JAKARTA (IndoTelko) Pasar pusat data (data center) Indonesia diproyeksikan tumbuh dari US$3,1 miliar pada 2025 menjadi US$8,4 miliar pada 2034, dengan tingkat pertumbuhan tahunan rata-rata (CAGR) sebesar 11,66%.
Proyeksi itu termuat dalam laporan terbaru IMARC Group yang dirilis tahun ini.
Digitalisasi yang pesat, adopsi layanan cloud, dan posisi Indonesia sebagai ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara menjadi pendorong utama pertumbuhan tersebut.
Regulasi kedaulatan data yang mewajibkan perusahaan menyimpan data di dalam negeri turut menciptakan lonjakan permintaan infrastruktur secara masif.
Jakarta saat ini masih memegang posisi sebagai hub pusat data nasional utama. Namun, laporan IMARC mencatat munculnya klaster sekunder di Bekasi, Karawang, dan Batam yang mulai menarik investasi besar dari penyedia layanan hyperscale global karena ketersediaan lahan dan pasokan listrik yang memadai.
Pemerintah turut berperan aktif mendorong investasi melalui sejumlah insentif, di antaranya kebijakan PPN 0% untuk impor peralatan di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Cikarang dan Batam, serta kemudahan perizinan melalui sistem Online Single Submission (OSS).
Teknologi kecerdasan buatan (AI) kini juga mulai mengubah operasional pusat data di Indonesia. “AI Factory” hasil kolaborasi Indosat dan NVIDIA senilai US$ 250 juta telah melayani lebih dari 20 perusahaan sejak Oktober 2024.
IMARC menyoroti tiga tren utama penggunaan AI di sektor ini, yakni optimalisasi energi berbasis machine learning, peningkatan permintaan infrastruktur GPU untuk aplikasi AI generatif, serta pemeliharaan prediktif guna mencegah downtime perangkat keras.
Konsumsi data seluler rata-rata penduduk Indonesia turut mencatat lonjakan signifikan, dari 7,2 GB pada 2020 menjadi lebih dari 14 GB pada 2024. Tren itu diprediksi akan terus mendorong kebutuhan infrastruktur data center yang skalabel dan andal sepanjang dekade mendatang.​​​​​​​​​(wn)