telkomsel halo

Tren karikatur AI berisiko picu penipuan digital

06:58:00 | 24 Feb 2026
Tren karikatur AI berisiko picu penipuan digital
JAKARTA (IndoTelko) Tren pembuatan karikatur berbasis kecerdasan buatan (AI) dengan perintah “gunakan semua informasi tentang saya” tengah viral di berbagai platform media sosial. Meski terlihat kreatif dan menghibur, praktik ini dinilai berpotensi membuka celah penipuan digital yang semakin personal dan meyakinkan.

Fenomena ini memperlihatkan pengguna mengunggah foto pribadi, lalu meminta AI membuat ilustrasi berdasarkan kehidupan, pekerjaan, hingga detail lain yang “diketahui” sistem tentang dirinya. Hasilnya kerap menampilkan versi animasi pengguna dalam konteks profesional maupun personal, dan ramai dibagikan di Instagram, TikTok, hingga LinkedIn.

Namun, para peneliti dari Kaspersky mengingatkan bahwa tren tersebut bukan sekadar penggunaan filter visual biasa. Untuk menghasilkan gambar yang dianggap akurat, pengguna sering kali secara sukarela memasukkan berbagai informasi sensitif seperti nama perusahaan, jabatan, lokasi kerja, rutinitas, hingga detail keluarga.

Data-data tersebut, jika dikombinasikan dengan foto dan konteks tambahan, dapat membentuk profil digital yang sangat rinci. Profil ini berpotensi dimanfaatkan pelaku kejahatan siber untuk menyusun skema rekayasa sosial (social engineering) yang lebih presisi, termasuk email phishing atau penipuan yang menyebutkan detail spesifik korban agar tampak kredibel.

Risiko ini dinilai semakin relevan di kawasan Asia Pasifik. Tingkat adopsi AI di wilayah ini tercatat mencapai 78% penggunaan mingguan oleh profesional, melampaui rata-rata global 72%. Namun, literasi teknis dasar dinilai belum sepenuhnya sejalan dengan tingginya pemanfaatan teknologi tersebut.

Selain konten akhir berupa ilustrasi, sejumlah platform AI juga berpotensi menyimpan foto asli, instruksi teks, riwayat penggunaan, hingga data teknis seperti alamat IP dan pola interaksi. Informasi ini dapat digunakan untuk pengembangan layanan atau pelatihan model, sehingga jejak digital pengguna tidak serta-merta hilang setelah konten dibuat.

Managing Director Asia Pasifik Kaspersky, Adrian Hia, menilai tren tersebut secara tidak langsung memberikan “cetak biru” bagi pelaku kejahatan siber.

Menurutnya, ketika pengguna membagikan detail personal hanya demi konten kreatif, mereka tanpa sadar menyediakan konteks yang dapat mengubah pesan phishing generik menjadi serangan yang sangat personal dan sulit dikenali.

Untuk meminimalkan risiko, Kaspersky menyarankan pengguna menerapkan prinsip kehati-hatian digital, antara lain dengan tidak mencantumkan data identitas lengkap, jabatan, perusahaan, alamat, maupun rutinitas harian dalam perintah AI. Pengguna juga diminta menghindari unggahan foto yang menampilkan logo perusahaan, dokumen, kredensial, plat nomor, atau informasi lain yang dapat ditelusuri.

Selain itu, masyarakat diimbau tidak membagikan data atau foto anak di bawah umur serta meninjau kebijakan privasi platform sebelum menggunakan layanan berbasis AI. Penguatan perlindungan digital melalui solusi keamanan siber juga dinilai penting guna mengantisipasi tautan berbahaya maupun upaya phishing yang memanfaatkan tren ini.

GCG BUMN
Kaspersky menegaskan, eksperimen kreatif dengan AI tetap dapat dilakukan, namun harus dibarengi kesadaran bahwa setiap informasi yang dibagikan di ruang digital berpotensi menjadi pintu masuk risiko keamanan siber. (mas)

Artikel Terkait
Rekomendasi
Berita Pilihan
Ramadan 2026
More Stories