telkomsel halo

AdaKami sumbang hingga Rp10,9 T ke PDB

05:56:00 | 26 Feb 2026
AdaKami sumbang hingga Rp10,9 T ke PDB
JAKARTA (IndoTelko) Pendanaan yang disalurkan platform pinjaman daring AdaKami dinilai memberi kontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional. Riset Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) mengestimasi kontribusi AdaKami terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) 2024 berada pada kisaran Rp6,95 triliun hingga Rp10,96 triliun.

Angka tersebut berasal dari efek pengganda (multiplier effect) penyaluran pembiayaan yang mendorong konsumsi rumah tangga dan memicu aktivitas di berbagai sektor produktif. Studi mencatat sedikitnya 185 sektor ekonomi memperoleh nilai tambah dari perputaran dana tersebut.

Tiga sektor dengan dampak terbesar adalah jasa lembaga keuangan lainnya (21,34%), jasa pendidikan pemerintah (10,03%), serta perdagangan selain mobil dan sepeda motor (9,30%). Dampak ini kemudian menyebar ke sektor lain secara langsung maupun tidak langsung.

Wakil Kepala LPEM FEB UI, Mohamad Dian Revindo, menjelaskan bahwa pembiayaan konsumsi berperan memperkuat permintaan barang dan jasa, mulai dari ritel, transportasi, manufaktur hingga sektor primer. Dalam jangka pendek, efek ini menopang aktivitas produksi dan menjaga denyut ekonomi riil.

Dari sisi ketenagakerjaan, riset memperkirakan pendanaan AdaKami turut membuka peluang kerja bagi sekitar 47 ribu hingga 78 ribu orang di 17 sektor industri. Kontribusi terbesar tercatat pada perdagangan besar dan eceran (19,84%), jasa pendidikan (18,63%), serta pertanian, kehutanan, dan perikanan (15,11%).

Bantalan Konsumsi Rumah Tangga

Penelitian juga menyoroti peran pinjaman daring sebagai bantalan keuangan (financial buffer) bagi rumah tangga. Pembiayaan dinilai membantu menjaga stabilitas konsumsi, terutama saat menghadapi guncangan seperti kehilangan pekerjaan atau kebutuhan mendesak lainnya.

Sebanyak 24,51% responden menyatakan tanpa akses pinjaman daring mereka harus menggunakan tabungan atau menjual aset. Rata-rata pengeluaran bulanan pengguna tercatat Rp4,8 juta, dengan rata-rata tabungan hampir Rp700 ribu—lebih tinggi dibanding kelompok pembanding.

Selain konsumsi, pembiayaan juga dimanfaatkan untuk pengembangan usaha mikro dan perorangan. Sekitar 53,1% responden pengguna pembiayaan usaha menggunakannya untuk menambah stok barang, sementara 28,1% melaporkan peningkatan omzet. Sektor yang paling banyak memanfaatkan pembiayaan meliputi perdagangan (53,1%), akomodasi dan makan minum (18,8%), serta pertanian (18,8%).

Literasi dan Tantangan Industri

Survei menunjukkan 89,2% responden memahami komponen bunga, biaya, dan tenor pinjaman. Namun, studi juga menemukan potensi kerentanan perilaku seperti overconfidence dan kecenderungan berorientasi jangka pendek dalam pengambilan keputusan keuangan.

Karena itu, LPEM FEB UI merekomendasikan penguatan literasi, peningkatan transparansi informasi beban pinjaman, serta pengawasan regulator guna menjaga keberlanjutan industri pinjaman daring. Pengembangan fitur simulasi kemampuan bayar sebelum pencairan dana juga dinilai penting untuk meminimalkan risiko gagal bayar.

Chief of Public Affairs AdaKami, Karissa Sjawaldy, menyatakan pihaknya berkomitmen menghadirkan pembiayaan inklusif yang dikelola secara prudent dan bertanggung jawab, sekaligus meningkatkan literasi keuangan pengguna.

GCG BUMN
Riset ini dilakukan pada OktoberNovember 2025 terhadap 615 responden di tujuh provinsi dengan pendekatan survei langsung dan daring. Estimasi dampak ekonomi dihitung menggunakan model Input-Output untuk mengukur kontribusi langsung, tidak langsung, serta efek pengganda terhadap perekonomian nasional. (mas)

Artikel Terkait
Rekomendasi
Berita Pilihan
Ramadan 2026
More Stories