JAKARTA (IndoTelko) Jobstreet by SEEK menyoroti penerapan servant leadership sebagai pendekatan kepemimpinan untuk membangun organisasi yang adaptif dan berorientasi pada manusia. Model kepemimpinan yang menempatkan pemimpin sebagai pendukung tim ini dinilai dapat memperkuat kolaborasi, mendorong inovasi, serta meningkatkan kontribusi karyawan terhadap bisnis.
Pembahasan tersebut diangkat dalam podcast Power Talks bertajuk “Servant Leadership untuk HR” bersama Country Director of People & Culture Ascott Indonesia Alberta Sekundarti.
Dalam diskusi tersebut, Alberta membagikan pengalamannya memimpin transformasi sumber daya manusia (SDM) di berbagai industri, termasuk integrasi budaya setelah merger dan pengelolaan fungsi People & Culture di sektor hospitality. Ia menyampaikan lima pelajaran bagi profesional HR dan pemimpin bisnis.
Pertama, pemimpin perlu berperan sebagai pendukung tim. Alberta menjelaskan, servant leadership bukan berarti pemimpin kehilangan kewenangan untuk mengarahkan karyawan. Sebaliknya, pemimpin harus membuka jalan, memberikan dukungan, mendengarkan kebutuhan tim, dan membantu anggota mencapai target.
Pendekatan tersebut dinilai relevan ketika perusahaan menjalani perubahan organisasi atau merger. Komunikasi terbuka dan arahan konstruktif dapat mengurangi resistensi sekaligus mendorong karyawan menjadi agen perubahan.
Kedua, HR perlu memahami strategi bisnis. Menurut Alberta, profesional HR harus menguasai visi perusahaan, prioritas bisnis, target, dan indikator keberhasilan agar dapat memberikan kontribusi strategis.
Pemahaman tersebut memungkinkan HR menerjemahkan strategi perusahaan menjadi kebutuhan organisasi, pengembangan kompetensi, dan program pengelolaan tenaga kerja yang relevan.
“HR itu harus bisa jadi enabler bisnis, bukan hanya fungsi support,” tegas Alberta.
Ketiga, profesional perlu memiliki kemampuan beradaptasi dalam perjalanan karier. Alberta menceritakan pengalamannya beralih dari jurnalis televisi ke dunia korporasi dan HR. Perubahan profesi tersebut menuntut keberanian keluar dari zona nyaman serta kemauan mempelajari keterampilan baru.
Pengalaman dari pekerjaan sebelumnya, seperti menghadapi situasi mendesak, membangun jejaring, dan mengelola krisis, tetap dapat menjadi modal. Namun, profesional juga perlu memperbarui kompetensi melalui pembelajaran dan sertifikasi.
“Never stop learning. Apapun yang menjadi konteks dari industri yang mau kita capai, kita harus tahu apa yang dibutuhkan,” ujarnya.
Keempat, perusahaan perlu membangun psychological safety untuk mendorong inovasi. Alberta menilai karyawan harus merasa aman dalam menyampaikan pendapat, mengajukan ide, dan berdiskusi tanpa takut dihakimi.
Lingkungan tersebut dapat dibangun melalui komunikasi terbuka dan pendekatan coaching. Pemimpin tidak harus selalu memberikan jawaban, tetapi dapat mendorong anggota tim menyusun alternatif solusi, mempertimbangkan risiko, dan memahami dampak keputusan.
Pendekatan ini membantu karyawan mengembangkan kemampuan berpikir mandiri, meningkatkan kepercayaan diri, dan memperkuat rasa memiliki terhadap keputusan tim.
Kelima, budaya perusahaan perlu selaras dengan pengalaman pelanggan. Dalam industri hospitality, Alberta menilai budaya organisasi berkaitan erat dengan identitas merek dan kualitas layanan.
Karena itu, nilai perusahaan perlu diterjemahkan ke dalam perilaku sehari-hari karyawan melalui komunikasi dan pelatihan berkelanjutan. Setiap karyawan harus memahami kontribusinya terhadap pengalaman pelanggan dan pencapaian organisasi.
Alberta juga menekankan bahwa transformasi tidak selalu membutuhkan perubahan besar. Perbaikan kecil yang konsisten dapat memberikan dampak luas selama tetap relevan dengan perkembangan bisnis dan teknologi.
“Transformasi itu tidak harus revolusi. It’s an evolution, kecil-kecil. Transformasi itu yang akan jadi gunung dan yang pastinya harus terus relevan dengan perkembangan teknologi,” jelasnya.
Power Talks Bahas Dinamika Dunia Kerja
Podcast Power Talks menjadi bagian dari inisiatif Jobstreet by SEEK untuk menghadirkan diskusi mengenai perkembangan dunia kerja dan pengelolaan SDM di Indonesia.
Episode “Servant Leadership untuk HR” dipandu Head of Country Marketing Indonesia Jobstreet by SEEK Sawitri dengan menghadirkan perspektif praktis dari pelaku industri.
Sawitri mengatakan, Power Talks dirancang sebagai ruang berbagi pengalaman dan gagasan yang dapat diterapkan profesional HR, pemimpin bisnis, maupun pencari kerja dalam menghadapi dinamika ketenagakerjaan.
Melalui diskusi ini, Jobstreet berharap semakin banyak organisasi menerapkan kepemimpinan yang membangun kepercayaan, memperkuat kemampuan tim, dan mendukung pertumbuhan bisnis secara berkelanjutan. (mas)