JAKARTA (IndoTelko) – Seiring kian tingginya adopsi transaksi elektronik dan komputasi awan, kebutuhan layanan data center berkualitas pun kian mendesak.
Sayangnya, pemain data center dalam negeri belum maksimal menikmati eksponensial kebutuhan itu. "Saat ini cukup banyak korporasi di Indonesia yang masih menggunakan Data Center yang ada di luar negeri, antara lain di Singapura,” ungkap Chief Digital Service Officer XL Yessie D Yosetya, kemarin.
Menurutnya, kondisi tersebut lumayan disayangkan mengingat banyak outgoing trafik keluar yang ada dan biaya yang harus dibayar ke negara lain. “Kita terus koreksi, kurangnya pemain dalam negeri itu apa, sehingga lebih percaya kepada pemain luar. XL terus memperbaiki kualitas data center,” katanya.
Dijelaskannya, salah satu tahapan usaha perseroan untuk membawa layanan Data Center sejajar dengan di luar negeri adalah mendapatkan sertifikat internasional yaitu, ISO/IEC 27001 untuk Information Security Management, ISO/IEC 20000-1 untuk Information Technology Services Management, dan sertifikat TIER III Design dari Uptime Institute, Amerika Serikat.
Ketiga sertifikasi internasional ini melengkapi sertifikat nasional MAWAS ID yang dikeluarkan oleh lembaga lokal Cloud Security Identity yang terafiliasi dengan Universitas Indonesia. Sertifikasi ini merupakan pengakuan terhadap standar spesifikasi atas aspek keamanan dan pemanfaatan infrastruktur pada cloud dan Data Center di dalam aktivitas bisnis dan kegiatan sehari-hari lainnya.
XL melalui Divisi Cloud, saat ini memiliki tiga Data Center yang dapat dipergunakan oleh masyarakat/pelanggan di seluruh Indonesia. Ketiga Data Center tersebut berlokasi di Surabaya, Jakarta serta Pekanbaru. Semua Data Center tersebut merupakan pusat data di mana layanan komputasi awan, collocation, dan bahkan juga Disaster Recovery Center (DRC) berada.
Ditambahkannya, ada sejumlah implikasi positif atas keberadaan sertifikasi ISO pada sebuah Data Center. Implikasi positif tersebut antara lain berupa meningkatnya kredibilitas Data Center, yang selanjutnya akan berdampak pada meningkatnya kepercayaan pelanggan.
ISO memberikan jaminan atas kualitas yang ada yang sesuai dengan standar internasional. ISO dapat mewujukan kepercayaan atas merek penyedia layanan Data Center yang bersangkutan. Dampak lainnya adalah ISO mendorong organisasi untuk terus disiplin dalam operasional kesehariannya. Kedisiplinan ini akan membantu XL untuk dapat memenangkan kompetisi pasar global.
Sementara itu, dengan mendapatkan sertifikat “Tier III” dari Uptime Institute, XL membuktikan bahwa Data Centernya adalah sebuah fasilitas berkelas dunia dan berstandar internasional.
Sertifikat ini sangat penting bagi suatu Data Center karena merupakan prasyarat yang diminta oleh para pelanggan/klien, terutama bagi mereka yang bergerak terutama di bidang finansial, telekomunikasi, dan energi. Keberadaan sertifikasi ini untuk menjamin agar data digital yang disimpan selalu aman dan selalu dapat di akses.
Tiering Data Center dibuat juga untuk mengevaluasi kualitas dan keandalan server untuk kemampuan hosting. Uptime Institute menggunakan empat tier system peringkat sebagai patokan untuk menentukan keandalan sebuah Data Center.
Setelah meraih tiga sertifikat penting ini, rencana XL berikutnya adalah mengembangkan sebuah Data Center baru yang akan berlokasi di Balikpapan. Proyek ini sangat strategis mengingat Kalimantan merupakan wilayah yang relatif bebas dari jalur gunung api dan gempa, selain juga kawasan ini merupakan pasar yang belum tergarap hingga saat ini.
Pembangunan Data Center di Kalimantan akan melengkap infrastruktur yang telah ada. Targetnya, sebelum akhir tahun ini, pekerjaan pembangunan sudah bisa dilakukan.
Dengan demikian pada akhir tahun ini, XL siap berkontribusi bagi ekosistem Cloud dan Data Center dengan menyediakan infrastruktur sebanyak lebih dari 2.300 rak yang terletak pada bangunan dengan total luas sekitar 12 ribuan m2 dan lahan dengan total luas sebesar lebih dari 19 ribuan m2. Infrastruktur ini akan tersebar di seluruh Indonesia sehingga pemerataan pembangunan dapat terlaksana.
Sebelumnya, Ketua Umum Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) Kristiono mendesak pemain Over The Top (OTT) global untuk membangun infrastruktur di Indonesia agar operator hemat belanja bandwidth.
"Bandwidth itu kan jadi devisa juga. Menurut saya OTT harus ikut membangun infrastruktur nasional. Kalau tidak bandwidth kita semua dibuang keluar, kita jadi terlalu banyak belanjanya," katanya.(id)