telkomsel halo

Perbankan 2026: era baru tanpa sekat

09:09:00 | 25 Feb 2026
Perbankan 2026: era baru tanpa sekat
JAKARTA (IndoTelko) Industri perbankan global memasuki fase transformasi besar pada 2026. Batasan yang selama puluhan tahun dianggap tak terhindarkan—mulai dari keterbatasan teknologi, struktur organisasi, hingga pola pikir manajemen risiko—kini mulai tergerus oleh kemajuan artificial intelligence (AI), digitalisasi aset, dan model bisnis baru.

Dalam laporan terbarunya, Accenture mengidentifikasi enam tren utama yang akan membentuk arah industri perbankan ke depan. Tren ini disusun berdasarkan ratusan proyek global serta dialog intensif dengan para pemimpin industri sepanjang tahun terakhir.

Uang Berevolusi, Transaksi Jadi Lebih Cerdas

Transformasi paling nyata terlihat pada evolusi uang di era digital. Stablecoin, Central Bank Digital Currencies (CBDC), hingga tokenisasi simpanan bergerak dari tahap uji coba menuju implementasi yang lebih luas. Di saat yang sama, programmable payments memungkinkan transaksi berjalan otomatis berdasarkan aturan dan kebutuhan nasabah.

Accenture memperkirakan hingga USD 13 triliun nilai transaksi berpotensi beralih ke metode pembayaran alternatif sebelum akhir dekade ini. Tanpa strategi yang tepat, bank berisiko kehilangan sumber pendapatan berbasis biaya dalam skala besar.

Uang kini tidak hanya berpindah nilai, tetapi juga membawa data, konteks, serta sinyal kepatuhan secara otomatis—menuntut bank membangun fondasi digital yang aman sekaligus adaptif.

AI Ubah Standar Pengalaman Nasabah

Perkembangan AI generatif dan agentic AI juga mengubah cara nasabah berinteraksi dengan bank. Jika sebelumnya aplikasi dan website menjadi kanal utama, kini asisten berbasis AI berpotensi menjadi titik awal interaksi.

Nasabah menginginkan layanan yang kontekstual, real-time, dan personal—bahkan melalui platform pihak ketiga seperti asisten digital. Tantangan muncul ketika pihak eksternal berpotensi berada di antara bank dan nasabah, membuka risiko disintermediasi.

Di sisi lain, kehadiran fisik tetap relevan sebagai sumber kepercayaan dalam transaksi kompleks. Kombinasi antara kecanggihan AI dan sentuhan manusia dinilai akan menjadi model pengalaman perbankan masa depan.

Agentic AI dan Transformasi Dunia Kerja

Agentic AI memungkinkan satu karyawan mengelola berbagai kapabilitas AI sekaligus, memunculkan konsep “10x bank”. Implementasi awal menunjukkan peningkatan produktivitas di area pengembangan perangkat lunak, percepatan proses KYC, hingga pengambilan keputusan risiko yang lebih adaptif.

Namun, transformasi ini tidak sekadar soal teknologi. Bank perlu menata ulang peran kerja, membekali talenta dengan literasi AI, serta membangun kolaborasi efektif antara manusia dan mesin.

Fokus pada efisiensi semata dinilai tidak cukup. Bank yang mampu memanfaatkan AI untuk mendorong pertumbuhan pendapatan justru berpeluang membutuhkan lebih banyak talenta dengan kompetensi baru.

Modernisasi Teknologi Jadi Keniscayaan

Selama bertahun-tahun, banyak bank menunda modernisasi sistem inti karena kompleksitas dan biaya tinggi. Akibatnya, utang teknis menumpuk dan anggaran teknologi habis untuk memelihara sistem lama.

Kini, generative AI mempercepat proses modernisasi—mulai dari analisis kode hingga pembuatan ulang sistem berbasis spesifikasi bisnis. Pendekatan modular, open source, dan platform bersama turut menekan biaya serta meningkatkan fleksibilitas.

Modernisasi bukan lagi pilihan, melainkan prasyarat untuk menjaga daya saing dan ketahanan operasional.

Risiko Butuh Pendekatan Terintegrasi

Manajemen risiko di perbankan kerap terfragmentasi, dengan pengelolaan risiko keuangan, operasional, siber, dan geopolitik berjalan terpisah. Padahal, risiko-risiko tersebut kini saling terhubung.

Bank perlu membangun arsitektur risiko terintegrasi yang memanfaatkan AI untuk memantau pola secara real-time. Orkestrasi lintas fungsi serta budaya sadar risiko di seluruh organisasi menjadi kunci menghadapi kompleksitas baru.

Persaingan Bergeser ke Neraca

Stablecoin, perusahaan kripto, fintech, hingga pembiayaan swasta kini mulai menantang inti bisnis perbankan—yakni simpanan dan kredit. Lebih dari USD 200 triliun simpanan dan pinjaman global dinilai menghadapi tekanan kompetisi baru.

Bank dituntut membangun proposisi nilai yang terintegrasi, tidak sekadar menawarkan produk terpisah yang mudah dibandingkan oleh agen AI. Model bisnis berbasis hubungan dan kepercayaan tetap menjadi fondasi, namun strategi persaingan harus berevolusi.

Titik Balik Industri

Tri Hindriasari, Banking Lead Accenture Indonesia, menyatakan bahwa industri perbankan tengah memasuki era runtuhnya berbagai batas tradisional.

“Konvergensi generative AI, agentic AI, dan aset digital membentuk ulang industri secara mendasar. Bagi perbankan Indonesia, ini saatnya melampaui perubahan inkremental dan membayangkan ulang cara kerja, membangun kepercayaan, serta menciptakan nilai,” ujarnya.

Menurutnya, masa depan perbankan akan tetap bertumpu pada kepercayaan dan keamanan, namun dengan cara kerja yang lebih cepat, cerdas, dan berorientasi pada manusia.

GCG BUMN
Tahun 2026 pun dipandang sebagai titik penting—bukan sekadar fase adaptasi, melainkan momentum redefinisi industri perbankan secara menyeluruh. (mas)

Artikel Terkait
Rekomendasi
Berita Pilihan
Ramadan 2026
More Stories