JAKARTA (IndoTelko) - Kenaikan harga obat diperkirakan akan semakin memengaruhi pengeluaran kesehatan masyarakat. Meski pemerintah telah menetapkan batas maksimal penyesuaian harga obat komersial swasta sebesar 20 persen, tren kenaikan biaya obat sebenarnya telah berlangsung dalam beberapa tahun terakhir.
Berdasarkan data klaim Allianz Indonesia, harga obat terus mengalami peningkatan sejak 2022. Kenaikan tertinggi tercatat pada 2023 yang mencapai 11 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tekanan terhadap biaya kesehatan bukanlah fenomena baru, melainkan bagian dari tren inflasi medis yang terus meningkat.
Chief Technical Officer Allianz Life Indonesia, Brandon Heng, mengatakan kenaikan harga obat dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari pelemahan nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing yang berdampak pada harga bahan baku dan obat impor hingga meningkatnya biaya layanan kesehatan secara umum.
Menurutnya, harga obat memang bukan penyumbang terbesar inflasi medis, namun berdasarkan data Allianz, kenaikannya berada pada kisaran 6 hingga 15 persen setiap tahun. Karena itu, kebijakan pemerintah yang membatasi kenaikan harga obat dinilai dapat membantu mengendalikan laju inflasi medis.
Kelompok masyarakat yang paling terdampak adalah pasien yang membutuhkan terapi jangka panjang, seperti penderita diabetes, hipertensi, penyakit jantung, dan penyakit kronis lainnya. Data Allianz mencatat harga obat diabetes naik sekitar 10 persen sepanjang 2025, sementara obat hipertensi meningkat hingga 15 persen.
Kenaikan tersebut berpotensi meningkatkan beban finansial pasien yang harus mengonsumsi obat secara rutin. Namun, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh penderita penyakit kronis.
Data Allianz Indonesia sepanjang 2025 menunjukkan tagihan obat untuk layanan rawat jalan justru paling banyak berasal dari penyakit yang umum terjadi. Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) menjadi penyumbang terbesar dengan 32.519 kasus, disusul radang tenggorokan sebanyak 8.581 kasus serta demam dan pilek mencapai 7.728 kasus.
Head of Health Analytics Allianz Life Indonesia, dr. Tubagus Argie, menjelaskan masyarakat umumnya lebih fokus mengantisipasi biaya ketika menghadapi penyakit berat. Padahal, penyakit yang sering dianggap ringan juga memerlukan pengobatan dan dapat menimbulkan pengeluaran yang tidak sedikit apabila terjadi berulang, terutama dalam satu keluarga.
Tren tersebut juga terlihat pada data klaim Allianz selama kuartal pertama 2026. ISPA kembali menjadi penyakit yang paling banyak diklaim dengan 10.026 kasus, diikuti diare sebanyak 3.741 kasus, radang tenggorokan 2.795 kasus, demam 2.394 kasus, serta batuk dan pilek sebanyak 2.369 kasus.
Menurut Allianz, data tersebut menunjukkan bahwa penyakit ringan masih menjadi alasan utama masyarakat memanfaatkan layanan kesehatan sekaligus menjadi penyumbang terbesar kebutuhan obat.
Karena itu, Allianz mengingatkan masyarakat untuk tidak hanya memperhitungkan biaya konsultasi maupun tindakan medis ketika merencanakan perlindungan kesehatan. Biaya obat yang terus meningkat juga perlu menjadi perhatian, terutama di tengah tren inflasi medis yang diproyeksikan masih berlanjut pada tahun ini.
Perlindungan kesehatan dinilai menjadi salah satu langkah antisipasi untuk mengurangi risiko finansial akibat meningkatnya kebutuhan pengobatan yang tidak terduga. (mas)