telkomsel halo

Wearable AI: Inovasi atau Gimmick?

06:57:00 | 23 Feb 2026
Wearable AI: Inovasi atau Gimmick?
JAKARTA (IndoTelko) - Gelombang adopsi kecerdasan buatan (AI) kian masif. Jika bukan menjadi sorotan utama dalam peluncuran ponsel flagship, AI kini disematkan di hampir setiap aplikasi. Namun, di tengah euforia tersebut, muncul pertanyaan: apakah semua implementasi AI benar-benar relevan?

Sorotan terbaru mengarah pada dua raksasa teknologi, yakni Apple Inc. dan OpenAI, yang dilaporkan tengah menyiapkan perangkat wearable berbasis AI. Klaimnya ambisius—bahkan disebut berpotensi “melampaui smartphone.” Namun, konsep yang beredar justru memantik skeptisisme.

AI di Smartphone: Berguna atau Sekadar Fitur Tambahan?

Hingga kini, implementasi AI di smartphone dinilai masih terbatas pada fungsi-fungsi tambahan seperti peringkasan email, pencarian berbasis gambar, atau asisten percakapan. Salah satu yang dianggap benar-benar berguna adalah fitur pengeditan foto berbasis AI.

Di luar itu, banyak fitur AI dianggap belum memberikan nilai tambah signifikan dalam kehidupan sehari-hari. Alih-alih menyederhanakan aktivitas, sebagian fitur justru terasa seperti solusi yang mencari masalah.

Perangkat Tanpa Layar: Tantangan Besar

Laporan menyebut Apple tengah mengembangkan perangkat berbentuk pendant (liontin pintar) berbasis AI, serta AirPods dengan kamera terintegrasi. Sementara itu, OpenAI dikabarkan menyiapkan perangkat speaker pintar portabel yang dapat digunakan di rumah maupun dikenakan di luar ruangan.

Proyek OpenAI ini turut melibatkan mantan desainer Apple, Jony Ive, serta disebut-sebut oleh CEO Sam Altman sebagai salah satu teknologi terbaik yang pernah dibuat.

Perangkat tersebut dikabarkan dilengkapi mikrofon dan kamera, mampu mengenali penggunanya, serta melakukan tindakan proaktif—misalnya memberikan pengingat atau saran berdasarkan agenda pengguna. Namun, perangkat ini tidak memiliki layar.

Di sinilah letak kritik utama: tanpa layar, hampir seluruh interaksi harus dilakukan melalui perintah suara. Membalas pesan berarti mendikte secara langsung. Memutar musik harus melalui instruksi verbal. Tidak ada opsi visual untuk membaca pesan, menonton video, atau memainkan gim.

Antara Visi dan Realitas

Konsep wearable AI tanpa layar dinilai memiliki keterbatasan signifikan dalam hal privasi dan fleksibilitas penggunaan. Di ruang publik, interaksi berbasis suara bisa terasa canggung atau tidak praktis.

Sebaliknya, kacamata pintar berbasis augmented reality (AR) dinilai memiliki potensi lebih besar karena tetap menyediakan tampilan visual yang lebih personal dan privat.

Pada akhirnya, tantangan terbesar bagi Apple dan OpenAI bukanlah menghadirkan AI dalam perangkat baru, melainkan membuktikan bahwa perangkat tersebut menawarkan pengalaman yang benar-benar lebih baik dibanding smartphone—bukan sekadar alternatif yang lebih rumit.

GCG BUMN
Apakah wearable AI ini akan menjadi evolusi berikutnya dalam komputasi personal, atau hanya eksperimen mahal yang sulit menemukan relevansinya? Jawabannya kemungkinan baru akan terlihat ketika perangkat tersebut benar-benar hadir di pasar. (mas)

Artikel Terkait
Rekomendasi
Berita Pilihan
Ramadan 2026
More Stories