JAKARTA (IndoTelko) Pemanfaatan kecerdasan artifisial (AI) di sektor kesehatan masih menghadapi kendala kesiapan data dan infrastruktur, meski kebutuhan terhadap teknologi tersebut terus meningkat.
Temuan tersebut tercatat dalam The Data Readiness Index 2026 yang dirilis Cloudera. Riset itu menunjukkan organisasi layanan kesehatan masih menghadapi kesulitan dalam mengintegrasikan dan mengoperasionalkan data secara konsisten di tengah penggunaan teknologi yang semakin terdistribusi.
Sebanyak 87% responden sektor kesehatan menyatakan mengetahui lokasi penyimpanan data mereka. Namun, kemampuan mengetahui lokasi data tersebut belum menjamin organisasi dapat mengintegrasikan dan memanfaatkan data untuk kebutuhan AI.
Keterbatasan infrastruktur juga menjadi persoalan. Sebanyak 28% organisasi kesehatan menyatakan kinerja infrastruktur secara konsisten menghambat berbagai inisiatif operasional.
Organisasi kesehatan harus mengelola data klinis, operasional, dan data yang dihasilkan pasien dalam jumlah besar. Pada saat yang sama, organisasi harus melindungi data tersebut karena memiliki karakter sensitif dan tunduk pada ketentuan keamanan, privasi, serta regulasi.
Di Indonesia, pemanfaatan AI di sektor kesehatan terus berkembang. Sektor kesehatan menjadi salah satu prioritas dalam Strategi Nasional Kecerdasan Artifisial 20202045. Sejak 2023, sejumlah layanan kesehatan juga telah memanfaatkan AI untuk mendukung deteksi dini penyakit, termasuk tuberkulosis, kanker paru, dan stroke.
Namun, pengembangan AI membutuhkan fondasi data yang kuat. Tata kelola data yang lemah dapat menyulitkan organisasi memastikan data tersedia secara aman, akurat, dan sesuai dengan ketentuan regulasi.
Country Manager Indonesia Cloudera, Sherlie Karnidta, mengatakan tantangan pengelolaan data semakin kompleks karena data kesehatan tersebar di berbagai lingkungan, mulai dari data center, cloud, hingga edge.
“Memindahkan data layanan kesehatan dalam jumlah besar yang diatur oleh regulasi ke dalam satu lingkungan public cloud sering kali tidak praktis, mahal, dan kompleks untuk dikelola,” ujarnya.
Menurut Sherlie, organisasi kesehatan membutuhkan pendekatan yang memungkinkan AI bekerja terhadap data yang telah dikelola dengan baik tanpa harus memindahkan seluruh data ke lingkungan tertentu.
Pendekatan tersebut memungkinkan organisasi menjaga keamanan dan kepatuhan data sekaligus memberikan akses terhadap insight secara cepat untuk mendukung pengambilan keputusan dan peningkatan kualitas layanan.
Cloudera menilai investasi pada modernisasi infrastruktur data dan kesiapan AI akan terus meningkat. Kemampuan mengelola data secara terdistribusi dengan tetap menjaga keamanan, tata kelola, dan kepatuhan akan menjadi faktor penting bagi keberhasilan penerapan AI di sektor kesehatan. (mas)