JAKARTA (IndoTelko) - Pemimpin global di bidang platform pengembangan low-codebertenaga AI, OutSystems mengungkapkan prediksi dari jajaran pimpinan eksekutifnya mengenai bagaimana AI akan mentransformasi pemanfaatan AI di tingkat bisnis, serta menata ulang peran para pengembang.
Prediksi tersebut mencakup peningkatan risiko shadow AI dan pentingnya tata kelola AI di perusahaan, pergeseran menuju sistem agentik yang terspesialisasi dan berbasis industri, serta evolusi platform low-code berbasis AI. Seluruh perkembangan ini menandai perubahan mendasar dalam cara perusahaan membangun, menerapkan, dan mengelola perangkat lunak di lingkungan produksi.
CEO OutSystems, Woodson Martin mengatakan, shadow AI berpotensi menjadi masalah yang jauh lebih serius dibandingkan shadow IT di era sebelumnya.
Pengguna non-teknis yang kini dapat menghasilkan kode produksi dan alur kerja secara langsung melalui Large Language Models (LLM) menghadirkan risiko yang jauh lebih berbahaya dibandingkan penggunaan Software-as-a-Service (SaaS) tanpa izin.
Jika sebelumnya penggunaan aplikasi atau perangkat lunak tanpa izin hanya dianggap sebagai gangguan teknis, keberadaan model dan agen AI tanpa penjagaan membawa risiko besar bagi perusahaan. Jika tidak ada pengawasan ketat, pengguna dapat memanfaatkan LLM yang tidak teruji untuk menghasilkan kode pemrograman siap pakai, membangun alur kerja otonom, dan memicu kebocoran data sensitif. Ancaman ini bersifat laten, menyebar dengan cepat, dan dampaknya tidak terhitung secara finansial maupun reputasi.
Sementara, CPTO OutSystems, Luis Blando mengungkapkan, masa depan pengembangan AI akan lebih terspesialisasi dan berorientasi pada kebutuhan spesifik tiap industri.
Pengguna non-teknis yang kini dapat menghasilkan kode produksi dan alur kerja secara langsung melalui Large Language Models (LLM) menghadirkan risiko yang jauh lebih berbahaya dibandingkan penggunaan Software-as-a-Service (SaaS) tanpa izin. Jika sebelumnya penggunaan aplikasi atau perangkat lunak tanpa izin hanya dianggap sebagai gangguan teknis, keberadaan model dan agen AI tanpa penjagaan membawa risiko besar bagi perusahaan.
Jika tidak ada pengawasan ketat, pengguna dapat memanfaatkan LLM yang tidak teruji untuk menghasilkan kode pemrograman siap pakai, membangun alur kerja otonom, dan memicu kebocoran data sensitif. Ancaman ini bersifat laten, menyebar dengan cepat, dan dampaknya tidak terhitung secara finansial maupun reputasi.
Pada tahun 2026, pengembangan AI akan memprioritaskan spesialisasi dan bukan lagi penggunaan serba guna. Solusi AI akan difokuskan pada beban kerja tertentu yang mampu memberikan hasil dengan lebih cepat dan lebih akurat untuk fungsi bisnis spesifik. Percakapan seputar AI pun diperkirakan akan bergeser dari hiruk-pikuk pencarian satu “model terbaik” menuju pendekatan yang lebih matang dalam pemilihan dan integrasi teknologi.
Bagian dari pergeseran ini adalah munculnya AI vertikal, yakni pemanfaatan model yang dilatih dengan bahasa, alur kerja, dan data khusus industri sehingga mampu menyelesaikan tantangan yang sulit ditangani oleh AI generik. Perusahaan yang memastikan solusi tersebut tangguh dan mampu menghadapi variasi data dunia nyata sesuai dengan tugas spesifiknya, akan berada di posisi yang unggul pada 2026.
Diperkirakan CIO OutSystems, Tiago Azevedo, AI agentik akan berperan dalam “memanusiakan kembali” perusahaan. AI agentik diperkirakan akan semakin cepat mengotomatisasi tugas-tugas rutin dan berulang pada tahun 2026, seiring dengan matangnya teknologi dan semakin umum digunakannya solusi multiagen. Hal ini akan memberi lebih banyak ruang bagi manusia untuk fokus pada kreativitas, strategi, dan interaksi antarmanusia yang autentik.
Keterampilan lunak yang hanya dimiliki manusia, seperti kolaborasi, adaptabilitas, kecerdasan emosional, dan pengambilan keputusan, akan menjadi lebih bernilai dan dibutuhkan. Sebagai contoh, ketika proses administratif dalam onboarding dan pengelolaan talenta ditangani oleh agen AI, para pemimpin SDM memperkirakan peningkatan produktivitas hingga 30% per karyawan. Selain itu, sekitar 23% tenaga kerja diproyeksikan akan beralih ke peran baru yang lebih mampu memaksimalkan potensi dan keunggulan manusia.
Sedangkan, VP of Developer Relations OutSystems, Miguel Baltazar, menilai tahun 2026 sebagai tahun berakhirnya burnout di kalangan pengembang. Survei pada tahun 2024 terhadap lebih dari 600 engineermenunjukkan bahwa hampir 65% di antara mereka mengalami burnout, meskipun organisasi mereka telah memanfaatkan AI dalam proses pengembangan. Kondisi ini dipicu oleh tidak meratanya tingkat keandalan alat pengembangan berbasis AI generatif. Walaupun AI mampu mengurangi pekerjaan repetitif dan bernilai rendah, survei developer mencatat bahwa tingkat kualitas perangkat lunak yang dihasilkan masih berada di kisaran 60%.
Platform low-code berbasis AI berperan menjembatani kesenjangan tersebut dengan mengombinasikan otomatisasi cerdas dan tata kelola yang terintegrasi. Seiring meningkatnya penggunaan di kalangan perusahaan, platform ini berpotensi memberdayakan developer, meningkatkan keterlibatan kerja, serta menurunkan risiko burnout secara signifikan.
Menghadapi 2026, pemanfaatan AI di tingkat bisnis akan ditentukan oleh sejauh mana organisasi mampu menerapkan tata kelola yang kuat, mengembangkan solusi yang terspesialisasi, serta tetap menempatkan aspek manusia sebagai fokus utama.
Sejalan dengan percepatan pengembangan AI, shadow AI akan muncul sebagai risiko utama yang menuntut perusahaan untuk menyeimbangkan kecepatan inovasi dengan pengendalian serta pengelolaan menyeluruh dari pengembangan hingga operasional. Pada saat yang sama, perhatian akan beralih ke sistem agentik yang lebih terspesialisasi sesuai kebutuhan industri dan mampu memberikan nilai bisnis nyata. Platform low-code berbasis AI akan membantu tim mengembangkan aplikasi dengan lebih cepat, bekerja lebih efisien, serta mengurangi risiko burnout di kalangan pengembang. (mas)