JAKARTA (IndoTelko) — Bitcoin kembali menguat dan diperdagangkan di level US$81.511 pada perdagangan Jumat, naik 2,45 persen dalam 24 jam terakhir. Penguatan tersebut melampaui kenaikan pasar kripto global yang tercatat sekitar 1,97 persen.
Sentimen positif pasar dipicu perkembangan regulasi aset digital di Amerika Serikat setelah CLARITY Act lolos dari U.S. Senate Banking Committee melalui voting 15-9 pada 14 Mei 2026.
Rancangan regulasi tersebut dinilai menjadi langkah penting untuk memberikan kepastian hukum industri aset digital, khususnya terkait pembagian pengawasan antara Commodity Futures Trading Commission (CFTC) dan U.S. Securities and Exchange Commission (SEC).
Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur menilai penguatan Bitcoin kali ini tidak hanya dipicu faktor teknikal, tetapi juga perubahan persepsi risiko dari investor institusional.
Menurutnya, kemajuan CLARITY Act dipandang pasar sebagai sinyal bahwa arah regulasi kripto di AS mulai memasuki fase yang lebih jelas dan kondusif bagi industri.
Selain faktor regulasi, reli Bitcoin turut diperkuat tekanan di pasar derivatif. Data menunjukkan open interest Bitcoin melonjak lebih dari 37 persen dalam 24 jam, sementara posisi short senilai sekitar US$71 juta mengalami likuidasi.
Kondisi tersebut memicu short squeeze, yakni situasi ketika trader yang memasang posisi penurunan harga terpaksa membeli kembali aset untuk menutup posisi mereka, sehingga mempercepat kenaikan harga.
Secara teknikal, Bitcoin kini mendekati area penting simple moving average 200 hari di sekitar US$82.455.
Jika mampu bertahan dan menutup perdagangan di atas level tersebut, Bitcoin disebut berpotensi melanjutkan penguatan menuju area US$85 ribu.
Namun, pasar juga mencermati area support psikologis di kisaran US$80 ribu hingga US$80.458 sebagai penopang momentum bullish jangka pendek.
Fyqieh menilai kegagalan mempertahankan level tersebut dapat membuka risiko koreksi lebih dalam hingga area US$70 ribu akibat potensi likuidasi posisi long.
Selain sentimen regulasi, prospek jangka menengah Bitcoin juga didukung kembali positifnya arus dana ke ETF Bitcoin spot.
Produk ETF spot dinilai memiliki pengaruh langsung terhadap permintaan Bitcoin karena penerbit ETF harus memiliki aset BTC secara aktual.
Di sisi lain, data on-chain menunjukkan kelompok whale dengan kepemilikan 10 hingga 10 ribu BTC telah mengakumulasi lebih dari 61 ribu BTC dalam satu bulan terakhir.
Pola akumulasi tersebut dinilai menjadi indikasi investor besar masih melihat potensi penguatan Bitcoin dalam jangka menengah hingga panjang.
Menurut Fyqieh, kombinasi sentimen regulasi, arus masuk ETF, serta akumulasi whale menjadi faktor utama yang dapat menopang reli Bitcoin selanjutnya.
Meski demikian, pasar tetap menunggu konfirmasi lanjutan, terutama dari proses pembahasan CLARITY Act di Senat AS dan kemampuan harga Bitcoin menembus resistance utama di atas US$82 ribu. (mas)