telkomsel halo

DBS CIO, strategi investasi 2Q26 di tengah gejolak

08:02:00 | 22 Mar 2026
DBS CIO, strategi investasi 2Q26 di tengah gejolak
JAKARTA (IndoTelko) - Tinjauan kuartal II 2026 dari DBS Chief Investment Office menyoroti pentingnya ketahanan portofolio di tengah ketidakpastian global, khususnya akibat konflik geopolitik dan perubahan arah kebijakan moneter.

DBS menilai situasi saat ini sebagai kombinasi peluang dan risiko. Di satu sisi, pasar masih didukung oleh pertumbuhan ekonomi dan belanja AI, namun di sisi lain tekanan dari konflik di Timur Tengah berpotensi mengganggu stabilitas, terutama melalui lonjakan harga energi. Minyak disebut sebagai jalur utama transmisi risiko, mengingat peran Iran dalam produksi global serta pentingnya Selat Hormuz bagi distribusi minyak dan gas. Kenaikan harga energi dinilai dapat mendorong inflasi dan membatasi ruang bank sentral untuk melonggarkan kebijakan.

Di Amerika Serikat, arah kebijakan Federal Reserve juga menjadi sorotan, terutama dengan munculnya pandangan baru yang membuka peluang pemangkasan suku bunga lebih agresif berkat dorongan produktivitas dari AI. Namun, terdapat pula indikasi kebijakan pengetatan likuiditas atau quantitative tightening, yang berpotensi memengaruhi kurva imbal hasil dan memberikan dukungan bagi sektor keuangan.

Dalam kondisi ini, DBS menekankan pentingnya diversifikasi dan pengelolaan risiko. Investor disarankan mengurangi konsentrasi pada aset yang terlalu padat (crowded trades) dan mulai mengalihkan sebagian eksposur ke pasar negara berkembang serta Jepang. Kawasan tersebut dinilai memiliki potensi pertumbuhan yang lebih menarik, didukung faktor seperti pelemahan dolar AS, pertumbuhan laba, serta reformasi struktural.

Secara umum, DBS mengambil sikap netral terhadap berbagai kelas aset. Ekonomi AS masih menunjukkan ketahanan meskipun mulai melambat, dan tidak diperkirakan masuk resesi selama tidak terjadi eskalasi besar dari konflik global. Pertumbuhan laba perusahaan global diproyeksikan tetap kuat, sementara obligasi mulai menawarkan valuasi yang lebih menarik dibandingkan saham.

Di pasar ekuitas, Asia di luar Jepang masih menjadi pilihan utama seiring rotasi portofolio global menjauh dari AS. Sementara itu, Jepang menunjukkan prospek yang membaik berkat reformasi tata kelola, stimulus fiskal, serta valuasi yang lebih kompetitif.

Untuk obligasi, DBS tetap mengutamakan kualitas tinggi, khususnya pada segmen investment grade dengan durasi menengah. Namun, tekanan dari disrupsi AI membuat tidak semua sektor kredit memiliki profil risiko yang sama, sehingga selektivitas menjadi kunci.

Pada aset alternatif, emas kembali ditegaskan sebagai lindung nilai utama di tengah ketidakpastian. DBS melihat logam mulia ini tetap didukung oleh risiko geopolitik, pelemahan dolar, serta permintaan dari bank sentral, dengan target harga yang terus meningkat. Selain itu, hedge fund juga dinilai relevan karena mampu memanfaatkan volatilitas pasar melalui strategi long/short.

GCG BUMN
Secara keseluruhan, DBS menilai kuartal II 2026 sebagai periode yang menuntut disiplin dalam diversifikasi dan fokus pada kualitas, di tengah dinamika global yang masih penuh tantangan namun tetap membuka peluang. (mas)

Ikuti terus perkembangan berita ini dalam topik
Artikel Terkait
Rekomendasi
Berita Pilihan
More Stories