KARAWANG (IndoTelko) - Perusahaan Umum Percetakan Uang Republik Indonesia (Perum Peruri) melalui anak usaha, PT Peruri Digital Security (PDS), berminat masuk ke bisnis sertifikasi transaksi elektronik seiring akan diberlakukannya sertifikat digital pada akhir 2015.
“Banyak yang kira PDS itu akan menjadi penerbit e-money, sebenarnya kita itu lebih membidik ke bisnis sertifikasi keandalan atau Certificates Authority (CA) dimana menjadi sistem fasilitator untuk pembayaran uang elektronik,” ungkap Direktur Utama Perum Peruri Prasetio dalam paparan ke Media di Pabrik Peruri di Karawang, Senin (6/4).
Diungkapkannya, Peruri sudah melakukan pendekatan dengan Kementrian Komunikasi dan Informatika (kemenkominfo) dan Bank Indonesia (BI) untuk memuluskan niatnya tersebut agar transaksi uang elektronik tidak menjadi eksklusif di penerbit. (
Baca juga:
Peruri garap bisnis uang digital)
“Sekarang ini sertifikasinya close loop, dimana masing-masing melakukannya. Bahkan, terkadang harus keluar negeri dulu, untuk sertifikasi. Kalau ada independen seperti PDS tentu bisa ada interkoneksi dan penetrasi transaksi elektronik menjadi lebih besar. Kami butuh bicara ke Kemenkominfo dan BI karena domain regulasi ada di dua instansi itu,” katanya.
Sebelumnya, pemerintah melalui Kemenkominfo akan membentuk penyelenggara sertifikat digital nasional seiring akan diberlakukannya sertifikat digital pada akhir 2015.
Hal ini sesuai dengan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 82 Tahun 2012 tentang Penyelenggaraan Sistem dan Transaksi Elektronik dalam Layanan Keuangan Digital. (
Baca juga:
Sertifikasi digital akan berlaku)
Beleid ini mengatur mengenai soal penyelenggaraan sistem elektronik, penyelenggara agen elektronik, penyelenggaraan transaksi elektronik, tanda tangan elektronik, penyelenggaraan sertifikasi elektronik, lembaga sertifikasi keandalan dan pengelolaan nama domain.
Sertifikat digital merupakan sebuah file yang digunakan untuk mengidentifikasi seseorang atau entitas pada sebuah jaringan seperti di internet. Sertifikat digital juga aman, karena komunikasi antara dua perangkat menggunakan enkripsi data. Sertifikat dikeluarkan oleh Certificates Authority (CA).
Sementara itu, Direktur Pemasaran dan Pengembangan Usaha, Atje Muhammad Darjan menambahkan, PDS adalah perusahaan baru sehingga belum memberikan kontribusi yang besar bagi perseroan.
“Ini perusahaan baru dibentuk, pendapatannya tahun 2014 sekitar Rp 10 miliar dengan andalan pendapatan di solusi Teknologi Informasi. Kita sedang benahi semua agar bisa bermain di CA itu,” katanya.
Kinerja
Lebih Lanjut Prasetio mengungkapkan sepanjang 2014 Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ini memiliki laba bersih konsolidasi Rp 334 miliar atau tumbuh 21,21% dibandingkan 2013 sebesar Rp 275,56 miliar.
“Di 2014 kita ada jual aset, kalau nilai jual aset tak dimasukkan, laba bersih tahun itu sekitar Rp 250 miliar. Tahun ini kita targetkan laba bersih sebesar Rp 275 miliar,” paparnya.
Dijelaskannya, pertumbuhan laba bersih konsolidasi 2014 dikontribusi laba usaha Rp 277 miliar dan pendapatan non operasi Rp 216,13 miliar. Sedangkan pendapatan usaha di 2014 sebesar Rp 2,31 triliun turun 1,77% dibandingkan 2013 sebesar Rp 2,35 triliun.
“Kami tahun ini menyiapkan belanja modal sekitar Rp 1,4 triliun dimana sekitar Rp 700 miliar dari pinjaman perbankan. Tahun lalu belanja modal sekitar 900 miliar. Backbone pendapatan masih dari percetakan uang dimana tahun ini target produksi sekitar 9,3 miliar bilyet naik dari 2014 sebesar 7 miliar bilyet,” pungkasnya.(dn)