Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) baru-baru ini merilis hasil Survei Penetrasi Internet 2026. Survei yang melibatkan 8.700 responden dari 38 provinsi itu mencatat angka penetrasi internet Indonesia telah menyentuh 81,72 persen, atau setara 235 juta jiwa dari total populasi 287,89 juta.
Dari bahan laporan yang didapat, ada tiga temuan penting menjadi catatan yakni konektivitas yang masih timpang, kualitas koneksi yang belum memadai, dan pemanfaatan internet untuk ekonomi yang masih jauh dari potensinya. Ketiganya terasa familiar, bahkan bisa dibilang klasik, karena sesungguhnya isu ini sudah berulang hadir dalam laporan APJII dari tahun ke tahun. Ada yang membuat survei 2026 ini berbeda yakni kemunculan satu variabel baru yang mengubah urgensi seluruh persoalan lama yaitu soal kecerdasan buatan.
Selama ini kita sibuk menghitung berapa banyak orang yang sudah terkoneksi. Survei ini mengingatkan bahwa pertanyaan yang lebih penting adalah terkoneksi untuk apa, dengan kualitas seperti apa, dan seberapa siap ekosistem ini menghadapi babak berikutnya?
Belum Selesai
Fakta pertama yang perlu diluruskan adalah bahwa penetrasi 81,72 persen bukan berarti masalah konektivitas sudah selesai. Dari total populasi 287,89 juta jiwa, masih ada sekitar 52,6 juta warga Indonesia yang sama sekali belum terkoneksi internet.
Hal yang mengejutkan adalah penyebab ketidaktersambungan itu. Selama ini narasi dominan menempatkan keterbatasan infrastruktur sebagai biang keladi. Faktanya, survei APJII menunjukkan bahwa 34 persen warga yang belum terkoneksi menyebut ketiadaan perangkat sebagai hambatan utama, sementara 31,5 persen lainnya mengaku tidak tahu cara menggunakan internet. Hanya 17,2 persen yang menyebut harga kuota terlalu mahal.
Artinya, masalah terbesar bukan infrastruktur jaringan, melainkan kepemilikan perangkat dan literasi digital. Implikasi kebijakannya berbeda secara fundamental yakni membangun menara BTS baru tidak akan menjangkau kelompok yang tidak punya smartphone dan tidak tahu cara memakainya. Kesenjangan ini bahkan memiliki dimensi gender yang nyata, perempuan lebih tinggi dari laki-laki dalam hambatan literasi (37 persen vs 26,2 persen) maupun hambatan biaya kuota (20,2 persen vs 14,1 persen).
Disparitas wilayah pun tidak kalah serius. Jawa mencatat penetrasi 85,95 persen dan menyumbang 58,24 persen dari seluruh pengguna internet nasional. Di sisi berlawanan, Sulawesi Barat hanya mencapai 54,25 persen, artinya hampir separuh penduduknya masih offline, sementara Papua Pegunungan berada di angka 58,72 persen. Gap antara Jawa dan kawasan Maluku-Papua mencapai 16 poin persentase, dan gap ini tidak menyempit secara berarti dari tahun ke tahun.
Fixed Broadband
Jika penetrasi menjadi kebanggaan, maka kualitas koneksi menjadi kelemahan yang paling sering diabaikan. Survei APJII 2026 mencatat bahwa 84,31 persen pengguna internet Indonesia mengakses internet melalui smartphone dengan paket data seluler. Laptop hanya 9,41 persen, sementara desktop nyaris tak terhitung, yakni 2,39 persen. Artinya, Indonesia adalah negara yang berselancar di internet melalui genggaman tangan.
Pelanggan fixed broadband memang tumbuh, dari 38,7 persen pengguna internet di 2025 menjadi 42,3 persen di 2026, atau sekitar 99,5 juta jiwa. Namun angka ini menyimpan ironi tersendiri dimana alasan terbesar orang tidak berlangganan internet tetap adalah mereka merasa internet seluler sudah cukup (47,2 persen). Ini bukan tanda kepuasan — ini adalah tanda adaptasi terhadap keterbatasan.
Pengalaman pengguna internet tetap yang sudah berlangganan pun jauh dari memuaskan. Tingkat kepuasan operator internet tetap hanya 7,25 dari 10, lebih rendah dari kepuasan operator seluler yang mencapai 7,39. Sebanyak 22,6 persen pelanggan merasakan tagihan lebih mahal dari tahun lalu, naik tajam dari 12,7 persen di 2025. Keluhan teknis pun masih tinggi dimana jaringan lambat dan sinyal lemah di lokasi tertentu menjadi dua gangguan yang paling sering disebut pengguna internet seluler.
Satu data lain yang patut dicermati adalah soal layanan satelit broadband. Di tengah euforia kehadiran layanan internet satelit di Indonesia, survei ini mencatat bahwa pengguna satellite broadband hanya 0,4 persen dari pelanggan internet tetap.
Digitalisasi Ekonomi
Paradoks ketiga yang bisa dibaca dari hasil survei itu adalah rendahnya pemanfaatan internet untuk kegiatan produktif dan bisnis. Survei APJII 2026 mencatat bahwa hanya 11,2 persen pengguna internet yang benar-benar mengandalkan internet untuk kegiatan ekonomi dan bisnis. Angka ini bahkan turun drastis dibanding 2025 yang mencapai 23,3 persen, sebuah penurunan 12 poin persentase dalam satu tahun yang memerlukan penjelasan lebih mendalam.
Alasan utama orang terkoneksi internet pun masih didominasi motif konsumtif: komunikasi dan media sosial (19,9 persen), hiburan streaming dan game (19,7 persen), serta pencarian informasi dan berita (19,6 persen). Sementara penggunaan untuk pendidikan dan pekerjaan hanya 10,9 persen, dan akses layanan keuangan hanya 5,8 persen. Internet, bagi mayoritas pengguna Indonesia, masih lebih banyak dipakai untuk menghibur diri daripada mengembangkan diri.
Dari pelaku bisnis berbasis digital yang ada pun, gambaran yang muncul belum menggembirakan. Sebanyak 68 persen dari mereka masih berpenghasilan di bawah Rp5 juta per bulan — angka yang menunjukkan bahwa monetisasi aktivitas ekonomi digital masih jauh dari optimal. Di sisi transaksi eCommerce, metode pembayaran yang paling dominan justru masih COD atau bayar di tempat, dengan angka 68,2 persen. Di negara yang sering disebut sebagai pasar digital terbesar Asia Tenggara, lebih dari dua pertiga transaksi online masih diselesaikan secara tunai di depan pintu.
AI
Di tengah semua capaian dan keterbatasan itu, ada satu variabel baru yang mulai mengubah peta permainan secara global: kecerdasan buatan. Dan di sinilah Indonesia menghadapi risiko tertinggal paling serius.
Survei APJII 2026 mencatat bahwa baru 27,3 persen pengguna internet Indonesia yang pernah mengakses layanan AI, naik dari 18,2 persen di 2025, tetapi tetap berarti bahwa 72,7 persen pengguna internet, atau lebih dari 171 juta orang, belum pernah menyentuh teknologi yang kini menjadi tulang punggung transformasi digital global.
Kelompok yang paling banyak menggunakan AI justru Millennial (29,4 persen), bukan Gen-Z (16,7 persen) dimana ini menggugurkan asumsi bahwa generasi muda secara otomatis lebih adaptif terhadap teknologi baru. Dari sisi tujuan penggunaan, AI untuk hiburan seperti video dan gambar generatif mendominasi (36,5 persen), melampaui AI untuk produktivitas dan pekerjaan (26,9 persen). Pola ini mengonfirmasi bahwa masyarakat Indonesia, ketika bertemu dengan teknologi baru sekalipun, cenderung mengarahkannya ke konsumsi hiburan terlebih dahulu sebelum memanfaatkannya secara produktif.
Implikasi dari kondisi ini sangat serius. Ketika negara-negara lain tengah mengintegrasikan AI ke dalam proses bisnis, pendidikan, dan layanan publik secara sistemik, Indonesia masih dalam tahap eksplorasi konsumtif. Jika kesenjangan adopsi ini tidak ditangani secara terstruktur, mulai dari infrastruktur, literasi digital, hingga ekosistem pengembang lokal, maka lebar penetrasi internet yang kita banggakan justru berpotensi menjadi jalan tol menuju konsumsi konten asing, bukan mesin produksi nilai tambah domestik.
Survei APJII 2026 mengajarkan sebuah pelajaran penting yaitu membangun ekosistem digital yang matang tidak cukup hanya dengan menghitung jumlah pengguna. Indonesia perlu beralih dari narasi penetrasi ke narasi kapasitas infrastruktur yang andal melalui perluasan fixed broadband, kapasitas ekonomi melalui digitalisasi UMKM yang nyata, dan kapasitas sumber daya manusia melalui literasi digital dan adopsi AI yang terstruktur.
Angka penetrasi 81,72 persen itu bukan garis finis. Ia adalah garis start dari babak yang jauh lebih menentukan.
@IndoTelko