Lonjakan harga emas global pada awal 2026 semestinya menjadi kabar baik bagi investor. Di tengah ketidakpastian geopolitik dan ekonomi, emas kembali dipeluk sebagai aset lindung nilai.
Namun di China, justru saat reli terjadi, sebuah platform perdagangan emas digital bernama Jie Wo Rui (JWR) kolaps. Lebih dari 150 ribu investor gagal menarik dananya.
Ironi ini menyingkap persoalan lama dalam wajah baru yaitu platform digital menjanjikan likuiditas instan, padahal fondasinya rapuh hingga semu.
Kasus JWR bukan sekadar cerita gagal bayar atau manajemen buruk. Ia menunjukkan bagaimana inovasi finansial sering melaju lebih cepat daripada disiplin risiko dan tata kelola. Dipadukan dengan narasi “aset aman” dan kemudahan aplikasi, teknologi menciptakan rasa percaya berlebihan, sayangnya runtuh begitu diuji realitas pasar.
Bank Run
Dalam teori klasik, bank run terjadi ketika deposan kehilangan kepercayaan dan serentak menarik dana. Sistem perbankan modern menahannya lewat cadangan wajib, pengawasan ketat, dan bank sentral sebagai lender of last resort.
JWR beroperasi di luar seluruh kerangka itu. Ia bukan bank, tetapi menjalankan fungsi serupa yaitu menghimpun dana publik, menjanjikan likuiditas, dan mengklaim memiliki emas sebagai underlying asset.
Model bisnisnya bertumpu pada skema “pra-penetapan harga”, yang memungkinkan investor menyepakati harga emas di masa depan secara privat dengan leverage tinggi, tanpa melalui bursa resmi. Selama harga naik dan arus dana masuk lebih besar dari keluar, sistem tampak stabil. Kepercayaan tumbuh, transaksi meningkat, dan ilusi likuiditas terbentuk.
Masalah muncul ketika harga emas melonjak tajam dan ribuan investor serentak mengunci keuntungan. Permintaan penarikan dana meledak, sementara kemampuan platform memenuhi kewajiban sangat terbatas. JWR gagal menyediakan dana maupun emas fisik yang dijanjikan. Kerugian ditaksir melampaui 10 miliar yuan, dengan korban tersebar di berbagai wilayah China.
Ini bukan sekadar gagal bayar, melainkan bank run versi digital, tanpa bank, tanpa penyangga likuiditas, dan tanpa mekanisme penyelamatan.
Emas Digital
Label “emas digital” memberi kesan risiko telah dimodernisasi. Kenyataannya, risikonya justru sangat klasik. Leverage tinggi tetap berarti eksposur besar terhadap volatilitas. Transaksi di luar bursa resmi berarti minim transparansi harga. Klaim kepemilikan tanpa audit cadangan menyimpan potensi mismatch antara kewajiban dan aset.
Dalam kasus JWR, fakta paling krusial baru terungkap ketika investor meminta emas fisik. Stok yang diklaim sebagai underlying asset ternyata tak memadai. Aset yang selama ini menjadi fondasi kepercayaan lebih banyak berupa entri digital, bukan emas nyata.
Kasus ini menegaskan satu prinsip dasar yakni teknologi tidak menciptakan likuiditas. Ia hanya mempermudah distribusi klaim atas likuiditas. Ketika klaim diuji serentak, struktur yang rapuh langsung terbuka.
Ilusi Likuiditas
Di era aplikasi, likuiditas terasa seolah selalu tersedia. Saldo real-time, grafik bergerak, serta tombol “withdraw” memberi kesan dana bisa dicairkan kapan saja. Padahal likuiditas sejati tidak ditentukan oleh antarmuka, melainkan oleh cadangan dan manajemen risiko di balik layar.
Platform seperti JWR bergantung pada arus dana yang terus mengalir. Selama mayoritas pengguna tidak menarik dana bersamaan, sistem terlihat stabil. Namun stabilitas ini kondisional dan rapuh. Begitu ekspektasi berubah karena dipicu lonjakan harga, rumor, atau kepanikan, bangunannya runtuh dalam hitungan hari, bahkan jam.
Digitalisasi justru mempercepat eskalasi krisis. Jika bank run tradisional membutuhkan antrean fisik, bank run digital cukup dipicu notifikasi, grup percakapan, dan media sosial. Teknologi yang menjanjikan efisiensi sekaligus mempercepat penyebaran kepanikan.
Dampak Sosial
Runtuhnya JWR tidak berhenti pada kerugian finansial. Protes massa pecah di depan kantor perusahaan di Shenzhen dan sempat berujung bentrokan dengan aparat. Pemerintah daerah membentuk gugus tugas khusus untuk menyelidiki praktik bisnis perusahaan. Bagi banyak korban, dana itu adalah tabungan hidup, biaya pendidikan anak, atau dana pensiun.
JWR juga bukan kasus tunggal. Platform lain dilaporkan mengalami masalah penarikan dana akibat kondisi pasar yang sama. Ini menandakan persoalan yang lebih sistemik: banyak platform menawarkan produk serupa dengan struktur risiko mirip, bertumpu pada asumsi bahwa tidak semua pengguna akan menuntut likuiditas secara bersamaan.
Pelajaran
Di sinilah relevansinya bagi Indonesia. Ekosistem keuangan digital domestik, mulai dari kripto, emas digital, hingga berbagai produk fintech, juga dipasarkan dengan janji kemudahan, kecepatan, dan likuiditas. Sebagian telah berada dalam kerangka regulasi, sebagian lain masih berkembang di area abu-abu yang rawan disalahpahami investor ritel.
Masalahnya jarang terletak pada teknologinya, melainkan pada narasi. Ketika produk dipromosikan seolah aman dan mudah dicairkan, sementara risiko strukturalnya tak dipahami utuh, ilusi yang sama mulai terbentuk. Perbedaannya hanya pada objek: emas digital, kripto, atau instrumen berbasis token.
Kasus JWR menjadi pengingat bahwa klaim underlying asset, skema leverage, dan janji likuiditas harus dibaca dengan skeptisisme sehat. Tanpa transparansi cadangan, mekanisme kliring yang jelas, dan pengelolaan risiko memadai, krisis kepercayaan hanya soal waktu.
Dilema Inovasi
Bagi regulator, tantangannya klasik namun semakin kompleks. Regulasi yang terlalu ketat berisiko menghambat inovasi dan inklusi. Namun aturan yang terlalu longgar justru membuka ruang akumulasi risiko tersembunyi hingga meledak menjadi krisis.
Membiarkan platform berperilaku seperti bank tanpa pengamanan setara bukanlah sikap netral—itu hanya menunda masalah. Ketika skala pengguna sudah besar, biaya sosialnya jauh lebih mahal.
Zaman sekarang ada kecenderungan memperlakukan teknologi sebagai solusi atas kegagalan sistem lama. Padahal teknologi hanyalah alat. Ia bisa meningkatkan efisiensi, tetapi juga memperbesar skala kegagalan. Dalam keuangan, teknologi dapat mempercepat inklusi, sekaligus mempercepat kerugian jika fondasi tata kelolanya rapuh.
Ilusi likuiditas lahir dari optimisme teknologi berlebihan. Ketika semuanya tampak cair di layar, kita lupa bahwa likuiditas sejati diuji justru saat semua orang ingin keluar bersamaan.
Runtuhnya Jie Wo Rui di tengah reli harga emas global adalah pengingat keras bahwa tidak semua yang berkilau itu likuid. Emas digital, kripto, maupun instrumen berbasis aplikasi tetap tunduk pada hukum dasar kepercayaan dan cadangan. Tanpa keduanya, inovasi mudah berubah menjadi ilusi mahal.
@IndoTelko