JAKARTA (indotelko) – PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) seharusnya lebih percaya diri mengikuti tender lisensi seluler di Myanmar karena dari sisi kompetensi dan kualifikasi, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) itu adalah salah satu pemain terbesar di Asia Tenggara.
“Telkom itu salah satu yang besar di Asean. Jika pun harus berhadapan dengan SingTel atau Axiata, itu lumrah. Memang levelnya harus sudah ke arah sana. Jumlah pelanggan Telkomsel saja sudah berapa? Sudah sepantasnya Telkom ekspansi keluar negeri dengan lebih percaya diri,” tegas BOD Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) Bidang Telekomunikasi Garuda Sugardo di Jakarta, Rabu (30//1) malam kala diminta pendapatnya terkait aksi Telkom untuk ekspansi ke kawasan regional.
Menurutnya, sebelum menjalankan ekspansi, Telkom harus memperhatikan beberapa aspek diantaranya, aspek investasi, keahlian, jaringan, dan bisnis.
“Kalau bicara investasi atau pendanaan, itu hal kecil bagi Telkom. Tinggal bersiul, banyak perbankan mau mendanai. Soal keahlian membangun jaringan, itu para engineer Telkom jago semua. Tantangannya itu di bisnis, ini sesuatu yang tidak ditransfer sepenuhnya oleh mitra asing Telkom dalam membangun Telkomsel,” ungkapnya.
Menurutnya, jika melihat model bisnis dengan membandingkan kemampuan yang dimiliki SingTel, bisa jadi Telkom kedodoran.
“Jika bersaingnya dengan SingTel secara bisnis dan ekonomi Telkom bisa kalah. Apalagi Telkomsel sebagai anggota Aliansi Bridge, tahu benar strength-nya SingTel. Hasil dari semua aksi ekspansi itu kan keuntungan, jika tidak untung buat apa dilakukan. Karena itu ekspansi harus dengan pertimbangan matang,” ingatnya.
Terakhir, dikatakannya, hal yang harus bisa diatasi Telkom adalah melawan diri sendiri kala ingin ekspansi, terutama menghapus luka lama dari model sistem Kerja Sama Operasi (KSO).
“Disinilah kuncinya harus ada pemimpin yang bisa menjadi pemikir untuk mengatur irama dan membuat strategi yang jitu. Kalau itu (syarat pemimpin) tidak ada, ekspansinya bisa layu sebelum berkembang,” ingatnya.
Untuk diketahui, Telkom adalah penguasa pasar telekomunikasi Indonesia dengan memiliki pelanggan wireless dan wireline sekitar 145 juta nomor. Nilai kapitalisasi pasar dari BUMN ini sekitar Rp 195,5 triliun.
Telkom tahun ini ingin gencar ekspansi ke kawasan regional Asia. Sebanyak 10 negara dibidik oleh perseroan.
Terbaru adalah mendapatkan lisensi seluler di Timor Leste.
Perusahaan Halo-halo ini juga menyatakan tengah membidik lisensi seluler di Myanmar.
Sayangnya, kabar tak sedap beredar tentang aksi di Myanmar dimana nama Telkom tidak masuk dalam pemain asing yang ikut dalam tender.
Nama-nama pemain asing yang muncul berebut dua lisensi seluler yang ditawarkan pemerintah Myanmar adalah Airtel (India), Singapore Telecommunications (SingTel/ Singapura), Singapore ST Telemedia (STT/ Singapura), Axiata (Malaysia), dan Telenor (Norwegia).
Kementrian Komunikasi dan Informatika Myanmar dalam pengumumannya menyatakan, pihaknya akan memberikan dua lisensi seluler nasional kepada pemenang tender mulai pertengahan 2013 nanti.
Pemilik lisensi diberikan masa beroperasi selama 20 tahun dan bisa diperpanjang. Proposal untuk mengikuti tender sendiri dibuka sejak 25 Januari 2013.
Sumber di Telkom yang mengetahui niat perseroan untuk mengikuti tender menyatakan, proposal sudah disiapkan dan tim telah dibentuk untuk memenangkan lisensi.
“Telkom maju sendiri menggunakan anak usahanya, Telin. Proposal Telkom masih diterima karena penutupan tenggat waktu diundur pemerintah Myanmar menjadi 8 Februari 2013,” ungkap sumber itu.
Head of Corporate Communication & Affair Telkom Selamet Riyadi kala dikonfirmasi tentang hal ini semalam, menyatakan tengah menyiapkan rilis resmi dari perseroan.
“Pers Release-nya sudah siap draft-nya. Saya sudah baca, tunggu saja. Nanti dikirimkan,” kata Pria yang akrab disapa SR ini Rabu (30/1) malam.
Sebelumnya, Kepala Pusat Informasi dan Humas Kemkominfo Gatot S. Dewa Broto menyayangkan lambannya aksi Telkom mengklarifikasi isu yang beredar terkait kepastian keikutsertaan BUMN itu di tender lisensi seluler Myanmar.
“Sebaiknya secepatnya dilakukan klarifikasi, itu benar atau tidak. Kalau benar, tentu sangat disayangkan sekali,” sarannya.
Diingatkannya, Telkom harus bisa menjaga kepercayaan dari investornya karena yang memegang saham dari operator itu tidak hanya dari lokal, tetapi juga luar negeri.
“Konsistensi adalah kunci mendapatkan kepercayaan dari investor. Telkom harus bisa menjaga kepercayaan itu. Saya berharap Telkom masih bisa ikut tender di Myanmar, karena membawa nama Merah Putih,” katanya.(id)