telkomsel halo

Radioterapi presisi tinggi jadi asa pasien kanker serviks

05:58:00 | 05 Jan 2026
Radioterapi presisi tinggi jadi asa pasien kanker serviks
JAKARTA (IndoTelko) Perkembangan teknologi radioterapi menghadirkan harapan baru bagi pasien kanker serviks di Indonesia, di tengah masih tingginya angka kasus yang mencapai sekitar 36.000 kasus baru setiap tahun dan menempati peringkat kedua kanker terbanyak pada perempuan.

Radioterapi kini menjadi salah satu metode penanganan kanker yang efektif dan presisi, tidak hanya untuk kanker serviks tetapi juga kanker ginekologi lainnya. Terapi ini merupakan salah satu dari tiga pilar utama penanganan kanker, selain pembedahan dan terapi sistemik.

Dokter Spesialis Onkologi Radiasi Primaya Hospital Bekasi Barat, dr. Fauzan Herdian, Sp.Onk.Rad, mengatakan sekitar 5060 persen pasien kanker membutuhkan radioterapi sebagai bagian dari rangkaian pengobatan.

“Seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap skrining kanker serviks, semakin banyak pasien yang terdeteksi pada stadium yang masih dapat ditangani secara optimal dengan radioterapi, khususnya pada stadium II dan III,” ujarnya.

Dalam praktik klinis, radioterapi dilakukan melalui dua pendekatan utama, yakni radioterapi eksternal dan brakiterapi. Radioterapi eksternal merupakan metode paling umum, menggunakan sinar pengion berenergi tinggi yang diarahkan secara presisi ke area tumor melalui mesin khusus, dengan durasi sekitar 1030 menit per sesi dan tanpa menimbulkan rasa sakit.

Sementara itu, brakiterapi dilakukan dengan menempatkan aplikator langsung ke area tumor. Metode ini menjadi bagian penting, bahkan wajib bila tidak terdapat kontraindikasi, dalam terapi kanker serviks guna melengkapi dosis radiasi secara optimal.

Efek samping radioterapi umumnya bersifat lokal dan sementara, seperti iritasi kulit, gangguan pencernaan, atau keluhan berkemih.

Perkembangan teknologi dalam beberapa tahun terakhir menghadirkan teknik presisi tinggi seperti 3D Conformal Radiotherapy (3DCRT) dan Intensity-Modulated Radiation Therapy (IMRT), termasuk teknik lanjutan VMAT dan IGRT. Teknologi ini memungkinkan pengaturan dosis radiasi yang lebih akurat, sehingga efektif menargetkan tumor sekaligus meminimalkan paparan ke jaringan sehat.

Menurut dr. Fauzan, penggunaan teknik modern membuat radioterapi semakin aman dan nyaman bagi pasien.

“Dengan teknik seperti IMRT dan VMAT, tingkat keberhasilan terapi meningkat, sementara efek samping dapat lebih terkontrol, termasuk pada kanker serviks pasca operasi atau yang telah menyebar ke kelenjar getah bening,” katanya.

Pada kanker serviks, radioterapi berperan di berbagai tahap penyakit, mulai dari terapi tambahan pasca operasi, terapi utama pada stadium lokal lanjut, hingga pengendalian gejala pada stadium lanjut. Layanan radioterapi komprehensif dengan teknologi modern ini telah tersedia di Primaya Hospital Tangerang dan Primaya Hospital Bekasi Barat.

Meski demikian, deteksi dini tetap menjadi kunci utama penanganan kanker. Deteksi pada tahap pra-kanker atau stadium awal memberikan peluang kesembuhan yang sangat tinggi, bahkan mendekati 100 persen, dengan durasi terapi yang lebih singkat, efek samping lebih ringan, dan biaya pengobatan yang lebih rendah.

Skrining kanker serviks dianjurkan dilakukan secara berkala melalui Pap smear setiap tiga hingga lima tahun setelah menikah, atau melalui tes IVA sebagai skrining awal, terutama di wilayah dengan keterbatasan akses layanan kesehatan.

GCG BUMN
“Radioterapi bukan lagi terapi yang menakutkan. Dengan teknologi modern dan deteksi dini, radioterapi justru menjadi solusi yang memberi harapan besar bagi pasien kanker untuk sembuh dan kembali menjalani hidup secara produktif,” tutup dr. Fauzan. (mas)

Artikel Terkait
Rekomendasi
Berita Pilihan
More Stories