telkomsel halo

Pilah sampah jadi gaya hidup Ramadan

07:58:00 | 27 Feb 2026
Pilah sampah jadi gaya hidup Ramadan
JAKARTA (IndoTelko) Kesadaran memilah sampah kini tak lagi sebatas aktivitas bersih-bersih rumah. Di tengah tren hidup sehat dan mindful living, kebiasaan ini berkembang menjadi bagian dari identitas gaya hidup yang lebih peduli lingkungan, terutama menjelang Ramadan ketika produksi sampah rumah tangga cenderung meningkat.

Momentum Ramadan yang sarat refleksi dinilai tepat untuk menata ulang kebiasaan di rumah, termasuk dalam mengelola limbah. Tanpa pengelolaan yang baik, sisa makanan, kemasan sekali pakai, hingga barang berukuran besar seperti furnitur dan perangkat elektronik berpotensi menambah beban tempat pembuangan akhir (TPA).

Dalam rangka Hari Peduli Sampah Nasional 21 Februari 2026 sekaligus menyambut Ramadan, Semen Merah Putih mengajak masyarakat membangun kebiasaan memilah sampah secara konsisten. “Kepedulian bukan sekadar program sesaat, tetapi kebiasaan yang dilakukan bersama dan berkelanjutan,” ujar Head of Marketing Semen Merah Putih, Nyiayu Chairunnikma.

Langkah Sederhana, Dampak Berkelanjutan

Perubahan perilaku memang memerlukan proses. Namun, pengelolaan sampah dapat dimulai dari langkah yang realistis di rumah.

Pertama, menerapkan sistem tiga kategori: organik, anorganik, dan residu. Sampah organik seperti sisa makanan dan sayuran dapat terurai alami. Sampah anorganik meliputi plastik, kertas, logam, kaca, hingga barang yang masih berpotensi digunakan ulang. Adapun residu merupakan jenis limbah yang sulit didaur ulang, seperti popok sekali pakai, kemasan multilayer, hingga styrofoam kotor. Pemisahan sejak awal mempermudah proses pengolahan sekaligus meningkatkan kesadaran konsumsi.

Kedua, menentukan jadwal rutin untuk memilah, misalnya satu kali dalam sepekan. Dengan ritme teratur, aktivitas ini menjadi bagian dari kebiasaan rumah tangga, bukan beban tambahan.

Ketiga, memanfaatkan sampah organik sebagai proyek kecil di rumah. Sisa sayur dan buah dapat diolah menjadi kompos atau pupuk cair sederhana. Selain mengurangi limbah, kegiatan ini juga menjadi sarana edukasi bagi anak tentang siklus alam.

Keempat, menerapkan prinsip “before you throw”. Sebelum membuang barang, biasakan mempertimbangkan kemungkinan pakai ulang, perbaikan, atau donasi. Kebiasaan ini mendorong pola konsumsi yang lebih bijak.

Kelima, menjadikan setor sampah terpilah ke bank sampah sebagai agenda rutin. Berbagai jenis limbah seperti plastik, kertas, minyak jelantah, hingga perangkat elektronik dapat dikelola lebih bertanggung jawab sekaligus memiliki nilai ekonomi.

Peran Komunitas dan Industri

Sejumlah komunitas turut memperkuat gerakan ini, seperti Bank Sampah Induk Rumah Harum, Pilah Sampah, dan Kabelotapura yang aktif mendorong warga memilah serta menyetorkan sampah dari rumah.

Di sisi lain, dukungan sektor industri juga kian dibutuhkan untuk memastikan sampah terkelola optimal. Salah satunya melalui program SIRKULA-C yang diinisiasi PT Cemindo Gemilang Tbk, produsen Semen Merah Putih. Program ini dijalankan di sekitar wilayah operasional seperti Plant Bayah dan Jatiasih dengan pendekatan ekonomi sirkular.

Dalam implementasinya, sampah organik dimanfaatkan untuk budidaya maggot dan pengomposan. Sementara sampah anorganik berkalori tinggi diolah menjadi refuse-derived fuel (RDF) sebagai bahan bakar alternatif. Skema ini tidak hanya menekan volume limbah, tetapi juga membuka peluang pemberdayaan masyarakat.

GCG BUMN
Menurut Nyiayu, perubahan besar berawal dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten. “Kepedulian bisa dimulai dari rumah, dari keputusan sederhana untuk memilah sampah. Ketika satu keluarga bergerak, lingkungan ikut berubah, dan pada akhirnya menjadi budaya,” tutupnya. (mas)

Artikel Terkait
Rekomendasi
Berita Pilihan
Ramadan 2026
More Stories