JAKARTA (IndoTelko) — HID merilis Security and Identity Report 2026 yang menemukan 73% dari 1.500 praktisi keamanan dan IT global kini menempatkan manajemen identitas sebagai prioritas strategis utama perusahaan, seiring meningkatnya kebutuhan untuk menyatukan akses fisik dan digital dalam satu platform terintegrasi.
Laporan ini memetakan perubahan mendasar dalam cara organisasi mengelola identitas di tengah konvergensi dunia fisik dan digital yang semakin tak terpisahkan.
Senior Vice President & Chief Technology Officer HID Ramesh Songukrishnasamy, menegaskan bahwa tantangan terbesar perusahaan saat ini terletak pada kemampuan menyeimbangkan fleksibilitas akses dengan aspek keamanan dan tata kelola.
"Perusahaan yang akan unggul adalah mereka yang mampu menghadirkan akses identitas yang fleksibel tanpa mengorbankan keamanan serta tetap menjaga transparansi bagi pengguna," ujarnya.
Laporan HID mengidentifikasi delapan arah utama yang membentuk industri keamanan identitas ke depan. Perusahaan global mulai mengonsolidasikan berbagai sistem — mulai dari data karyawan, manajemen pengunjung, hingga autentikasi berlapis — ke dalam satu platform terpadu guna meningkatkan efisiensi dan kontrol akses secara menyeluruh.
Kredensial berbasis mobile mencatat adopsi yang semakin luas karena dinilai praktis sekaligus lebih aman, meski sebagian besar pengguna masih mempertahankan kartu fisik sebagai cadangan yang mencerminkan kebutuhan akan fleksibilitas sistem.
Teknologi biometrik seperti sidik jari dan pengenalan wajah juga terus meningkat adopsinya, namun tren ini diiringi lonjakan kekhawatiran privasi dan etika penggunaan data yang kini menjadi perhatian mayoritas responden.
Sistem pelacakan lokasi secara real-time juga semakin umum digunakan, terutama di sektor kesehatan, manufaktur, dan logistik, meski implementasinya masih menghadapi tantangan biaya, kompleksitas integrasi, dan isu privasi.
Teknologi RFID, di sisi lain, telah bertransformasi dari sekadar inovasi menjadi infrastruktur penting dalam pelacakan aset dan manajemen inventaris yang memberikan visibilitas lebih baik sekaligus meningkatkan efisiensi operasional.
Laporan ini juga mencatat pergeseran investasi perusahaan dari pendekatan solusi tunggal menuju sistem terintegrasi untuk meningkatkan visibilitas dan ketahanan operasional, meskipun integrasi lintas platform masih menjadi tantangan utama.
HID menyimpulkan bahwa isu privasi berada pada titik krusial di 2026 — meningkatnya penggunaan biometrik dan pelacakan lokasi menuntut perusahaan tidak hanya memperkuat keamanan, tetapi juga memastikan perlindungan hak individu melalui kebijakan tata kelola data yang lebih matang. (mas)