telkomsel halo

Kaspersky ingatkan risiko privasi saat membuat CV pakai AI

07:39:00 | 19 Okt 2026
Kaspersky ingatkan risiko privasi saat membuat CV pakai AI
JAKARTA (IndoTelko) - Pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dalam proses pencarian kerja semakin berkembang. Namun, pencari kerja perlu memperhatikan keamanan data pribadi dan keaslian informasi saat menggunakan teknologi tersebut untuk menyusun curriculum vitae (CV).

Kaspersky mengungkapkan, berdasarkan survei yang dilakukan pada Maret 2026 terhadap 7.200 responden di 18 negara, sebanyak 90% responden menggunakan perangkat berbasis AI. Dari jumlah tersebut, satu dari lima pengguna secara aktif memanfaatkan AI untuk membantu mencari pekerjaan.

AI dapat membantu menyesuaikan CV dengan kebutuhan lowongan, memperbaiki struktur tulisan, hingga mengoptimalkan kata kunci agar dokumen lebih mudah terdeteksi sistem rekrutmen otomatis. Meski demikian, penggunaan AI secara berlebihan berisiko membuat CV terdengar generik dan kehilangan karakter pribadi kandidat.

Untuk itu, Kaspersky membagikan sejumlah panduan agar pencari kerja dapat memanfaatkan AI secara efektif tanpa mengabaikan privasi dan akurasi informasi.

Utamakan Perlindungan Data Pribadi

Kaspersky menyarankan pencari kerja menghapus informasi sensitif sebelum mengunggah CV ke chatbot AI. Data yang perlu dilindungi antara lain nama lengkap, nomor telepon, alamat rumah, alamat email, nama perusahaan, serta dokumen hasil pemindaian.

Pengguna juga disarankan memeriksa pengaturan privasi layanan AI dan menonaktifkan opsi penggunaan percakapan untuk pelatihan model jika tersedia. Kebijakan privasi penyedia layanan perlu dibaca agar pengguna memahami bagaimana informasi mereka diproses.

Selain itu, kandidat perlu berhati-hati terhadap informasi pekerjaan yang bersifat rahasia atau dilindungi perjanjian kerahasiaan (NDA).

AI Sebagai Editor, Bukan Penulis Utama

Perusahaan menengah dan besar banyak menggunakan Applicant Tracking System (ATS) untuk mengumpulkan dan menyaring lamaran. Sejumlah platform rekrutmen juga mulai mengintegrasikan teknologi AI dalam proses seleksi kandidat.

Kendati demikian, CV yang lolos penyaringan otomatis tetap berpotensi diperiksa langsung oleh tim sumber daya manusia (SDM). Karena itu, dokumen yang terlalu banyak menggunakan frasa umum atau terkesan dibuat sepenuhnya oleh AI dapat mengurangi daya tarik kandidat.

Kaspersky menyarankan pencari kerja menyusun draf CV secara mandiri terlebih dahulu. AI kemudian dapat dimanfaatkan untuk memperbaiki pilihan kata, merapikan struktur, dan menonjolkan pengalaman yang relevan dengan posisi yang dituju.

“Alat bantu penulisan berbasis AI sangat berguna untuk menyusun dan memoles konten, namun kita harus ingat bahwa chatbot publik pada dasarnya adalah ‘penyerap data’,” ujar Lama Saqquor, pakar keamanan dan privasi di Kaspersky.

Menurutnya, AI sebaiknya dimanfaatkan sebagai mitra untuk menganalisis dan memperbaiki format dokumen, sementara informasi profesional tetap autentik dan data pribadi dijaga agar tidak terekspos.

Periksa CV Sebelum Dikirim

Sebelum mengirimkan lamaran, kandidat perlu memeriksa kembali isi CV, termasuk memastikan setiap klaim mengenai keterampilan, pengalaman, dan pencapaian dapat dipertanggungjawabkan saat wawancara.

Format dokumen juga perlu diperhatikan. Kaspersky menyarankan penggunaan struktur yang jelas, judul bagian yang konsisten, penanggalan yang tepat, serta format DOCX atau PDF tanpa elemen grafis yang rumit.

Di luar penyusunan CV, Kaspersky mengingatkan pencari kerja untuk memeriksa tautan lowongan, undangan wawancara, dan tugas tes yang diterima melalui email atau aplikasi pesan. Tautan tersebut berpotensi mengarah ke situs phishing atau sumber malware.

Pencari kerja juga dianjurkan menggunakan kata sandi yang unik untuk setiap layanan, memanfaatkan pengelola kata sandi, memverifikasi keaslian perusahaan dan lowongan, serta tidak mengunggah CV lengkap secara terbuka di jejaring sosial.

GCG BUMN
Survei Kaspersky tersebut melibatkan responden dari 18 negara, termasuk Indonesia, India, China, Brasil, Jerman, dan Prancis. Temuan ini menunjukkan bahwa penggunaan AI dalam pencarian kerja perlu diimbangi dengan pemahaman mengenai keamanan digital, perlindungan data, dan pentingnya menjaga keaslian profil profesional. (mas)

Artikel Terkait
Rekomendasi
Berita Pilihan
More Stories