telkomsel halo

87% UMKM Asia Pasifik alami insiden siber dalam setahun terakhir

06:39:00 | 16 Okt 2026
87% UMKM Asia Pasifik alami insiden siber dalam setahun terakhir
JAKARTA (IndoTelko) - Kaspersky mengungkap tingginya risiko serangan siber yang dihadapi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Asia Pasifik. Berdasarkan survei terhadap profesional teknologi informasi (TI) dan keamanan TI, sebanyak 87% responden menyatakan organisasinya mengalami setidaknya satu insiden siber dalam 12 bulan terakhir.

Dalam survei global tersebut, Kaspersky juga mengidentifikasi tim yang paling sering menjadi sasaran serangan, dampak terhadap operasional bisnis, serta langkah pengamanan yang mulai diterapkan perusahaan.

Di antara insiden yang dinilai paling merusak, eksploitasi kerentanan perangkat lunak disebut oleh 10% responden, sementara serangan malware massal dan akses jarak jauh eksternal masing-masing tercatat sebesar 7%.

Dampak serangan tidak hanya berupa gangguan teknis. Pada UMKM Asia Pasifik yang pernah mengalami insiden siber, konsekuensi paling merugikan mencakup pencurian data pribadi pelanggan sebesar 25%, gangguan sementara pada layanan yang berhadapan langsung dengan pelanggan sebesar 23%, serta pencurian data pribadi karyawan sebesar 23%.

Sebanyak 21% perusahaan juga melaporkan kerugian finansial, dan persentase yang sama mengalami kehilangan data permanen. Selain itu, 13% responden menyatakan insiden siber menyebabkan kerusakan permanen pada aset perusahaan.

Temuan ini menunjukkan bahwa serangan siber dapat menimbulkan dampak jangka panjang bagi UMKM, termasuk mengganggu kelangsungan operasional dan mengurangi kepercayaan pelanggan.

Data Pelanggan Menjadi Incaran Utama

Kaspersky mencatat pencurian data pribadi pelanggan menjadi tujuan utama penyerang di Asia Pasifik, sebagaimana diidentifikasi oleh 34% responden.

Target berikutnya adalah informasi internal yang sensitif, termasuk kredensial keuangan dan dokumen hukum, sebesar 31%. Sementara itu, pencurian data pribadi karyawan disebut oleh 27% responden, disusul upaya menghalangi akses karyawan dan pelanggan terhadap sumber daya daring sebesar 23%.

Dari sisi departemen, 52% responden mengidentifikasi departemen keamanan TI sebagai sasaran serangan paling merusak, sedangkan 51% menyebut departemen TI. Layanan pelanggan berada di posisi berikutnya dengan 22%, diikuti bagian akuntansi dan keuangan sebesar 20%.

Head of Unified Platform Product Line Kaspersky, Ilya Markelov, mengatakan insiden siber dapat memberikan dampak yang sangat besar bagi perusahaan kecil dan menengah karena keterbatasan sumber daya untuk menangani gangguan maupun memulihkan sistem.

Menurutnya, UMKM membutuhkan solusi keamanan yang dapat disesuaikan dengan skala usaha dan dikembangkan seiring munculnya kebutuhan baru. Kaspersky menawarkan Next Optimum sebagai salah satu solusi untuk membantu bisnis mencegah, mendeteksi, menyelidiki, dan merespons ancaman siber.

Managing Director Kaspersky Asia Pasifik, Adrian Hia, menambahkan bahwa keamanan siber tidak hanya menjadi tanggung jawab departemen TI. Perlindungan bisnis membutuhkan kombinasi teknologi yang tepat, kesadaran keamanan karyawan, serta penerapan praktik keamanan secara konsisten.

Pemantauan dan Keamanan Cloud Jadi Prioritas

Survei Kaspersky menunjukkan sejumlah perusahaan di Asia Pasifik mulai menambah investasi keamanan setelah mengalami insiden. Sebanyak 24% responden menyebut penerapan solusi pemantauan keamanan TI sebagai salah satu prioritas. Persentase yang sama berlaku untuk penguatan kontrol keamanan cloud dan pengetatan persyaratan kepatuhan bagi pihak ketiga.

Langkah lain yang dilakukan meliputi pelatihan khusus bagi staf TI, penerapan solusi keamanan pada perangkat karyawan, peninjauan kebijakan kata sandi, serta penggunaan autentikasi multifaktor. Masing-masing langkah tersebut disebut oleh 22% responden.

Untuk memperkuat perlindungan, Kaspersky merekomendasikan UMKM menyesuaikan solusi keamanan dengan anggaran, skala operasi, dan kebutuhan bisnis. Pilihan yang ditawarkan mencakup Kaspersky Next Optimum untuk perlindungan yang dapat dikembangkan melalui modul tambahan, serta Kaspersky Small Office Security Premium untuk perlindungan perangkat dari ancaman seperti malware dan ransomware.

Perusahaan juga menyarankan penerapan kontrol akses yang ketat, pencabutan hak akses segera setelah karyawan berhenti bekerja, pencadangan data secara rutin, dan pelatihan keamanan berkelanjutan. Persetujuan tim TI terhadap pemasangan perangkat lunak baru serta simulasi phishing juga dinilai dapat membantu meningkatkan kesiapan karyawan menghadapi ancaman.

GCG BUMN
Kaspersky menekankan bahwa kombinasi perlindungan teknologi, tata kelola akses, pencadangan data, dan peningkatan kesadaran karyawan menjadi bagian penting dari upaya menjaga ketahanan siber UMKM. (mas)

Artikel Terkait
Rekomendasi
Berita Pilihan
More Stories