JAKARTA (IndoTelko) - Pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) di lingkungan kerja terus meningkat, terutama untuk membantu penyusunan laporan, analisis data, hingga produksi konten. Meski terbukti mendorong efisiensi, penggunaan AI dinilai tidak boleh mengorbankan kualitas berpikir dan pengambilan keputusan manusia.
Survei penggunaan AI di tempat kerja menunjukkan, sekitar 27% pekerja mampu menghemat lebih dari sembilan jam kerja per minggu berkat teknologi ini. Namun, kemudahan tersebut juga memunculkan risiko baru, yakni kecenderungan menjadikan AI sebagai jalan pintas tanpa proses analisis yang memadai, yang berpotensi menurunkan kualitas keputusan.
Menanggapi fenomena tersebut, Allianz Indonesia menggelar diskusi Ngobrol Bareng Allianz Citizens (NgobrAZ) bertajuk “AI Yes, Shortcut No: Cara Cerdas Pakai AI di Dunia Kerja”. Forum ini menghadirkan Abi Mangku Nagari, AI Implementation Consultant, untuk mengajak karyawan memahami peran AI sebagai alat bantu berpikir, bukan pengganti nalar manusia.
Head of Corporate Communications Allianz Indonesia, Wahyuni Murtiani, menegaskan bahwa produktivitas tidak semata diukur dari kecepatan menyelesaikan pekerjaan. Menurutnya, kualitas keputusan dan kekuatan fondasi berpikir di baliknya justru menjadi indikator utama kinerja yang berkelanjutan.
Senada, Abi Mangku Nagari menilai tantangan terbesar adopsi AI di dunia kerja bukan terletak pada kecanggihan teknologi, melainkan pada pola pikir penggunanya. Ketika AI diposisikan sebagai jalan pintas, kualitas analisis dan rasa tanggung jawab berisiko menurun.
Dalam diskusi tersebut, disampaikan lima prinsip utama agar pemanfaatan AI tetap produktif tanpa terjebak shortcut thinking. Prinsip tersebut meliputi pentingnya memulai dari perumusan masalah yang jelas, memanfaatkan AI untuk menyusun struktur berpikir alih-alih menarik kesimpulan akhir, serta mengalihkan tugas-tugas berulang agar pekerja dapat fokus pada analisis dan strategi.
Selain itu, AI disarankan diposisikan sebagai co-pilot yang dapat diajak berdialog, bukan auto-pilot. Tahap akhir tetap harus ditutup dengan human judgment, terutama dalam menilai akurasi, implikasi bisnis, dan aspek etika dari setiap keputusan.
Melalui pendekatan ini, Allianz menegaskan bahwa nilai AI bukan terletak pada kecepatan jawaban, melainkan pada kemampuan pekerja menjaga kualitas berpikir dan pengambilan keputusan di tengah kemudahan teknologi. (mas)