telkomsel halo

89% perusahaan rancang ulang penggunaan AI akibat lonjakan biaya

07:44:00 | 07 Nov 2026
89% perusahaan rancang ulang penggunaan AI akibat lonjakan biaya
JAKARTA (IndoTelko) - Kenaikan biaya, tuntutan tata kelola, dan aturan kedaulatan data mendorong perusahaan mengevaluasi kembali strategi penerapan kecerdasan buatan (AI). Laporan Cloudera bertajuk The State of Enterprise AI 2026: The New Rules of Scale mengungkapkan, 89% perusahaan telah membatasi atau merancang ulang kasus penggunaan AI akibat meningkatnya konsumsi token.

Laporan tersebut disusun berdasarkan survei Wakefield Research terhadap 1.500 pemimpin dan pengambil keputusan teknologi informasi (TI) di berbagai negara pada September 2026.

Selain tekanan biaya, sebanyak 84% responden menyatakan persyaratan lokasi penyimpanan data (data residency), kedaulatan data, atau yurisdiksi memengaruhi lokasi penerapan beban kerja AI.

Di Indonesia, adopsi AI terus meningkat. Sebanyak 88% perusahaan mengaku menambah investasi AI dibandingkan tahun sebelumnya, sementara 70% mengalokasikan sedikitnya US$500 ribu per tahun untuk teknologi tersebut.

Namun, ekspansi AI masih menghadapi sejumlah hambatan operasional. Tata kelola dan kepatuhan menjadi tantangan terbesar dengan porsi 65%, diikuti kekurangan keterampilan sebesar 55%, integrasi data 45%, serta mandat kedaulatan data 45%.

Persyaratan lokasi penyimpanan dan yurisdiksi data juga memengaruhi penempatan beban kerja AI di 88% organisasi Indonesia. Sebanyak 53% perusahaan menerapkan arsitektur multi-environment untuk melindungi kedaulatan data, menjaga ketahanan sistem, serta mengoptimalkan biaya infrastruktur dan inferensi AI.

Biaya dan Tata Kelola Jadi Tantangan

Secara global, laporan Cloudera menemukan 98% responden pernah mengurangi atau menghentikan penerapan AI akibat kegagalan, halusinasi, maupun perilaku sistem yang tidak terduga.

Sementara itu, 75% responden menyebut tata kelola dan kepatuhan sebagai kendala dalam memperluas penerapan AI. Sebanyak 55% lainnya mengaku biaya untuk memenuhi persyaratan tersebut meningkat lebih cepat dari perkiraan.

Tekanan biaya juga mengubah strategi infrastruktur. Sekitar 45% perusahaan telah memindahkan beban kerja AI sebagai respons terhadap biaya yang lebih tinggi atau lebih fluktuatif.

Chief Technology Officer (CTO) Applied AI Cloudera, Brian Martin, mengatakan penerapan AI dalam skala besar menghadirkan tantangan ekonomi dan operasional yang terus berubah.

Menurutnya, perusahaan membutuhkan strategi yang memungkinkan penyesuaian lokasi dan pengelolaan beban kerja AI tanpa kehilangan kendali atas data, tata kelola, maupun pengeluaran.

Country Manager Cloudera Indonesia, Sherlie Karnidta, menambahkan bahwa perusahaan di Indonesia tengah meningkatkan investasi AI, tetapi masih menghadapi kompleksitas tata kelola, kesenjangan keterampilan teknis, dan fluktuasi biaya inferensi.

Cloudera menawarkan pendekatan hybrid yang memungkinkan perusahaan menjalankan beban kerja AI di lokasi data berada, baik melalui infrastruktur on-premises, sovereign cloud, maupun lingkungan multi-cloud.

Pendekatan tersebut ditujukan untuk membantu perusahaan memenuhi persyaratan lokasi dan kedaulatan data sekaligus menyesuaikan kebutuhan komputasi dengan biaya dan kebutuhan bisnis.

Perusahaan Mulai Memperkuat Fondasi AI

Laporan tersebut juga menunjukkan bahwa perusahaan semakin memperhatikan fondasi penerapan AI jangka panjang.

Jika dapat mengulang perjalanan adopsi AI dari awal, sebanyak 49% responden menyatakan akan memperkuat tata kelola sejak tahap awal. Sebanyak 46% akan lebih dahulu berinvestasi pada kualitas data, sedangkan 45% akan mempercepat modernisasi infrastruktur dan meningkatkan pelatihan karyawan.

Fleksibilitas dalam menjalankan AI di berbagai lingkungan juga semakin dibutuhkan. Responden menyebut ketahanan sistem sebesar 42%, persyaratan kedaulatan dan lokasi penyimpanan data 38%, pengurangan biaya 38%, serta kedekatan dengan data 37% sebagai alasan utama penggunaan lingkungan komputasi yang beragam.

Cloudera menyatakan pendekatan membawa AI ke lokasi data memungkinkan perusahaan menentukan tempat menjalankan beban kerja berdasarkan kebutuhan biaya, kinerja, kedaulatan, dan operasional.

GCG BUMN
Dengan perubahan tersebut, perusahaan dituntut tidak hanya meningkatkan investasi AI, tetapi juga memperkuat tata kelola, kualitas data, infrastruktur, dan kompetensi sumber daya manusia agar penerapannya dapat memberikan manfaat bisnis secara berkelanjutan. (mas)

Artikel Terkait
Rekomendasi
Berita Pilihan
More Stories