JAKARTA (IndoTelko) - Harga Bitcoin sempat menguat mendekati US$75.000 seiring meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, namun tekanan makroekonomi masih membatasi pergerakan.
Sentimen positif muncul setelah kabar gencatan senjata sementara antara Israel dan Lebanon, yang mendorong minat investor terhadap aset berisiko. Bitcoin pun naik dari kisaran US$73.000 ke area US$74.800-US$75.000. (Coinpaper)
Namun, penguatan tersebut tidak bertahan lama. Data ekonomi Amerika Serikat yang lebih kuat dari perkiraan memicu koreksi harga, karena memperbesar peluang Federal Reserve menunda penurunan suku bunga.
Dari sisi inflasi, data menunjukkan sinyal campuran. Inflasi konsumen (CPI) tercatat 3,3%, lebih tinggi dibanding bulan sebelumnya, sementara tekanan inflasi inti masih berada di atas target bank sentral. Kondisi ini memperkuat ekspektasi bahwa suku bunga akan bertahan tinggi lebih lama. (CoinUnited.io)
Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, menilai pergerakan Bitcoin saat ini berada di fase tarik-menarik antara sentimen geopolitik dan tekanan makro global.
Ia menyebut arus dana institusional, termasuk melalui ETF Bitcoin, mulai menunjukkan pemulihan dan menjadi penopang tren jangka menengah. Selain itu, akumulasi oleh investor besar juga masih berlangsung.
Meski demikian, tekanan jual jangka pendek masih membatasi kenaikan. Aksi ambil untung meningkat saat harga mendekati US$76.000, yang kini menjadi area resistance utama. (Coinpaper)
Dengan kondisi tersebut, Bitcoin dinilai masih berada dalam fase konsolidasi. Pergerakan harga ke depan akan sangat dipengaruhi arah kebijakan suku bunga global serta perkembangan geopolitik.
Dalam jangka menengah, prospek tetap positif, namun volatilitas diperkirakan masih tinggi hingga muncul katalis baru di pasar. (mas)