telkomsel halo

AI jadi penentu daya saing ekonomi digital ASEAN

04:10:00 | 18 Feb 2026
AI jadi penentu daya saing ekonomi digital ASEAN
MANILA (IndoTelko) ASEAN Foundation dengan dukungan Google.org resmi meluncurkan laporan ASEAN Digital Outlook sekaligus memaparkan temuan kunci riset AI Ready ASEAN dalam forum AI Ready ASEAN: 3rd Regional Policy Convening di Manila, Filipina.

Disusun bersama ASEAN Digital Senior Officials’ Meeting (ADGSOM), laporan ini memetakan tingkat kematangan digital, kesiapan infrastruktur, tata kelola, hingga keamanan siber di negara-negara anggota ASEAN. Peluncuran tersebut menjadi tonggak terbaru Program AI Ready ASEAN yang sejauh ini telah menjangkau lebih dari 5 juta penerima manfaat, melatih 100.000 peserta dalam kecakapan AI tingkat lanjut, serta mencetak lebih dari 3.000 master trainers di Asia Tenggara.

Transformasi digital dan AI kini membentuk ulang lanskap ekonomi, pendidikan, dan layanan publik di kawasan berpenduduk lebih dari 660 juta jiwa tersebut. Dengan hampir sepertiga populasi berusia di bawah 20 tahun, kesiapan adopsi AI yang bertanggung jawab dinilai krusial bagi masa depan keterampilan dan penciptaan lapangan kerja.

Ekonomi digital ASEAN sendiri diproyeksikan melonjak dari USD 300 miliar menjadi USD 1 triliun pada 2030. Namun, laporan ini menegaskan bahwa percepatan adopsi AI belum sepenuhnya diimbangi kesiapan institusi, regulasi, dan literasi publik.

“Di seluruh kawasan ASEAN, penggunaan AI berkembang jauh lebih cepat dibandingkan kemampuan sistem kita untuk mengarahkannya,” ujar Direktur Eksekutif ASEAN Foundation, Piti Srisangnam. Menurutnya, bukti berbasis data penting untuk merancang kebijakan yang menjaga kepercayaan publik dan memastikan AI memberi manfaat luas.

Laporan ASEAN Digital Outlook menunjukkan sejumlah negara telah mencatat kemajuan dalam pembangunan infrastruktur digital. Namun, ketimpangan masih terlihat dalam tingkat kematangan digital, kapasitas institusional, kesiapan siber, serta penguatan keterampilan.

Pendekatan nasional yang terfragmentasi dinilai belum cukup menjawab tantangan lintas batas seperti misinformasi, kebocoran data, hingga penipuan berbasis deepfake yang semakin kompleks.

Sementara itu, riset AI Ready ASEAN memfokuskan analisis pada komunitas pendidikan di 10 negara anggota. Temuan menunjukkan kesenjangan antara tingginya tingkat penggunaan AI dengan kesiapan literasi dan etika.

Di Indonesia, 95,25% siswa melaporkan telah menggunakan model AI generatif. Angka tersebut jauh di atas tingkat penggunaan di kalangan pendidik (46,20%) dan orang tua (62,19%). Siswa juga lebih cepat mengadopsi perangkat AI lain (53,25%) dibandingkan pendidik (27,29%).

Kurang dari separuh pendidik menyatakan institusinya telah menyediakan panduan kebijakan AI, dukungan keamanan siber, maupun pelatihan yang memadai.

Kepala Google.org Asia Pasifik, Marija Ralic, menekankan bahwa akses teknologi saja tidak cukup. “Kesiapan sesungguhnya menuntut pemahaman tentang cara kerja AI, batasannya, serta bagaimana teknologi ini digunakan secara etis,” ujarnya.

GCG BUMN
Secara keseluruhan, kedua studi tersebut menegaskan bahwa adopsi AI di ASEAN bergerak lebih cepat daripada kesiapan tata kelola, literasi, dan institusi. ASEAN Foundation berharap laporan ini menjadi rujukan utama bagi pembuat kebijakan, pendidik, dan mitra pembangunan dalam merancang intervensi yang memperkuat literasi digital, kesiapan institusional, serta pertumbuhan ekonomi digital yang inklusif dan berkelanjutan.(wn)

Ikuti terus perkembangan berita ini dalam topik
Artikel Terkait
Rekomendasi
Berita Pilihan
More Stories