JAKARTA (IndoTelko) - Pemerintah dan pelaku industri di berbagai negara saat ini bergerak cepat untuk mengamankan posisi dalam kepemimpinan pengembangan Artificial Intelligence (AI). Langkah tersebut tak hanya didorong oleh ambisi teknologi, tetapi juga oleh tantangan demografis seperti populasi yang menua, berkurangnya tenaga kerja, serta kebutuhan mendesak untuk meningkatkan produktivitas nasional. Dalam konteks ini, kehadiran AI berbasis agen (agentic AI) dipandang sebagai katalis penting menuju revolusi efisiensi berikutnya.
Berbeda dengan model AI konvensional yang hanya memberikan respons atas pertanyaan, AI agentik mampu bernalar, merencanakan, dan mengeksekusi tindakan lintas sistem. Misalnya, bukan sekadar memberi rekomendasi perjalanan, namun sistem dapat langsung memesan tiket, memperbarui kalender, mengirim pengingat, hingga menyesuaikan rencana sesuai kondisi yang berubah secara real-time. Kemampuan ini menandai pergeseran dari sistem AI pasif menuju solusi proaktif dan kolaboratif yang bekerja berdampingan dengan manusia.
Seiring semakin matangnya teknologi ini, kebutuhan daya komputasi akan meningkat signifikan. Dunia secara efektif akan menambah “miliar pengguna virtual” yang beroperasi di atas infrastruktur AI global. Pertanyaan pentingnya: apakah infrastruktur AI suatu negara siap menghadapi skala dan kompleksitas tersebut?
“Di era AI berbasis agen, desain sistem heterogen menjadi sangat penting. Infrastruktur AI harus melampaui sekadar komputasi mentah dan mampu mengintegrasikan CPU, GPU, jaringan, hingga memori secara fleksibel dan terukur,” ujar General Manager APAC AMD, Alexey Navolokin.
Menurutnya, optimasi di tingkat rak yang menggabungkan komputasi, penyimpanan, dan jaringan dalam satu desain terintegrasi akan menjadi kunci menghadirkan kinerja dan efisiensi generasi berikutnya.
Selama ini GPU sering menjadi sorotan utama dalam pembahasan AI, terutama untuk pelatihan dan inferensi model skala besar. Namun, CPU tetap memainkan peran vital di belakang layar, mulai dari pengelolaan memori, perpindahan data, hingga koordinasi beban kerja.
Banyak beban kerja AI saat ini bahkan dapat berjalan efisien hanya dengan CPU, khususnya jika menggunakan prosesor berperforma tinggi seperti AMD EPYC™ 9005 Series. Apalagi dengan berkembangnya arsitektur AI modular seperti model mixture of experts, kebutuhan akan orkestrasi sumber daya komputasi semakin kompleks dan memerlukan CPU dengan IPC tinggi, I/O cepat, serta kemampuan multitasking presisi.
Di sisi lain, konektivitas menjadi elemen perekat yang memastikan jalannya sistem AI modern. Mulai dari NIC cerdas, interkoneksi latensi rendah, hingga jaringan yang mampu menghubungkan node dalam skala besar akan menentukan keberhasilan implementasi AI agentik.
Seiring AI berkembang menjadi sistem yang semakin terdistribusi dan kompleks, kebutuhan terhadap keterbukaan baik di level software, hardware, maupun arsitektur sistem menjadi semakin krusial. Ekosistem tertutup berpotensi menciptakan ketergantungan vendor dan memperlambat inovasi.
AMD menempatkan open software stack seperti ROCm™ sebagai fondasi penting dalam mendorong akselerasi inovasi AI. ROCm mendukung framework populer seperti PyTorch dan TensorFlow, menyediakan alat optimasi kinerja, serta memungkinkan portabilitas lintas perangkat keras.
Di tingkat hardware, standar terbuka seperti Open Compute Project (OCP), inisiatif Ultra Accelerator Link (UALink), dan Ultra Ethernet Consortium (UEC) juga dinilai menjadi kunci dalam mendukung arsitektur AI skala besar yang fleksibel dan interoperabel.
Langkah ini memungkinkan operator cloud dan data center membangun infrastruktur AI yang efisien, hemat energi, dan disesuaikan dengan kebutuhan regional tanpa terkunci pada satu ekosistem tertutup.
Memasuki fase AI multi-agen, fokus pembangunan infrastruktur tidak lagi hanya pada GPU. CPU, interkoneksi berkecepatan tinggi, jaringan cerdas, serta software terbuka menjadi komponen yang sama pentingnya untuk mendukung pengambilan keputusan real-time dalam skala masif.
AMD sendiri tengah mempersiapkan desain referensi generasi berikutnya bertajuk “Helios” yang dijadwalkan meluncur pada 2026. Solusi ini dirancang untuk menghadirkan infrastruktur AI skala rak yang menggabungkan komputasi berkinerja tinggi, open software, serta arsitektur yang dapat diskalakan.
Pada akhirnya, membangun infrastruktur AI yang terbuka, heterogen, dan siap masa depan bukan sekadar keputusan teknologi, melainkan strategi nasional. Infrastruktur AI yang kuat akan menjadi kunci daya saing, inovasi, dan ketahanan dalam menghadapi momentum transformasi digital berbasis AI yang terus berkembang. (mas)