JAKARTA (IndoTelko) - Allianz Research memperkirakan industri asuransi global masih mencatat pertumbuhan yang solid meski dunia menghadapi tekanan geopolitik dan fragmentasi ekonomi. Dalam Global Insurance Report 2026, total premi asuransi dunia diproyeksikan mencapai 6,9 triliun euro pada 2025 atau tumbuh 7,1% dibandingkan tahun sebelumnya.
Walaupun lebih rendah dibandingkan pertumbuhan 9,4% pada 2024, kinerja tersebut masih berada di atas rata-rata pertumbuhan jangka panjang industri asuransi global.
Laporan itu menunjukkan segmen asuransi jiwa tetap menjadi kontributor terbesar dengan total premi 2,86 triliun euro, disusul asuransi umum sebesar 2,32 triliun euro dan asuransi kesehatan senilai 1,69 triliun euro.
Di antara ketiga segmen tersebut, asuransi kesehatan menjadi yang tumbuh paling cepat pada 2025 dengan kenaikan 12,3%. Pertumbuhan tersebut didorong meningkatnya biaya layanan kesehatan, perubahan demografi, serta semakin besarnya kebutuhan masyarakat terhadap perlindungan kesehatan swasta.
Sementara itu, bisnis asuransi umum mulai memasuki fase normalisasi setelah beberapa tahun diwarnai kenaikan premi akibat inflasi klaim. Pertumbuhan segmen ini diperkirakan mencapai 3,8%, sedangkan asuransi jiwa masih tumbuh 6,9% meski mulai melambat dibandingkan tahun sebelumnya.
Allianz Research menilai kawasan Asia akan tetap menjadi motor utama pertumbuhan industri asuransi global, terutama pada bisnis asuransi jiwa yang didukung tingginya tingkat tabungan masyarakat, perubahan struktur demografi, serta kebutuhan perlindungan finansial jangka panjang.
Di Indonesia, laporan tersebut mencatat pendapatan premi industri asuransi meningkat 11% dengan nilai mencapai 15,8 miliar euro. Pertumbuhan itu dinilai mencerminkan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya perlindungan jiwa, kesehatan, maupun aset.
Country Manager & Direktur Utama Allianz Life Indonesia Alexander Grenz mengatakan tingkat penetrasi asuransi nasional yang masih sekitar 1,3% terhadap produk domestik bruto (PDB) menunjukkan ruang pertumbuhan industri masih sangat besar.
Menurutnya, tantangan ke depan adalah menjaga agar produk asuransi, khususnya asuransi kesehatan, tetap terjangkau di tengah kenaikan biaya layanan medis sehingga masyarakat dapat memperoleh perlindungan secara berkelanjutan.
“Allianz Indonesia akan terus menghadirkan solusi perlindungan yang relevan, mudah diakses, dan berkelanjutan untuk mendukung ketahanan finansial masyarakat,” ujarnya.
Dalam proyeksi jangka panjang, Allianz Research memperkirakan industri asuransi global tumbuh rata-rata 5,3% per tahun hingga 2036. Indonesia diperkirakan mencatat pertumbuhan lebih tinggi, yakni sekitar 8,2% per tahun, didukung masih rendahnya penetrasi asuransi dan meningkatnya kebutuhan proteksi.
Secara global, segmen asuransi kesehatan diperkirakan tetap menjadi bisnis dengan pertumbuhan tercepat sebesar 6,7% per tahun. Di Indonesia, pertumbuhan segmen tersebut bahkan diproyeksikan mencapai 12,9%, sementara asuransi jiwa diperkirakan tumbuh 7,9% dan asuransi umum sekitar 7,3%.
Chief Economist sekaligus Chief Investment Officer Allianz, Ludovic Subran, menilai fragmentasi geopolitik telah mengubah lanskap ekonomi dunia sehingga ketahanan kini menjadi faktor utama dalam pengambilan keputusan bisnis. Dalam kondisi tersebut, industri asuransi dinilai akan semakin berperan, tidak hanya sebagai penyedia perlindungan risiko, tetapi juga sebagai pendukung investasi, inovasi, dan stabilitas ekonomi. (mas)