JAKARTA (IndoTelko) - Wakil Menteri Ketenagakerjaan (Wamenaker) Afriansyah Noor menekankan pentingnya penguatan kompetensi teknis dan kemampuan bahasa bagi peserta pelatihan vokasi agar mampu memperluas peluang kerja, termasuk di pasar kerja internasional.
Hal tersebut disampaikan Wamenaker saat meninjau pelaksanaan Program Pelatihan Vokasi Nasional (PVN) di Balai Latihan Kerja dan Pengembangan Produktivitas (BLKPP) Yogyakarta, Jumat (31/7).
Menurut Afriansyah, kebutuhan tenaga kerja di luar negeri masih terbuka luas sehingga peserta pelatihan vokasi perlu memiliki kombinasi antara keterampilan teknis dan kemampuan komunikasi sesuai standar negara tujuan.
“Ke depan, kemampuan bahasa perlu semakin diperkuat dalam pelatihan vokasi. Peserta tidak hanya harus memiliki keterampilan teknis, tetapi juga kemampuan bahasa yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja,” ujar Afriansyah.
Dalam kunjungannya, Wamenaker juga berdialog dengan peserta pelatihan mengenai proses pembelajaran, kesiapan memasuki dunia kerja, serta peluang kerja yang dapat dimanfaatkan setelah menyelesaikan pelatihan.
Ia mengatakan program vokasi harus terus beradaptasi dengan kebutuhan industri agar lulusan memiliki kompetensi yang relevan dan mampu bersaing.
Salah satu aspek yang menjadi perhatian adalah kemampuan bahasa bagi calon pekerja yang ingin bekerja di luar negeri. Afriansyah menjelaskan sejumlah negara tujuan penempatan tenaga kerja memiliki persyaratan bahasa tertentu.
Sebagai contoh, calon pekerja ke Jepang umumnya perlu memiliki kemampuan bahasa Jepang minimal level N4, yaitu tingkat kemampuan dasar hingga menengah.
Selain meningkatkan kemampuan, Wamenaker juga mengingatkan peserta agar berhati-hati dalam memilih perusahaan penempatan kerja ke luar negeri.
“Jangan sampai salah memilih perusahaan penempatan. Pemerintah terus melakukan pengawasan terhadap perusahaan yang melanggar aturan, termasuk memberikan tindakan tegas dengan mencabut izin operasionalnya,” tegasnya.
Kemnaker berharap penguatan pelatihan vokasi dapat menghasilkan tenaga kerja Indonesia yang tidak hanya siap secara keterampilan, tetapi juga memiliki daya saing tinggi untuk memenuhi kebutuhan pasar kerja nasional maupun global. (mas)