Pengamanan berlapis jadi fondasi ketahanan data center

05:32:00 | 20 Feb 2026
Pengamanan berlapis jadi fondasi ketahanan data center
JAKARTA (IndoTelko) Keberadaan pusat data (data center) kian vital dalam menopang aktivitas ekonomi dan layanan publik di Indonesia. Infrastruktur ini menjadi tulang punggung konektivitas, penyimpanan data, pengembangan smart city, hingga transformasi digital nasional. Karena itu, aspek keamanan dinilai sebagai elemen strategis yang tidak bisa ditawar.

Country Manager Axis Communications, Johny Dermawan, menegaskan data center merupakan infrastruktur fisik dengan tuntutan operasional tanpa henti (zero downtime). Tantangan yang dihadapi tidak hanya berkaitan dengan ancaman siber, tetapi juga risiko fisik dan operasional yang harus diantisipasi sejak tahap perancangan.

Menurutnya, risiko pada level makro mencakup biaya energi, inflasi, ketersediaan talenta, dinamika geopolitik, hingga perubahan rantai pasok global. Sementara pada sisi operasional, ancaman bisa berupa gangguan layanan, akses ilegal, impersonasi, keselamatan pekerja, hingga serangan siber. Jika tidak dikelola sejak awal, risiko tersebut dapat berdampak serius pada keberlangsungan layanan.

Pertumbuhan kapasitas pusat data yang agresif turut meningkatkan kompleksitas pengamanan. Berdasarkan laporan Global Outlook Data Center 2026, kapasitas data center di Asia Pasifik diproyeksikan tumbuh dengan CAGR 12% dari 32 gigawatt menjadi 57 gigawatt pada 2030. Sementara itu, data Kementerian Komunikasi dan Digital menyebut Indonesia saat ini memiliki 185 data center dengan kapasitas total 274 megawatt dan menargetkan peningkatan hingga lebih dari 2.000 megawatt pada 2029.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Johny menilai pendekatan pengamanan berlapis (multi-layered approach) menjadi kunci. Model ini mengintegrasikan berbagai sistem yang saling mendukung, mulai dari pengawasan video berbasis analitik dengan cakupan menyeluruh hingga pemanfaatan radar untuk meminimalkan titik buta di area perimeter.

Pemanfaatan kamera termal dan multi-sensor, misalnya, tidak hanya berfungsi sebagai alat dokumentasi, tetapi juga mampu mendeteksi anomali suhu pada perangkat dan rak server, potensi kebakaran, hingga aktivitas mencurigakan di luar perimeter. Integrasi dengan radar dan kamera PTZ memungkinkan pelacakan objek secara presisi, termasuk ancaman dari udara seperti drone.

Di sisi akses fisik, penerapan kontrol akses berlapis dengan kombinasi kartu, PIN, dan biometrik semakin diperkuat melalui autentikasi multi-faktor. Pengawasan di ruang server bahkan dapat dilengkapi pemindai sidik jari atau QR code serta sensor gerak untuk memastikan setiap aktivitas terdokumentasi.

Lapisan tambahan juga hadir melalui perangkat body worn camera yang digunakan teknisi saat melakukan instalasi atau pemeliharaan. Perangkat ini tidak hanya menjadi bukti forensik apabila terjadi insiden, tetapi juga mendukung keselamatan pekerja dengan fitur deteksi jatuh dan peringatan darurat.

Sistem audio jaringan berbasis IP turut melengkapi pengamanan, baik untuk memberikan peringatan otomatis, instruksi evakuasi, maupun komunikasi dua arah guna memverifikasi akses personel. Seluruh komponen tersebut, menurut Johny, perlu diimbangi dengan penguatan keamanan siber yang mengadopsi prinsip zero-trust, enkripsi data, serta standar keamanan perangkat keras dan lunak yang ketat.

Dengan pertumbuhan kapasitas dan meningkatnya kompleksitas ancaman, pengamanan terintegrasi dinilai menjadi fondasi utama dalam menjaga ketahanan infrastruktur digital nasional. (mas)

Ikuti terus perkembangan berita ini dalam topik
Artikel Terkait