telkomsel halo

4G dari First Media Tak Gunakan Merek Sitra

08:33:39 | 28 Apr 2014
4G dari First Media Tak Gunakan Merek Sitra
Dicky Moechtar (Dok)
Angkasa Pura 2
JAKARTA (IndoTelko) – PT First Media Tbk (KBLV) tak akan menggunakan lagi merek Sitra kala menggelar layanan 4G berbasis teknologi Time Division Duplex Long Term Evolution (TDD LTE) di tahun ini.

“Kita tak lagi pakai merek Sitra nanti untuk 4G. Soalnya itu sudah kadung identik dengan produk Worldwide Interoperability for Microwave Access (WiMAX) yang kita setop tahun lalu,” ungkap Direktur First Media Dicky Moechtar, kemarin.

Diakuinya, penggelaran 4G milik perseroan agak terlambat dari rencana semula yakni kuartal pertama 2014. “Kita terlambat lebih ke masalah teknis, bukan karena ingin melihat respons pasar dulu terhadap produk Bolt milik Internux. Tak ada hubungannya itu. Kita maunya Juni atau Juli 2014 sudah komersial 4G,” tegasnya.

Diungkapkannya, saat ini perseroan tengah mengajukan ijin Uji Laik Operasi (ULO) ke Kementrian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo). “Setelah ULO kan keluar ijin komersial. Kita harapkan tidak molor lagi,” katanya.

Dikatakannya, saat ini perseroan sudah membangun sekitar 1.600 BTS dan cukup untuk komersial di tahap awal dengan bantuan vendor jaringan Huawei dan ZTE.

“Idealnya melayani seluruh Jabodetabek itu butuh 3.200-3.600 BTS, tetapi untuk tahap awal dengan 1.600 BTS sudah cukup,” katanya.

Dicky optimistis layanan 4G yang ditawarkan perseroan akan memikat masyarakat karena penetrasi smartphone tengah terus tumbuh. “Ini akan menjadi kombinasi bagus untuk smartphone yang butuh layanan data cepat. Sekarang kan susah mencari koneksi cepat dan stabil,” jelasnya.

Seperti diketahui, First Media menghentikan layanan Worldwide Interoperability for Microwave Access (WiMAX) dengan merek Sitra pada tahun lalu dan memutuskan beralih ke TDD LTE.Dana yang disiapkan untuk menggelar TDD LTE sekitar US$ 200 juta.(id)

telkom sigma
Artikel Terkait
Rekomendasi
Berita Pilihan
More Stories
Data Center Service Provider of the year
Editorial
Prahara di angkasa