telkomsel halo

ITSEC Asia perkuat ketahanan siber di Indonesia Timur

05:07:00 | 27 Jun 2026
ITSEC Asia perkuat ketahanan siber di Indonesia Timur
JAKARTA (IndoTelko) - PT ITSEC Asia Tbk (IDX: CYBR) memperluas Gerakan Nasional Ketahanan Siber (GNKS) ke wilayah Indonesia Timur melalui penyelenggaraan roadshow di Makassar. Bersama Asosiasi Digitalisasi dan Keamanan Siber Indonesia (ADIGSI) serta Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), perusahaan mendorong peningkatan kesiapan para pemimpin organisasi dalam menghadapi potensi krisis keamanan siber.

Inisiatif tersebut hadir di tengah meningkatnya ancaman siber yang menyasar berbagai sektor. Berdasarkan data BSSN, sepanjang 2025 tercatat lebih dari 5,16 miliar anomali trafik atau indikasi aktivitas siber yang memerlukan perhatian. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kemampuan merespons insiden kini sama pentingnya dengan upaya pencegahan.

Roadshow yang berlangsung di Makassar pada 25 Juni 2026 mengusung pendekatan berbeda melalui Executive Tabletop Exercise, yakni simulasi yang dirancang khusus bagi jajaran pimpinan organisasi agar memahami proses pengambilan keputusan saat menghadapi insiden siber.

President Director ITSEC Asia, Patrick Dannacher, mengatakan ancaman siber saat ini telah berkembang menjadi risiko bisnis yang harus menjadi perhatian manajemen, bukan hanya tim teknologi informasi.

“Ketika terjadi insiden siber, dampaknya tidak hanya mengganggu sistem teknologi, tetapi juga dapat memengaruhi operasional bisnis, layanan pelanggan hingga reputasi perusahaan. Karena itu, para pengambil keputusan perlu memahami langkah yang harus diambil ketika menghadapi situasi tersebut,” ujarnya.

Dalam simulasi tersebut, peserta dibagi ke dalam beberapa kelompok dan mengikuti lima tahapan, mulai dari memahami skenario ancaman, menyusun strategi mitigasi, menjalankan simulasi krisis, mempresentasikan keputusan yang diambil, hingga melakukan evaluasi bersama. Pendekatan ini diharapkan mampu meningkatkan kemampuan organisasi dalam menghadapi berbagai skenario serangan siber.

Selain pengalaman simulasi, peserta juga memperoleh sejumlah perangkat yang dapat langsung diterapkan di lingkungan kerja, antara lain matriks pemetaan risiko (Security Flow), konsep desain keamanan (Security Design Concept), serta evaluasi kompetensi melalui Security Skills Assessment & Recognition.

Patrick menambahkan, GNKS tidak hanya bertujuan meningkatkan kesadaran terhadap ancaman siber, tetapi juga membantu organisasi menyusun langkah konkret dalam memperkuat ketahanan digital.

“Kami ingin setiap peserta membawa pulang panduan yang dapat langsung diterapkan di organisasinya, baik dalam memetakan risiko, merancang sistem keamanan, maupun meningkatkan kualitas pengambilan keputusan ketika menghadapi insiden,” katanya.

Deputi Keamanan Siber dan Sandi Perekonomian BSSN, Slamet Aji Pamungkas, menilai penguatan kapasitas sumber daya manusia menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan transformasi digital nasional.

Menurutnya, pemanfaatan teknologi digital yang semakin luas harus diimbangi dengan kemampuan menghadapi berbagai risiko siber melalui kolaborasi seluruh pemangku kepentingan agar ruang digital Indonesia tetap aman dan terpercaya.

Sementara itu, Ketua Umum ADIGSI, Firlie Ganinduto, mengatakan tantangan utama saat ini bukan lagi membangun kesadaran mengenai pentingnya keamanan siber, melainkan mendorong organisasi untuk menerjemahkan kesadaran tersebut menjadi langkah nyata.

Ia menilai Makassar dipilih sebagai lokasi penyelenggaraan karena memiliki peran strategis sebagai salah satu pusat pertumbuhan ekonomi di kawasan timur Indonesia sekaligus menjadi wilayah yang potensial dalam penguatan ekosistem keamanan siber nasional.

Gerakan Nasional Ketahanan Siber merupakan program kolaborasi ITSEC Asia dan ADIGSI yang akan berlangsung sepanjang 2026. Setelah Banten dan Makassar, rangkaian kegiatan akan berlanjut ke Pontianak, Bali, Yogyakarta, dan Medan sebagai bagian dari upaya memperluas kesiapan organisasi menghadapi ancaman siber di berbagai daerah.

GCG BUMN
Melalui program tersebut, ITSEC Asia berharap semakin banyak organisasi yang memiliki kemampuan merespons krisis siber secara cepat dan terukur sehingga mampu memperkuat kepercayaan terhadap ekosistem ekonomi digital Indonesia. (mas)

Ikuti terus perkembangan berita ini dalam topik
Artikel Terkait
Rekomendasi
Berita Pilihan
More Stories