Ngebut Internetnya Banyak Bonusnya
Ngebut Internetnya Banyak Bonusnya
telkomsel halo

GoTo menguji kesabaran investor

12:39:00 | 22 May 2022
GoTo menguji kesabaran investor
Angkasa Pura 2
Anjloknya saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) 50% lebih ke harga Rp194 selama periode 11 April-13 Mei 2022 menjadi perbincangan ramai di media sosial.

GOTO melakukan penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) sebanyak-banyaknya 52 miliar saham seri A yang merupakan saham baru dengan nilai nominal Rp 1 per saham.

Jumlah saham itu mewakili sebanyak-banyaknya 4,35% dari modal ditempatkan dan disetor GoTo setelah penawaran umum perdana saham. Harga yang ditawarkan Rp 338/lembar dengan total dana yang berhasil dihimpun dari investor sebesar Rp 13,7 triliun.

Anjloknya saham perusahaan adalah hal yang biasa. Namun, dalam kasus GoTo, menjadi luar biasa karena salah satu investornya adalah Telkom Indonesia melalui anak usaha Telkomsel.

Telkomsel menandatangani Perjanjian Pembelian Saham GOTO pada 18 Mei 2021. Nilainya US$150 juta (Rp 2,1 triliun) dikonversi menjadi 29.708 lembar. Berikutnya, US$300 juta (Rp 4,2 triliun) yang merupakan opsi beli menjadi 59.417 lembar. Totalnya, 89.125 lembar saham senilai Rp 6,3 triliun (harga US$5.049 (Rp 70 juta/lembar).  

Dampak dari fluktuasinya nilai saham GoTo, Telkom Indonesia dalam laporan keuangan yang dikeluarkan 31 Maret 2022 mencatatkan adanya Impairment loss Rp 881 miliar pada investasi Telkomsel di GOTO.

Dalam akuntansi, unrealized loss/unrealized gain biasanya tidak dicatatkan dalam laporan laba rugi, tetapi masuk ke pendapatan menyeluruh (comprehensive income). Sebab, aset saham biasanya masuk ke akun tersedia untuk dijual atau available for sell saat dibeli. International Accounting Standard (IAS) merumuskan bahwa jika harga aset keuangan lebih rendah dari harga pasarnya, maka harus dicatatkan biaya (impair) di laba rugi berjalan.

Sebagai catatan, Telkom tahun lalu juga mencatatkan unrealized gain sebesar Rp2,5 Triliun atas inveatasi saham GOTO dan itu juga hanya bersifat "potensi".

Sementara pemilik saham Telkomsel lainnya, Singtel, akan melalukan impair saham  sepanjang laba berjalan setelah dikurangi nilai impair selisih harga saham Goto dengan harga perolehan Telkomsel tidak menyebabkan ekuitas negatif di buku telkomsel, dapat dipastikan nilai perolehan investasi 35% saham singtel belum terkena dampak yang menyebabkan harus impairmen membukukan rugi, yang terjadi hanya nilai saham 35% di Telkomsel menurun karena ada koreksi laba dari impair Goto.

Penurunan nilai saham tersebut akan benar-benar menjadi kerugian atau tidak, bergantung pada saat penjualan aset tersebut dilakukan. Jika saham yang nilainya turun kemudian dijual pada posisi rugi, tentu kerugian akan menjadi terealisasi begitu juga sebaliknya apabila dijual dalam posisi untung. Sebaliknya, selama saham tersebut tidak dijual, maka tidak akan terjadi kerugian ataupun keuntungan alias hanya unrealized loss/unrealized gain.

Berlebihan
Banyak pihak menyatakan, perhatian yang terlalu fokus pada unrealized loss/unrealized gain di saham GoTo oleh Telkom berlebihan.

Alasannya, rugi belum terealisasi dan harga saham masih terus fluktuatif.

Belum lagi Telkom memiliki alasan strategis mengempit saham GoTo yakni ingin membangun ekosistem digital jangka panjang untuk Indonesia.

Sementara pihak lain menyatakan ada dua volatilitas mengancam Telkomsel yang bekkonsolidasi ke Telkom, pertama fluktuasi saham Goto di bursa. Kedua, fluktuasi nilai tukar kurs Rupiah US Dolar di pasar uang antar bank.

Dari sisi politis, dugaan konflik kepentingan pun dihembuskan karena posisi Menteri BUMN Erick Thohir dan Komisaris Utama GoTo Garibaldi Thohir adalah saudara kandung.

Ngebut Internetnya Banyak Bonusnya
Buah reformasi, kita semua sepakat bahaya dari adanya konflik kepentingan, tentu akan berisiko bagi bisnis BUMN. Namun, di sisi lain, kita tak bisa menafikan peran GoTo sebagai penopang bisnis Usaha Kecil dan Menengah (UKM) di era digital. Belum lagi, para mitra juga memiliki saham GoTO melalui Program Saham Gotong Royong.

Membiarkan isu menjadi liar tentu tak sehat. Kita berharap ada langkah tegas dan terukur dari pemerintah agar polemik berhenti dan kepastian hukum diberikan kepada para  investor.

Bakti
@IndoTelko

Artikel Terkait
Rekomendasi
Berita Pilihan
Telkom DES
More Stories
A Leading Terrestrial and Submarine Fiber Optic Cable Manufacturer in Indonesia With EPC Capability