JAKARTA (IndoTelko) - Bagi banyak organisasi di Asia Pasifik, pertanyaannya bukan lagi apakah perlu membangun Security Operations Center (SOC), melainkan apa yang benar-benar dibutuhkan agar SOC dapat beroperasi secara efektif. Meski banyak perusahaan menargetkan peluncuran dalam waktu satu tahun dengan anggaran terkendali, realitas di lapangan menunjukkan variasi signifikan, dipengaruhi oleh skala bisnis, tingkat kematangan keamanan, serta prioritas strategis masing-masing organisasi.
Berdasarkan studi global Kaspersky, anggaran rata-rata untuk mendirikan SOC secara global berada di kisaran 2 juta dolar AS. Namun di Asia Pasifik, mayoritas organisasi (93%) merencanakan anggaran di bawah 1 juta dolar AS, dan di Indonesia angkanya mencapai 91%. Meski demikian, terdapat pula organisasi yang mengalokasikan anggaran lebih besar, bahkan hingga 5 juta dolar AS, dengan rata-rata implementasi mencapai 3,5 juta dolar AS.
Secara global, besaran anggaran sangat dipengaruhi oleh ukuran perusahaan dan tingkat outsourcing SOC. Perusahaan kecil cenderung memilih investasi yang lebih sederhana, sementara organisasi besar merencanakan proyek berbiaya tinggi karena cakupan infrastruktur dan tuntutan operasional yang lebih luas. Di beberapa negara seperti Vietnam dan Tiongkok, organisasi menunjukkan kesiapan berinvestasi lebih tinggi dibandingkan rata-rata global, sejalan dengan fokus pada kedaulatan digital dan penguatan solusi keamanan nasional.
Roman Nazarov, Kepala Konsultasi SOC di Kaspersky mengatakan, anggaran pembangunan SOC sangat bervariasi dan semua angka dapat dianggap realistis tergantung kebutuhan. Ia menjelaskan bahwa investasi awal umumnya mencakup lisensi dan perangkat keras sebagai belanja modal, sementara biaya operasional jangka panjang, terutama gaji personel, akan membentuk total biaya kepemilikan. Ia menekankan pentingnya rencana strategis yang jelas sejak awal untuk memastikan investasi memberikan hasil optimal dan membangun postur keamanan siber yang tangguh.
Dari sisi waktu implementasi, dua pertiga perusahaan di Asia Pasifik (69%) memperkirakan pembangunan SOC membutuhkan waktu 612 bulan, sementara 25% memperkirakan proyek dapat berlangsung hingga dua tahun. Secara global, perusahaan besar justru cenderung memprioritaskan peluncuran lebih cepat dengan memulai dari segmen infrastruktur yang paling kritis, kemudian memperluas cakupan secara bertahap.
Penelitian ini juga menunjukkan bahwa tantangan pembangunan SOC tidak hanya terletak pada satu faktor dominan. Evaluasi efektivitas SOC menjadi perhatian utama di Asia Pasifik, dengan 34% responden menyoroti pentingnya pengukuran kinerja melalui indikator seperti Return on Investment (ROI), Mean Time to Detect (MTTD), dan Mean Time to Respond (MTTR), serta kepatuhan terhadap standar industri.
Selain itu, organisasi juga menghadapi biaya modal tinggi, kompleksitas integrasi berbagai solusi keamanan, serta keterbatasan sumber daya manusia. Hampir sepertiga responden mengakui kurangnya keahlian internal maupun eksternal sebagai hambatan signifikan. Tantangan lain mencakup pengelolaan solusi keamanan yang kompleks, ketiadaan rencana aksi yang jelas, dan kesulitan membangun proses internal yang terstandarisasi.
Adrian Hia, Managing Director Asia Pasifik di Kaspersky, menyatakan bahwa percakapan mengenai SOC kini telah bergeser dari bagaimana membangunnya menjadi bagaimana membuktikan nilainya secara nyata. Ia menilai tekanan terhadap pemimpin bisnis untuk membenarkan investasi dengan hasil terukur semakin tinggi, sementara kompleksitas integrasi teknologi dan kesenjangan talenta menjadikan keunggulan operasional lebih sulit dicapai. Menurutnya, disiplin dalam menetapkan metrik yang jelas, membangun arsitektur terintegrasi, serta memastikan kombinasi keahlian yang tepat menjadi pembeda utama antara SOC sebagai pusat biaya dan SOC sebagai keunggulan strategis.
Untuk mendukung organisasi dalam membangun dan mengoperasikan SOC yang andal, Kaspersky merekomendasikan pendekatan terintegrasi yang mencakup layanan konsultasi SOC, penerapan solusi SIEM berbasis AI untuk analisis log dan intelijen ancaman, penggunaan teknologi EDR dan XDR untuk perlindungan dan respons waktu nyata, pemanfaatan Threat Intelligence untuk visibilitas risiko siber yang lebih dalam, serta layanan Managed Detection and Response dan Incident Response bagi organisasi yang menghadapi keterbatasan sumber daya internal.
Melalui pendekatan yang terstruktur dan berbasis kebutuhan bisnis, pembangunan SOC di Asia Pasifik tidak lagi sekadar proyek teknologi, melainkan investasi strategis untuk menghadapi lanskap ancaman siber yang semakin kompleks. (mas)