telkomsel halo

Pertamina perkuat migas, kejar pertumbuhan EBT

07:58:00 | 10 Sep 2026
Pertamina perkuat migas, kejar pertumbuhan EBT
JAKARTA (IndoTelko) - PT Pertamina (Persero) menyiapkan dua jalur pertumbuhan untuk menghadapi perubahan lanskap energi global. Melalui strategi dual growth, Pertamina tetap memperkuat bisnis minyak dan gas (migas) sekaligus mempercepat pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT) serta teknologi rendah karbon.

Strategi tersebut dinilai penting di tengah ketidakpastian geopolitik yang berpotensi mengganggu rantai pasok dan meningkatkan volatilitas harga energi. Pertamina harus memastikan kebutuhan energi nasional tetap terpenuhi, namun pada saat yang sama mulai membangun sumber energi baru untuk jangka panjang.

Vice President Corporate Communication Pertamina Muhammad Baron mengatakan transisi energi tidak hanya berkaitan dengan pengurangan emisi, tetapi juga diversifikasi sumber energi nasional.

“Bagi Pertamina, transisi energi bukan hanya mengenai bagaimana menurunkan emisi, tetapi juga memastikan bahwa Indonesia memiliki sumber energi yang semakin beragam, berkelanjutan, dan berasal dari potensi dalam negeri,” ujar Baron.

Pada jalur pertama, Pertamina mempertahankan bisnis legacy sebagai fondasi ketahanan energi. Penguatan produksi migas dan optimalisasi kilang dilakukan untuk menjaga ketersediaan pasokan sekaligus memastikan kemampuan pengolahan energi tetap mampu mengikuti kebutuhan domestik.

Sementara jalur kedua diarahkan pada bisnis masa depan melalui pengembangan EBT, bahan bakar nabati dan teknologi rendah karbon. Pertamina mengembangkan panas bumi, energi surya, serta teknologi seperti carbon capture, utilization and storage (CCUS) dan hidrogen rendah karbon.

Salah satu aset utama dalam pengembangan EBT adalah panas bumi. Melalui Pertamina Geothermal Energy (PGE), Pertamina mengelola kapasitas terpasang mencapai 1.932 MW, terdiri dari 727 MW yang dikelola langsung dan 1.205 MW melalui skema Kontrak Operasi Bersama. Kapasitas tersebut setara sekitar 70% dari kapasitas panas bumi terpasang nasional.

Ekonom sekaligus Direktur Eksekutif CORE Indonesia Mohammad Faisal menilai strategi tersebut merupakan pendekatan yang realistis. Menurutnya, migas masih dibutuhkan sebagai penopang kebutuhan energi domestik, tetapi Pertamina harus mulai mengurangi ketergantungan terhadap sumber energi fosil yang memiliki keterbatasan cadangan.

“Harus mencari sumber lain di luar migas untuk yang kaitannya dengan energi, untuk mendorong ketahanan energi dan memenuhi kebutuhan domestik yang semakin terus mengalami peningkatan,” kata Faisal.

Menurut Faisal, Indonesia memiliki potensi EBT yang besar, mulai dari surya, hidro, angin hingga panas bumi. Namun, perpindahan dari migas menuju energi bersih perlu dilakukan secara bertahap agar tidak mengganggu kinerja dan ketahanan energi.

Pendekatan tersebut disebut sebagai safe transition, yakni mempertahankan bisnis migas sebagai penyangga sambil secara konsisten membangun ekosistem energi baru.

Urgensi pengembangan EBT juga sejalan dengan agenda pemerintah. Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung mengatakan EBT menjadi salah satu prioritas dalam mendorong swasembada energi sekaligus mengurangi dampak gejolak energi global terhadap perekonomian nasional.

Kementerian ESDM mencatat bauran EBT Indonesia pada semester I 2026 mencapai 17,3%, sementara pemerintah menargetkan porsinya meningkat menjadi 30% pada 2034.

Bagi Pertamina, kondisi tersebut membuat dual growth bukan sekadar strategi korporasi, melainkan bagian dari upaya menjaga dua kepentingan sekaligus: memastikan energi tersedia saat ini dan menyiapkan sumber energi baru untuk masa depan.

GCG BUMN
“Perjalanan tersebut diarahkan untuk memastikan kebutuhan energi hari ini tetap terpenuhi sembari membangun fondasi energi masa depan menuju Net Zero Emission 2060,” pungkas Baron. (mas)

Artikel Terkait
Rekomendasi
Berita Pilihan
More Stories