telkomsel halo

Bitcoin menjadi jangkar utama pasar kripto Indonesia

04:00:00 | 12 Jan 2026
Bitcoin menjadi jangkar utama pasar kripto Indonesia
JAKARTA (IndoTelko) — Pasar aset kripto Indonesia sepanjang 2025 menunjukkan fase pendewasaan yang semakin jelas.

Aktivitas pasar tidak lagi digerakkan oleh euforia spekulatif, melainkan oleh konsolidasi likuiditas, disiplin investor, serta kerangka regulasi yang kian fungsional.

Di tengah dinamika tersebut, Bitcoin kembali menguat sebagai jangkar utama pasar kripto Indonesia dan diproyeksikan menjadi penentu arah pertumbuhan pada 2026.

Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat hingga Oktober 2025 jumlah investor kripto nasional mencapai 19,08 juta orang, tumbuh 2,5% secara bulanan. Meski Indonesia termasuk salah satu pasar kripto terbesar di dunia, tingkat penetrasinya masih sekitar 7% dari populasi, membuka ruang ekspansi yang signifikan ke depan.

“Tahun 2025 adalah fase konsolidasi. Bukan soal lonjakan harga, tetapi soal arah dan fondasi. Dalam fase ini, Bitcoin tetap menjadi pusat gravitasi pasar kripto Indonesia,” ujar CEO Tokocrypto, Calvin Kizana.

Bitcoin Menguat
Sepanjang Januari hingga November 2025, nilai transaksi kripto di Indonesia tercatat melampaui Rp446,77 triliun. Angka ini dicapai tanpa dukungan bull market berkepanjangan, mencerminkan aktivitas yang lebih rasional dan berorientasi pengelolaan portofolio.

Dalam kondisi tersebut, Bitcoin mempertahankan dominasinya sebagai aset kripto paling banyak dimiliki investor Indonesia. Perannya bergeser semakin jelas, tidak hanya sebagai instrumen trading, tetapi juga sebagai entry asset dan penyimpan nilai utama di tengah ketidakpastian global.

“Bitcoin menjadi referensi utama investor ketika volatilitas menurun. Saat likuiditas tetap terjaga tanpa spekulasi berlebihan, itu sinyal pasar semakin matang,” kata Calvin.

Kecenderungan ini juga diiringi meningkatnya penggunaan stablecoin sebagai alat manajemen likuiditas, sementara eksposur ke aset lain seperti Ethereum, Solana, dan BNB dilakukan secara lebih selektif pada ekosistem yang telah mapan.

Investor Muda
Dari sisi demografi, lebih dari 80% investor kripto Indonesia berada di rentang usia 1834 tahun. Generasi muda ini menjadikan Bitcoin sebagai pintu masuk utama ke dunia kripto, sebelum mengeksplorasi aset lain.

Survei ICN, Coinvestasi, dan ABI pada OktoberNovember 2025 menunjukkan adopsi kripto lebih banyak dipengaruhi platform digital dan jejaring komunitas dibandingkan kanal edukasi formal. Media sosial seperti X, Telegram, dan TikTok menjadi ruang utama diskusi Bitcoin, mulai dari narasi makro global, siklus halving, hingga perannya sebagai lindung nilai jangka panjang.

Konsentrasi Wilayah
Likuiditas investor kripto Indonesia masih terkonsentrasi di Pulau Jawa dan Bali yang menyumbang 77,6% total investor. Di wilayah ini, Bitcoin menjadi aset dominan dalam portofolio, mencerminkan preferensi terhadap aset yang dianggap paling stabil di antara instrumen kripto lainnya.

Pola kepemilikan ini menunjukkan pergeseran perilaku investor ritel Indonesia yang semakin konservatif. Alih-alih mengejar aset berisiko tinggi, mayoritas memilih mempertahankan Bitcoin sebagai basis portofolio dan menggunakan stablecoin untuk mengatur timing masuk dan keluar pasar.

Keyakinan Institusional
Dari sisi kebijakan, 2025 menjadi titik balik penting. Regulasi kripto beralih dari fase transisi menuju struktur yang lebih operasional. Pengakuan pengembangan blockchain sebagai kegiatan usaha melalui KBLI 62014, serta meningkatnya jumlah pelaku berizin, memperkuat legitimasi industri.

Kejelasan regulasi ini turut meningkatkan kepercayaan institusi, termasuk pemain global yang masuk melalui kemitraan dan akuisisi. Dalam konteks ini, Bitcoin dipandang sebagai aset kripto dengan profil risiko paling dapat dipetakan, sehingga berpotensi menjadi pintu masuk institusional di Indonesia.

“Regulasi yang jelas justru memperkuat posisi Bitcoin sebagai aset utama. Ini bukan hambatan, tetapi fondasi untuk pertumbuhan yang lebih terukur,” ujar Calvin.

Sinyal 2026
Memasuki 2026, Calvin menilai pertumbuhan investor kripto Indonesia masih sangat terbuka, seiring penetrasi yang rendah dan meningkatnya literasi. Dalam skenario optimistis, jumlah investor kripto nasional berpotensi bertambah 78 juta orang menjadi sekitar 2627 juta investor, dengan Bitcoin tetap menjadi aset dominan.

Sementara dari sisi transaksi, penurunan nilai transaksi 19,72% secara tahunan pada 2025 dinilai sebagai fase penyesuaian. “Kami melihat 2026 sebagai momentum pembalikan, di mana Bitcoin kembali menjadi penggerak utama likuiditas seiring meningkatnya kualitas partisipasi investor,” kata Calvin.

GCG BUMN
Ke depan, industri kripto Indonesia diperkirakan tidak lagi diukur dari seberapa cepat harga melonjak, tetapi dari seberapa kuat Bitcoin dan ekosistem pendukungnya membangun kepercayaan, stabilitas, dan keberlanjutan pasar jangka panjang.(ak)

Ikuti terus perkembangan berita ini dalam topik
Artikel Terkait
Rekomendasi
Berita Pilihan
More Stories