telkomsel halo

Indonesia hadapi lebih dari 108 ribu ancaman siber per hari

06:46:00 | 07 Nov 2026
Indonesia hadapi lebih dari 108 ribu ancaman siber per hari
JAKARTA (IndoTelko) - Kesenjangan keterampilan teknis dan analitis masih menjadi tantangan dalam pengembangan talenta keamanan siber di kawasan Asia Pasifik, termasuk Indonesia. Temuan Kaspersky menunjukkan kekurangan kompetensi tersebut berpotensi menghambat kesiapan tenaga profesional dalam menghadapi ancaman digital yang terus berkembang.

Berdasarkan data Kaspersky, kekurangan keterampilan teknis atau hard skills paling banyak ditemukan pada kemampuan pemrograman sistem sebesar 62%, pengetahuan mengenai kerangka kerja atau framework sebesar 61%, serta teknologi jaringan sebesar 46%.

Sementara pada aspek soft skills, kesenjangan terbesar terdapat pada kemampuan berpikir analitis sebesar 48%, pemecahan masalah 43%, dan kerja sama tim 41%.

Tantangan tersebut juga terlihat dari relevansi pendidikan formal terhadap pekerjaan. Sebanyak 25% responden di Asia Pasifik menyatakan pendidikan formal yang mereka tempuh hanya sedikit atau bahkan tidak membantu pekerjaan sehari-hari di bidang keamanan siber.

Hampir separuh profesional keamanan siber di kawasan tersebut, atau 48%, mengaku pernah melakukan kesalahan pada awal karier akibat keterbatasan pengetahuan. Kesalahan yang paling sering terjadi meliputi pengabaian pencadangan data sebesar 43%, penggunaan prosedur keamanan yang sudah usang 43%, serta kegagalan menerapkan perlindungan identitas sebesar 36%.

Di Indonesia, ancaman terhadap perangkat juga masih menjadi perhatian. Sepanjang Januari hingga Desember 2025, Kaspersky mendeteksi 39.718.903 insiden ancaman lokal pada komputer pengguna yang berpartisipasi dalam Kaspersky Security Network (KSN).

Angka tersebut setara dengan lebih dari 108 ribu insiden per hari. Ancaman lokal tersebut berasal dari perangkat yang dapat dilepas atau removable device, sehingga menunjukkan pentingnya kebiasaan digital yang aman dalam mencegah risiko keamanan.

Hadirkan Platform Pengembangan Talenta Siber

Untuk membantu mengatasi kesenjangan kompetensi tersebut, Kaspersky menghadirkan platform Kaspersky Cyber Pathways. Sumber daya ini dirancang untuk membantu pengguna memahami berbagai peran di bidang keamanan siber, mengidentifikasi keterampilan yang dibutuhkan, serta menentukan arah pengembangan karier.

Managing Director Kaspersky untuk Asia Pasifik, Adrian Hia, mengatakan kawasan ini membutuhkan tenaga profesional yang tidak hanya memiliki kemampuan teknis, tetapi juga kecakapan analitis dan pemecahan masalah.

Menurutnya, pengembangan talenta membutuhkan panduan terstruktur dan praktis agar profesional dapat memahami kompetensi yang telah dimiliki serta keterampilan yang masih perlu ditingkatkan.

Cyber Pathways menyediakan fitur tes panduan karier interaktif yang disesuaikan dengan tiga kelompok pengguna, yakni pemula di bidang keamanan siber, profesional tingkat lanjut, dan organisasi.

Platform ini juga memperkenalkan Kaspersky Cyber Heroes, serangkaian karakter yang merepresentasikan enam bidang utama keamanan siber, yaitu intelijen ancaman, analisis malware, operasi keamanan, penilaian keamanan, keamanan jaringan, serta penelitian keamanan informasi.

Melalui pendekatan tersebut, pengguna dapat mengenali karakteristik setiap bidang sekaligus memahami kompetensi yang dibutuhkan untuk menjalankan peran tertentu.

Kaspersky juga menyediakan rekomendasi pembelajaran melalui program Kaspersky Cybersecurity Training dan Kaspersky Academy. Materinya dirancang dengan pendekatan praktis agar profesional dapat meningkatkan kemampuan menghadapi ancaman siber yang semakin kompleks.

Bagi perusahaan, platform ini turut mengarahkan pengguna pada sumber daya Kaspersky Security Awareness untuk membangun perilaku aman dalam penggunaan teknologi dan memperkuat budaya keamanan siber di lingkungan kerja.

Anggaran Keamanan TI Terus Meningkat

Kebutuhan pengembangan talenta semakin relevan seiring meningkatnya investasi perusahaan dalam keamanan teknologi informasi.

Survei global terbaru Kaspersky menunjukkan 81% organisasi di Asia Pasifik telah meningkatkan anggaran keamanan TI. Vietnam mencatat proporsi tertinggi sebesar 94%, disusul Indonesia 87%, Malaysia 83%, dan India 83%.

Kaspersky menilai peningkatan anggaran perlu diimbangi penguatan kompetensi sumber daya manusia. Pelatihan yang terstruktur dan berorientasi praktik menjadi salah satu langkah untuk memastikan investasi keamanan teknologi dapat berjalan efektif.

GCG BUMN
Dengan meningkatnya kompleksitas ancaman digital, pengembangan keterampilan teknis dan nonteknis dinilai menjadi bagian penting dalam membangun ketahanan siber organisasi di kawasan Asia Pasifik. (mas)

Artikel Terkait
Rekomendasi
Berita Pilihan
More Stories