Lead dan Pemimpin Redaksi Tech in Asiaâ , Terrence Lee, mengatakan meningkatnya tantangan global membuat negara-negara Asia Tenggara perlu memperkuat koordinasi dalam berbagai bidang, termasuk ekonomi digital, pengembangan AI, investasi, dan ketahanan ekonomi.
Sepanjang hari, AES 2026 menghadirkan sejumlah pembicara dari berbagai organisasi global dan regional, termasuk OpenAIâ , Singtelâ , McKinsey & Companyâ , serta perusahaan Indonesia seperti DANA Indonesiaâ dan Amarthaâ .
Managing Director Tech in Asia Indonesia, Novrizal Pratama, menilai Indonesia memiliki posisi strategis sebagai ekonomi terbesar di ASEAN sekaligus pasar digital yang berkembang pesat. Menurutnya, kondisi tersebut menjadikan Indonesia sebagai lokasi yang tepat untuk mempertemukan berbagai pemangku kepentingan dalam membahas investasi, kebijakan industri, infrastruktur digital, hingga adopsi teknologi di kawasan.
Salah satu topik utama yang mengemuka dalam forum ini adalah perkembangan AI di Asia Tenggara. Berdasarkan laporan “AI in Southeast Asia: An Era of Opportunity” yang disusun Tech in Asia bersama McKinsey dan Economic Development Board Singapura, sebanyak 73% perusahaan di Asia Tenggara telah memasuki tahap uji coba atau implementasi AI dalam skala yang lebih luas. Angka tersebut melampaui rata-rata global yang berada di level 57%.
Dengan partisipasi lebih dari 10 negara, 30 perusahaan besar, dan sekitar 100 organisasi, penyelenggaraan AES 2026 menunjukkan meningkatnya minat terhadap forum ini sebagai ruang dialog ekonomi dan digital tingkat regional. Kehadiran investor asal Singapura serta para pembuat kebijakan dari berbagai negara ASEAN juga semakin memperkuat posisi AES sebagai salah satu forum penting dalam pembahasan arah pembangunan ekonomi digital Asia Tenggara. (mas)