JAKARTA (IndoTelko) - Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) memperkuat kolaborasi ekosistem digital Indonesia dan ASEAN melalui penyelenggaraan Bali Tech Week (BTW) 2026 pada 1923 Oktober di Bali Beach Convention Center, Sanur. Forum ini mempertemukan pemerintah, startup, investor, industri, akademisi, dan komunitas untuk memperluas peluang investasi, akses pasar global, serta pengembangan kecerdasan buatan (AI).
Mengusung tema “Archipelago Ascending: Advance Together, Innovate Further”, BTW 2026 menghadirkan 13 agenda teknologi dengan semangat Terhubung, Tumbuh, dan Terjaga. Telkom Indonesia bertindak sebagai Founding Partner, didukung Telkomsel, GoTo, InJourney, dan mitra lainnya.
Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid mengatakan, konektivitas harus mampu menghasilkan pertumbuhan ekonomi sekaligus memberikan perlindungan bagi masyarakat dan kepastian bagi dunia usaha.
Menurutnya, inovasi digital tidak cukup hanya memperluas konektivitas, tetapi juga harus meningkatkan kualitas layanan publik dan memberikan manfaat ekonomi yang nyata.
Buka Peluang Bisnis dan Investasi
Melalui HUB.ID Global Summit 2026, Komdigi mempertemukan 81 startup, 45 investor, dan 35 korporasi dari 13 negara dalam sesi penjajakan bisnis terkurasi. Pertemuan tersebut membuka peluang bagi startup untuk mendapatkan pendanaan, menjalin kemitraan strategis, dan memperluas pasar.
Peluang internasional juga hadir melalui Indonesia Game Developer Exchange (IGDX) 2026 yang mempertemukan 244 studio gim dan 66 penerbit (publisher) dari 31 negara. Forum ini memberikan kesempatan kepada pengembang gim Indonesia untuk menjajaki kerja sama penerbitan, distribusi, dan investasi.
Sementara itu, Endeavor Indonesia menghadirkan wirausahawan dari Malaysia, Filipina, Vietnam, Arab Saudi, dan Brasil melalui program Access to Market Tour: Indonesia Edition. Program tersebut memfasilitasi pengembangan jejaring dan penjajakan pasar di Indonesia.
Direktur Jenderal Ekosistem Digital Komdigi Edwin Hidayat Abdullah mengatakan, kolaborasi dalam BTW dirancang untuk menghasilkan peluang bisnis konkret, termasuk akses pendanaan, kemitraan strategis, dan perluasan pasar bagi inovasi lokal.
Di bidang AI, GoTo meluncurkan model bahasa besar (Large Language Model/LLM) open-source dengan 27 miliar parameter. Model ini dikembangkan untuk memahami bahasa Indonesia dan sejumlah bahasa daerah, termasuk Jawa, Sunda, Bali, dan Batak. Teknologi tersebut tersedia secara gratis bagi startup, perusahaan, universitas, peneliti, dan institusi publik untuk dipelajari serta dikembangkan lebih lanjut.
Telkomsel turut memperkenalkan sembilan produk dan layanan AI lokal untuk mendapatkan masukan pengguna dan mitra. Solusi yang ditampilkan antara lain SISCAMLING untuk membantu mengenali indikasi penipuan, Adelia sebagai mesin pencarian dan asisten AI, Sacred Octagon untuk pembelajaran matematika, serta AUREL untuk membantu akses informasi dan ringkasan bisnis.
Pengembangan ekosistem AI juga diperkuat melalui peluncuran Project NUSA oleh KORIKA bersama AI Singapore. Inisiatif tersebut bertujuan membangun fondasi tata kelola dan pengetahuan lokal untuk mendukung penerapan AI yang aman, tepercaya, dan relevan bagi industri.
Perkuat Infrastruktur dan Kedaulatan Digital
BTW 2026 turut membahas peluang Indonesia menjadi pusat digital kawasan Indo-Pasifik melalui penguatan konektivitas, pusat data, kemampuan AI, serta keamanan digital.
Direktur Jenderal Infrastruktur Digital Komdigi Wayan Toni Supriyanto menyoroti pentingnya pemerataan pusat data hingga Indonesia bagian timur. Pengembangan infrastruktur tersebut membutuhkan perencanaan lokasi, pasokan energi yang andal, konektivitas cadangan, dan penyederhanaan perizinan.
Aspek keamanan juga menjadi perhatian melalui Tokocrypto Digital Summit 2026 yang diikuti sekitar 600 peserta serta AI & Cybersecurity Executive Forum (AICX) 2026 yang menghadirkan lebih dari 600 peserta dan 25 pembicara nasional maupun internasional. Pembahasannya mencakup tata kelola aset digital, perlindungan konsumen, keamanan siber, dan kesiapan menghadapi teknologi kuantum.
Di tingkat regional, Meutya berdialog dengan Menteri Pembangunan Digital dan Informasi Singapura Josephine Teo serta Menteri Komunikasi Malaysia Fahmi Fadzil. Diskusi mencakup tata kelola AI, kepercayaan digital, perlindungan anak, dan tanggung jawab platform digital.
Sebagai tindak lanjut, Komdigi menetapkan empat agenda aksi, yakni pemetaan infrastruktur dan teknologi digital nasional, pengembangan proyek percontohan adopsi teknologi, penguatan talenta dan inovasi AI, serta penyelarasan regulasi dan investasi dengan perkembangan teknologi. Dokumen pemetaan infrastruktur ditargetkan selesai dalam 30 hari sejak agenda tersebut disampaikan.
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria menegaskan, keberhasilan forum teknologi harus diukur dari tindak lanjut konkret setelah kegiatan berlangsung. Indonesia, katanya, tetap terbuka terhadap kolaborasi dan investasi global sembari memperkuat kemampuan mengelola teknologi strategis.
Komdigi berharap kemitraan yang terbangun selama BTW berlanjut menjadi investasi, adopsi teknologi, dan kerja sama bisnis yang memperkuat industri digital nasional serta memperluas manfaat teknologi ke berbagai daerah. (mas)