JAKARTA (IndoTelko) – Indonesia sudah membutuhkan kehadiran asosiasi data center untuk memberikan kepercayaan kepada perusahaan-perusahaan global menempatkan datanya di tanah air.
“Pemain data center di Indonesia terus tumbuh dan sudah banyak bersertifikasi Tier-3. Untuk mendapatkan kepercayaan dari investor luar menempatkan datanya di sini tak bisa hanya mengandalkan regulasi, sebaiknya ada juga asosiasi untuk melobi investor itu,” ungkap CEO TelkomSigma Judi Achmadi, kemarin.
Diungkapkannya, TelkomSigma sebagai penguasa sekitar 35% pangsa pasar data center di Indonesia sudah mulai melakukan komunikasi dengan beberapa pemain agar pembentukan asosiasi bisa diwujudkan. “Kalau ada asosiasi lebih enak bicara ke regulator dan investor, minimal ada standarisasi,” katanya.
Ditambahkannya, pada tahun-tahun mendatang perusahaan asing akan makin banyak menempatkan datanya di Indonesia karena aturan mengharuskan. “Masalahnya terkadang mereka bingung mencari informasi kemana. Kita harapkan asosiasi nanti menjadi semacam juru bicaranya,” katanya.
Direktur Consulting & Enterprise Delivery Multipolar Technology Halim D Mangunjudo mengatakan, penempatan data di Indonesia sesuatu yang mutlak karena wujud kedaulatan negara. “Bicara teknologi sih data ditempatkan dimana saja bisa, masalahnya kalau terjadi sesuatu di hubungan antar negara, bagaimana nasib data kita di negeri orang,” katanya.
Halim menambahkan, pasar data center Tier-4 pun di Indonesia belum besar karena spesifikasi dan permintaan sangat tinggi. “Pertanyaannya dengan melihat kebutuhan Tier-4, perusahaan mana di Indonesia yang mau mengeluarkan uang sebesar itu untuk data center. Kalau kami di Multipolar selalu bilang Tier-3 plus atau ready for Tier-4,” katanya.
Sebelumnya, Frost &Sullivan memperkirakan nilai belanjaTeknologi Informasi dari segmen korporasi menembus angka US$ 3,86 miliar pada 2019 dengan asumsi compound annual growth rate (CAGR) untuk 2013-2019 sekitar 18,6% per tahun.
Belanja Teknologi Informasi masih berasal dari pasar konektivitas sebesar US$ 1,12 miliar. Disusul, managed services sebesar US$ 851 juta, enterprise software (US$ 820 juta), cloud services (US$ 423 juta), dan data center services (US$ 367 juta).(ak)