JAKARTA (IndoTelko) - Kaspersky mengungkap kampanye spionase siber baru bernama Operasi FlashHole yang dikaitkan dengan kelompok peretas Advanced Persistent Threat (APT) Lazarus. Kampanye yang aktif setidaknya sejak Juli 2025 itu telah menyasar sedikitnya tiga organisasi di Korea Selatan, mencakup sektor konstruksi, perangkat lunak, dan manufaktur peralatan komunikasi kabel.
Tim Riset dan Analisis Global Kaspersky (GReAT) menemukan bahwa serangan ini memanfaatkan teknik spear-phishing, penyalahgunaan perangkat lunak CrossWeb EX, serta sejumlah malware yang diperbarui dan alat baru yang sebelumnya belum terdokumentasi.
Operasi FlashHole berkaitan dengan pengembangan teknik serangan Lazarus setelah ditemukannya kampanye Operation SyncHole. Dalam serangan terbaru ini, pelaku memanfaatkan situs portofolio dan CV palsu yang disesuaikan dengan target untuk memancing korban melalui email.
Situs tersebut ditemukan di GitHub Pages dan terhubung dengan akun GitHub yang digunakan sebagai saluran komunikasi serta kendali (command and control/C2). Halamannya menampilkan CV seorang pengembang perangkat jaringan senior, lengkap dengan foto pencari kerja yang dibuat menggunakan kecerdasan buatan (AI).
Kaspersky menduga AI juga digunakan untuk menyesuaikan situs palsu dengan profil target. Pola ini menyerupai pendekatan Operation DreamJob, kampanye Lazarus yang menggunakan umpan bertema pekerjaan.
Malware Baru dan Kriptografi Pasca-Kuantum
Menurut Kaspersky, kunjungan ke situs berbahaya tersebut kemungkinan memicu rangkaian infeksi yang melibatkan CrossWeb EX, perangkat lunak keamanan dan autentikasi web yang banyak digunakan di Korea Selatan. Aktivitas tersebut diduga memanfaatkan potensi kerentanan perangkat lunak, yang sebelumnya juga telah mendapat peringatan keamanan.
Peneliti mengidentifikasi dua alat baru, yakni TouchHub dan ClientHub. Keduanya digunakan untuk memasang malware tambahan, menjalankan perintah pada komputer korban, serta berkomunikasi dengan operator untuk mendukung aktivitas spionase. Salah satu varian alat tersebut diketahui memanfaatkan Dropbox sebagai saluran komunikasi.
Kampanye ini juga menggunakan versi terbaru LPEClient, malware Lazarus yang mengumpulkan informasi sistem dan mengunduh muatan berbahaya tambahan. Versi terbarunya mampu mengumpulkan informasi mengenai perangkat lunak keamanan, perlindungan Windows, dan karakteristik komputer, kemudian mengenkripsi data sebelum mengirimkannya kepada penyerang.
Temuan lain yang menjadi perhatian adalah penggunaan ML-KEM-1024, mekanisme kriptografi pasca-kuantum yang dirancang untuk menghadapi potensi ancaman komputer kuantum di masa depan. LPEClient memanfaatkannya untuk membangun koneksi terenkripsi dengan server penyerang sebelum mengunduh dan menjalankan malware tambahan langsung di memori.
Malware tersebut juga berupaya menghindari deteksi dengan mengubah perlindungan memori dan menonaktifkan mekanisme pemantauan yang digunakan perangkat keamanan untuk mengenali aktivitas mencurigakan.
Peneliti Keamanan Senior Kaspersky GReAT, Sojun Ryu, mengatakan Lazarus terus mengembangkan perangkat dan teknik serangannya, termasuk memasukkan AI ke dalam strategi yang sudah digunakan sebelumnya.
Menurut dia, penggunaan kriptografi yang dirancang untuk menghadapi ancaman kuantum patut diwaspadai. Analisis Kaspersky menunjukkan kemampuan tersebut telah digunakan setidaknya sejak September 2024.
Langkah Pencegahan
Untuk mengurangi risiko serangan serupa, Kaspersky menyarankan organisasi melatih karyawan mengenali phishing bertarget, memperbarui perangkat lunak dan memasang patch keamanan secara berkala, serta membatasi hak akses pengguna.
Perusahaan juga disarankan memantau koneksi ke layanan cloud yang berpotensi disalahgunakan sebagai saluran kendali penyerang. Selain itu, organisasi dapat memanfaatkan solusi keamanan seperti EDR dan XDR, layanan deteksi dan respons terkelola, serta threat intelligence untuk meningkatkan kemampuan mendeteksi, menyelidiki, dan menangani insiden. (mas)