JAKARTA (IndoTelko) - ST Telemedia Global Data Centres (STT GDC) memperkuat komitmennya di Indonesia melalui perluasan platform pendanaan senilai Rp8,8 triliun atau sekitar US$500 juta. Dana tersebut akan digunakan untuk mendukung pengembangan kampus pusat data STT Jakarta, termasuk pembangunan fasilitas baru STT Jakarta 3.
Fasilitas pendanaan dengan skema dua mata uang (dual-currency) ini sekaligus menjadi pendanaan hijau (green financing) pertama STT GDC di Indonesia melalui tranche pinjaman berjangka hijau yang ditujukan untuk mendukung pembangunan infrastruktur pusat data berkelanjutan.
Country Head Indonesia STT GDC, Hendrikus Gozali, mengatakan pendanaan terbaru tersebut merupakan bagian dari strategi jangka panjang perusahaan untuk memperluas kapasitas pusat data di Indonesia seiring meningkatnya kebutuhan layanan cloud, kecerdasan buatan (AI), dan komputasi berkinerja tinggi.
Menurutnya, ekspansi ini juga mencerminkan komitmen perusahaan dalam menghadirkan infrastruktur digital yang berkelanjutan dan mampu mendukung pertumbuhan ekonomi digital nasional.
Platform pendanaan yang diperluas tersebut melanjutkan skema pembiayaan yang sebelumnya telah dimiliki STT GDC Indonesia, termasuk fasilitas pinjaman berjangka, pinjaman bergulir, dan trade facility. Struktur pembiayaan sebelumnya bahkan memperoleh penghargaan Best Structured Finance Deal (Indonesia) pada ajang FinanceAsia Achievement Awards 2025.
Dengan tambahan fasilitas baru, STT GDC memperoleh fleksibilitas yang lebih besar dalam mendukung pengembangan kampus pusat data STT Jakarta 1, STT Jakarta 2, hingga STT Jakarta 3 secara terintegrasi.
Tranche pinjaman hijau akan difokuskan untuk pembangunan STT Jakarta 3 yang berlokasi di Cikarang, Bekasi. Fasilitas ini menjadi bagian dari pengembangan STT Jakarta Campus yang ditargetkan memiliki kapasitas teknologi informasi lebih dari 360 megawatt (MW) saat beroperasi penuh.
Pusat data tersebut dirancang untuk mengakomodasi kebutuhan beban kerja generasi baru, termasuk layanan cloud, AI, dan high-performance computing (HPC). Untuk mendukung kebutuhan tersebut, STT Jakarta 3 dibangun dengan fleksibilitas penggunaan teknologi pendingin cair (liquid cooling) maupun sistem pendingin udara berteknologi tinggi.
Dari sisi keberlanjutan, fasilitas ini ditargetkan memiliki tingkat efisiensi energi atau Power Usage Effectiveness (PUE) sebesar 1,30 serta meraih sertifikasi LEED Gold. Selain itu, sistem pendinginnya akan menggunakan refrigeran dengan tingkat Global Warming Potential (GWP) yang sangat rendah guna mengurangi dampak lingkungan.
STT GDC menyebut fasilitas hijau tersebut telah disusun sesuai Green Loan Principles yang dikembangkan oleh Asia Pacific Loan Market Association (APLMA), Loan Market Association (LMA), dan Loan Syndications and Trading Association (LSTA), serta mengikuti berbagai kerangka pembiayaan berkelanjutan yang berlaku.
Struktur pembiayaan yang menggabungkan komponen dolar Amerika Serikat dan rupiah juga memberikan fleksibilitas lebih tinggi dalam mendukung kebutuhan investasi sepanjang siklus pengembangan kampus pusat data. Selain itu, fasilitas tersebut telah dirancang untuk mengakomodasi ekspansi di masa depan tanpa memerlukan perubahan struktur pembiayaan yang signifikan.
Pendanaan ini mendapat dukungan dari sejumlah institusi keuangan yang selama ini menjadi mitra STT GDC Indonesia, yakni PT Bank OCBC NISP Tbk, PT Bank HSBC Indonesia, dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. Dalam transaksi ini, OCBC juga bertindak sebagai Bank Koordinator, Sole Green Coordinator, sekaligus Agen Fasilitas.
Melalui penguatan pendanaan tersebut, STT GDC optimistis dapat mempercepat pembangunan infrastruktur pusat data yang siap mendukung pertumbuhan kebutuhan AI, cloud computing, dan layanan digital di Indonesia yang terus meningkat dalam beberapa tahun ke depan. (mas)