telkomsel halo

Akamai prediksi arah cloud dan keamanan APAC di 2026

08:59:00 | 03 Feb 2026
Akamai prediksi arah cloud dan keamanan APAC di 2026
JAKARTA (IndoTelko) - Akamai Technologies, Inc. (NASDAQ: AKAM) merilis Prediksi Cloud dan Security 2026 untuk kawasan Asia Pasifik (APAC). Laporan ini menyoroti bagaimana kecerdasan buatan (AI), pengetatan aturan kedaulatan data, serta meningkatnya kebutuhan komputasi AI terdistribusi akan membentuk ulang strategi organisasi dalam membangun, mengamankan, dan mengelola infrastruktur digital.

Di sisi keamanan, Akamai memproyeksikan bahwa AI akan mempercepat sekaligus memperluas lanskap ancaman siber di APAC. Serangan siber diperkirakan menjadi lebih cepat, otomatis, dan semakin otonom berkat pemanfaatan AI generatif. Model berbasis mesin memungkinkan pelaku kejahatan siber memindai celah, menguji akses, hingga melancarkan serangan dengan keterlibatan manusia yang minimal, sehingga siklus serangan yang sebelumnya memakan waktu berminggu-minggu dapat dipangkas menjadi hitungan jam.

Akamai juga memperkirakan API akan menjadi sasaran utama serangan di lapisan aplikasi. Ketergantungan yang semakin tinggi pada ekosistem API di sektor perbankan digital, layanan publik, dan ritel membuka celah baru, terutama karena banyak organisasi belum memiliki visibilitas penuh terhadap API yang mengelola data sensitif. Kondisi ini, dikombinasikan dengan otomatisasi berbasis AI, menciptakan peluang besar bagi pelaku serangan untuk mengeksploitasi API secara masif.

Selain itu, ransomware diprediksi akan semakin terkomoditisasi pada 2026. Model Ransomware-as-a-Service, dukungan AI, serta kolaborasi lintas aktor kejahatan siber akan menurunkan hambatan masuk bagi pelaku serangan. Sektor yang mengelola data bernilai tinggi seperti keuangan, kesehatan, ritel, media, hingga industri teknologi tinggi diperkirakan menghadapi tekanan risiko yang kian intensif.

Direktur Teknologi dan Strategi Keamanan Akamai Reuben Koh menilai bahwa AI telah mengubah ekonomi serangan siber secara mendasar. Menurutnya, organisasi tidak lagi bisa mengandalkan pertahanan yang bergantung pada kecepatan manusia, melainkan perlu beroperasi dengan kecepatan mesin melalui deteksi, analisis, dan respons ancaman secara real time. Modernisasi tata kelola API, penguatan otomatisasi keamanan, serta peningkatan ketahanan rantai pasokan menjadi langkah krusial untuk menjaga kepercayaan pelanggan dan kesinambungan bisnis.

Dari sisi cloud, Akamai melihat kedaulatan digital semakin diposisikan sebagai bagian dari kedaulatan ekonomi. Dorongan global untuk mengurangi ketergantungan pada hyperscaler turut memengaruhi strategi cloud di APAC. Portabilitas cloud kini dipandang sebagai kebutuhan strategis untuk mitigasi risiko geopolitik dan ketergantungan vendor, sekaligus sebagai fondasi penting bagi aplikasi AI generasi berikutnya yang menuntut fleksibilitas komputasi.

Arsitektur AI juga diperkirakan semakin terdistribusi, dengan proses inferensi dipindahkan lebih dekat ke pengguna dan sistem operasional guna meningkatkan kinerja dan menekan latensi. Tren ini akan berdampak signifikan pada sektor seperti layanan publik, mobilitas, dan otomatisasi industri.

Akamai menilai bahwa keamanan AI tidak lagi cukup difokuskan pada perlindungan perangkat atau endpoint. Organisasi perlu mengamankan seluruh rantai pasokan data AI, mulai dari data pelatihan hingga output model. Hal ini akan mendorong adopsi firewall AI yang mampu memeriksa prompt dan respons secara real time, sekaligus memperkuat tata kelola dan pelacakan asal-usul data.

Dalam aspek operasional, praktik FinOps diprediksi akan bergeser ke tahap awal pengembangan. Visibilitas biaya komputasi AI akan diintegrasikan sejak fase desain, memungkinkan organisasi memahami implikasi finansial dari setiap keputusan arsitektur. Pendekatan ini diyakini memberikan keunggulan kompetitif melalui efisiensi biaya yang terbangun sejak awal.

GCG BUMN
Chief Technology Officer Cloud Computing Services Akamai Jay Jenkins menegaskan bahwa strategi cloud di Asia semakin mengarah pada otonomi dan portabilitas. Kemampuan memindahkan beban kerja dengan mudah, menerapkan kontrol data yang kuat, serta menjalankan AI di lokasi paling optimal akan menjadi kunci dalam membangun layanan digital yang tangguh dan siap menghadapi masa depan yang semakin terdistribusi. (mas)

Artikel Terkait
Rekomendasi
Berita Pilihan
More Stories